KEUSKUPANRUTENG.ORG – Kehidupan Gereja Lokal Keuskupan Ruteng adalah suatu perjalanan bersama dari para Klerus, Religius, dan Awam. Dunia kita berubah secara radikal, Gereja kita sudah berubah secara signifikan dalam waktu 10 tahun. Dalam Gereja dan dunia yang sudah menjadi lebih saling bergantungan, solidaritas telah menjadi satu urgensi untuk kelangsungan hidup umat manusia.
Hal itu dikatakan Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Ruteng RP Sebastian Hobahana, SVD, Lic. dalam homilinya saat memimpin misa Pembukaan Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng yang dilaksanakan di Kapel Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng, Senin, 5 Januari 2026.
Kegiatan sidang Sesi I, ini dihadiri Uskup Ruteng Yang Mulia Mgr. Siprianus Hormat beserta Dewan Kuria Keuskupan, para pastor paroki, vikaris parokial, dan Ketua Pelaksana DPP dari 61 paroki sekeuskupan Ruteng, para religius dan pimpinan lembaga, perwakilan Pemda Kabupaten Manggarai, dan lembaga sosial.

Suasana saat pelayanan registrasi peserta Sidang Sinode IV Sesi I pada hari pertama, Senin pagi, 5 Januari 2026 yang dilaksanakan di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas di Ruteng. Sidang akan berlangsung selama 4 hari hingga Kamis, 8 Januari 2026. (Foto : KOMSOS KR)
Setelah sukses melaksanakan amanat Sinode III (2016-2025), Gereja Lokal Keuskupan Ruteng dengan penuh syukur mengadakan Sidang Sinode IV mengambil tema “Berziarah Bersama Dalam pengharapan: Beriman, Bersaudara, dan Misioner. Sidang akan berlangsung dari Senin, 5-Kamis, 8 Januari 2025 melihat dan mendalami ziarah bersama 10 tahun terakhir dan menegaskan sikap dasar Gereja yang nmenatap masa depan dengan iman dan kepercayaan berpijak pada realitas konkret umat.
Saling Mendengarkan
Dikatakan RP Sebastian, Sinode IV Keuskupan Ruteng ini dapat dibandingkan dengan “Rest Area” di pinggir jalan, di mana anggota-anggota yang mewakili Gereja Lokal berkumpul sesudah satu dekade (implementasi Sinode III) yang panjang, guna beristirahat dan memperoleh kembali kekuatan untuk merefleksikan perjalanan yang sudah ditempuh , mencermati bagaimana berbagai perkembangan dalam dunia menyentuh kita, untuk merencanakan dan memutuskan hal-hal bagi masa depan.
“Perjalanan yang berhasil menuntut perencanaan yang tepat. Oleh karena itu, sinode ini hendaknya membantu kita untuk memperjelas langkah-langkah kita bersama, memperjelas ziarah kita bersama. Kita berusaha untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan di mana cinta dibuat nyata. Kita memperkokoh misi bersama sebagai Gereja Lokal dan komunitas untuk memanjukan damai, untuk hidup dalam pengharapan, untuk memancarkan terang Allah dalam dunia,” ujar RP Sebastian.
Ia juga menegaskan, hanya dalam kesatuan dengan Kristus dan dalam sinodalitas, kita akan merasa bahwa Kerajaan Allah itu dekat, dan sekaligus terang kita akan menjadi lebih benderang dalam dunia. “Karya yang jelas dan efektif harus dilaksanakan dengan cinta, dengan semangat dan dengan kegembiraan yang terus bertumbuh,” ucap RP Sebastian.

Vikjen Keuskupan Ruteng RP Sebastian Hobahana, SVD, dan konselebran Vikep Ruteng RD Dyonysius Osharjo (kiri), dan Vikep Borong RD Simon Nama saat mempersembahkan misa Pembukaan Sinode IV Sesi I di Kapel Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Senin, 5 Januari 2025. (Foto : KOMSOS KR)
Sinode, lanjut dia, adalah sikap, gaya hidup yang saling mendengarkan dan bersama-sama mendengarkan Roh sebagai tanggapan eklesial-misioner. Isolasi dan ketidakpedulian adalah musuhnya. Sinode juga adalah perjuangan yang menuntut kreativitas para pekerja, karna berkarya untuk kepercayaan dan pengharapan, berkarya untuk perdamaian dan situasi sosial yang benar berarti berkarya untuk Kerajaan Allah.
“Gereja adalah perjumpaan dengan Allah. Gereja harus terus-menerus menghidupkan dan mengalami kegembiraan dari relasinya dengan Allah Tritunggal, terutama melaui doa, Firman, dan Ekaristi,” kata RP Sebastian. (Tim Redaksi)

Comments are closed.