Press "Enter" to skip to content

Ziarah Kasih dari Waelengkas: Refleksi Orang Muda dalam Sidang Sinode IV Sesi IV

Suasana Rumah Retret Waelengkas terasa berbeda sejak Selasa, 4 Agustus 2026. Sebagai Perwakilan utusan orang muda yang berkesempatan hadir dalam Sidang Sinode IV Sesi IV Keuskupan Ruteng, ada rasa bangga sekaligus tanggung jawab besar yang kami pikul. Di sini, kami tidak hanya menjadi penonton, tetapi benar-benar dilibatkan untuk merajut masa depan Gereja yang kita cintai ini.

Hari Pertama: Membedah Hati, Mengangkat Batu

Ziarah kami dimulai dengan Rekoleksi Pembuka yang dibawakan oleh RD. Patris Suryadi. Beliau mengingatkan kami bahwa melayani umat harus dilakukan dengan “hati seorang gembala”. Satu hal yang sangat menyentuh hati saya sebagai orang muda adalah analogi Mbaru Gendang dan Lingko. Seperti rumah adat kita, Gereja Keuskupan Ruteng adalah rumah bersama di mana tidak ada satu pun bagian yang bisa berdiri sendiri tanpa terhubung dengan pusatnya, yaitu Kristus.

Semangat ini dipertegas oleh Bapa Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, dalam inputnya yang luar biasa. Beliau mengajak kami semua untuk Angkat batu itu!“. Batu-batu ego sektoral, administrasi yang tidak tertib, hingga kebiasaan lama yang menghambat kemajuan harus kita singkirkan bersama.

Bagi kami, ajakan ini adalah panggilan bagi orang muda untuk berani membuat terobosan dan tidak takut mencoba cara-cara pelayanan yang baru. Bapa Uskup juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan Gereja yang aman (safe environment), terutama bagi kami kaum muda dan anak-anak, agar Gereja benar-benar menjadi rumah yang melindungi.

Membangun Wadah bagi Api Pelayanan

Setelah input dari Bapa Uskup, RD. Martin Chen (Direktur Puspas) memberikan penjelasan mendalam mengenai tema dan proses sidang. Beliau menegaskan bahwa Sesi IV ini adalah momen krusial untuk memberi “wadah” bagi visi dan roh pelayanan yang telah dirumuskan pada sesi-sesi sebelumnya.

Bagi kami, penjelasan Romo Martin sangat insightful. Beliau menekankan bahwa tata kelola bukan sekadar urusan administrasi yang dingin, melainkan cara kita memastikan agar “api pelayanan” tetap menyala lewat sistem yang profesional dan transparan. Tanpa tata kelola yang baik, rencana besar Gereja bisa kehilangan daya hidupnya.

Flashback: Warisan Sinode III (2016-2026)

Sesi sore membawa kami melihat kembali sejarah melalui paparan hasil Sinode III. Ternyata, banyak hal keren yang sudah dicapai Keuskupan kita selama 10 tahun terakhir! Beberapa capaian besar yang membuat saya bangga antara lain:

Struktur yang Berkembang: Pemekaran Keuskupan Labuan Bajo, pembentukan Kevikepan Reo, hingga berdirinya paroki-paroki baru seperti Rentung dan Jawang.

Pendidikan & Ekonomi: Peningkatan status STKIP menjadi Universitas Katolik (UNIKA) St. Paulus Ruteng serta penguatan UMKM.

Dokumen Inspiratif: Lahirnya berbagai panduan seperti Omnia in Caritate dan gerakan pastoral lingkungan hidup.

Semangat Ardas Sinode III yang mengedepankan umat yang “Beriman Utuh, Dinamis, dan Transformatif” menjadi fondasi kuat bagi kami generasi muda untuk melangkah ke tahap selanjutnya.

Hari Kedua: Tata Kelola yang Keren dan Profesional

Memasuki hari Rabu, 5 Agustus, fokus kami beralih pada tema Tata Kelola Pastoral“. Awalnya, kami pikir pembahasan manajemen akan membosankan. Namun, presentasi dari RD. Samuel Pangestu (Vikjen KAJ) membuka mata kami bahwa manajemen pastoral adalah bentuk nyata dari tindakan kasih.

Gereja masa kini harus profesional, transparan, dan akuntabel. Kami belajar bahwa digitalisasi pelayanan—seperti penggunaan platform SAPA, Pelita, hingga BIDUK—bukan sekadar gaya-gayaaan, melainkan cara agar pelayanan kepada umat menjadi lebih cepat dan tepat sasaran. Sebagai generasi digital, kami merasa inilah saatnya orang muda mengambil peran lebih besar dalam membantu paroki mengelola data dan informasi secara modern.

Belajar dari yang Terbaik: Sharing Praktik Baik

Hal yang paling ditunggu-tunggu adalah sesi Sharing Praktik Baik mengenai Tata Kelola Pastoral. Di sini, kami mendengar langsung cerita sukses dari “ujung tombak” pelayanan paroki: RD Willy Findoro membagikan rahasia tata kelola paroki yang efektif, Bapak Vinsensius Marung (Ketua DKP Paroki Katedral) memberikan perspektif tentang bagaimana mengelola keuangan paroki secara akuntabel.

Ada juga Bapak Wihelmus Dogur (Ketua DPP Paroki Beanio) menunjukkan bahwa keterlibatan awam dalam dewan pastoral sangat menentukan kemajuan umat basis, RD Rolling Mujur (Ketua Yayasan Santu Paulus-UNIKA St. Paulus Ruteng) berbicara tentang tata kelola yayasan serta tantangan dalam mengelola Yayasan Pendidikan Perguruan Tinggi, dan RD Beben Gaguk memberikan sharing praktik baik tentang karya pastoral bersama para Ketua Komisi lain di lingkungan Pusat Pastoral.

Mendengar mereka, kami sadar bahwa menjadi pelayan pastoral itu keren jika dilakukan dengan hati dan manajemen yang tertata.

Berikut adalah tambahan ulasan berita dari sudut pandang orang muda, khususnya terkait dinamika dalam sesi Focus Group Discussion (FGD) Manajemen Pastoral:


Suara Orang Muda di Meja FGD: Menantang Budaya “Jam Karet” dan Menanti Gereja Digital

Di sela-sela keseriusan Sidang Sinode IV Sesi IV ini, salah satu momen yang paling memacu adrenalin kami adalah saat sesi FGD (Focus Group Discussion) Manajemen Pastoral. Sebagai orang muda, duduk satu meja dengan para pastor paroki dan tokoh umat untuk membedah “dapur” tata kelola Gereja adalah pengalaman yang langka sekaligus menantang.

Melawan Mentalitas “Jam Karet”

Dalam diskusi kelompok (Meja 5-8), kami menggumuli pertanyaan kritis tentang budaya organisasi di paroki yang dinilai masih lemah. Kami secara jujur mengakui adanya hambatan seperti kurangnya disiplin waktu (mental “jam karet”), minimnya inisiatif, hingga sikap “tunggu perintah”.

Bagi kami, ulasan ini sangat relevan. Kami, kaum muda, merindukan manajemen Gereja yang lebih lincah dan kreatif. Kami mengusulkan agar paroki mulai menerapkan pembagian tugas (tupoksi) yang jelas agar tidak ada lagi pekerjaan yang menumpuk hanya pada satu orang atau terus ditunda-tunda.

Bukan Sekadar “Liturgy-Centris”

Di Meja 13-16, diskusi menjadi semakin menarik saat membahas Pastoral Kontekstual. Ada kegelisahan yang sama: mengapa aksi nyata Gereja seringkali kalah kuat dibandingkan perayaan seremonial? Kami berdiskusi bahwa hambatan utama adalah paradigma yang masih terlalu “liturgi-sentris”.

Dari sudut pandang orang muda, kami ingin dana paroki juga dialokasikan secara merata untuk program kreatif yang menyentuh kebutuhan konkret, seperti pemberdayaan ekonomi atau aksi ekologis, bukan hanya untuk urusan pastoran atau perayaan liturgi semata.

Digitalisasi: Ruang Kontribusi Kaum Muda

Topik Pastoral Data (Meja 21-24) menjadi ruang di mana kami merasa orang muda bisa paling banyak berkontribusi. Kami membahas bagaimana membangun sistem data umat yang akurat dan berbasis teknologi. Saat ini, digitalisasi pelayanan melalui platform seperti SAPA, Pelita, dan BIDUK adalah keharusan, bukan pilihan. Di sinilah peran kami: sebagai generasi digital, kami siap membantu paroki mengelola data agar kebijakan pastoral tidak lagi hanya berdasarkan “perasaan”, tetapi berdasarkan realitas umat yang nyata di lapangan.

Menuju Gereja yang Aman dan Transparan

Terakhir, di kelompok Manajemen Keuangan, kami menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas. Kami belajar bahwa sistem keuangan yang kredibel adalah bentuk nyata dari kejujuran iman. Selain itu, sesuai pesan Bapa Uskup, tata kelola ini harus menjamin terciptanya lingkungan yang aman (safe environment) bagi anak-anak dan orang muda. Kami ingin struktur Gereja di tingkat stasi dan KBG memiliki panduan yang jelas agar kami merasa dilindungi dan dilibatkan secara bermartabat.

Harapan dari Waelengkas

Dua hari ini telah mengajarkan kami bahwa menjadi Katolik di Keuskupan Ruteng berarti bersedia Berziarah Bersama dalam Pengharapan“. Sinode ini bukan sekadar urusan administratif para imam, tetapi sebuah gerakan bersama untuk memastikan kasih Kristus dirasakan oleh semua orang, termasuk kami yang masih muda.

Perjalanan masih berlanjut hingga 7 Agustus nanti. Namun, dari Waelengkas, kami membawa pulang satu keyakinan: Gereja kita sedang bertumbuh menjadi rumah yang semakin inklusif, profesional, dan penuh kasih. Omnia in Caritate—Lakukanlah segala sesuatu dalam kasih

Salam Sinodal!

Alumni Nusra Youth III- 2026

  1. Wilhelmina Da Rossy (Komkep Keuskupan Ruteng)
  2. Pepeng De Marto (OMK St. Gregorius-Borong)
  3. Richard Ohar (OMK St. Stefanus-Iteng)
  4. Katharina Siena (OMK St. Klaus- Kuwu)

Comments are closed.