Komsos Ruteng May 16, 2019

Bencana alam yang menimpa sejumlah wilayah di Kevikepan Labuan Bajo pada awal Maret 2019 membuat pewartaan dan karya-karya dalam bidang pelayanan atau Diakonia lebih bergema. Dengan peristiwa itu, pelayanan yang menjadi fokus karya pastoral 2019 lalu menjadi topik pembicaraan mulai dari mimbar gereja sampai ke ruang media sosial, dari tingkat paroki hingga komunitas basis. Itu disusul dengan aksi solidaritas untuk membantu korban bencana dengan melibatkan banyak pihak.

“Tidak lama setelah pertemuan pastoral Keuskupan di Ruteng, kita dikejutkan dengan bencana alam, longsor di Paroki Longgo, dan banjir di Paroki Sok Rutung. Ada kegelisahan bagaimana Gereja hadir di tengah bencana seperti itu. Dalam perjalanan waktu, di Whatsapp, muncul banyak orang yang membantu. Yang lebih menggembirakan adalah semangat dari paroki-paroki untuk memberikan sumbangan-sumbangan,” ungkap Vikep Labuan Bajo Rm Rikar Manggu Pr dalam arahan pembuka sesi monitoring pelaksanaan program Tahun Pelayanan 2019 pada pertemuan pastoral Kevikepan Labuan Bajo, Selasa (14/05/2019).

Gerakan pelayanan dalam bentuk membantu para korban bencana itu, lanjut Romo Rikar, merupakan hasil dari komunikasi dan kerja sama yang baik di antara seluruh elemen Gereja. Berbagai postingan pada media sosial yang terkait dengan bencana dan aksi solidaritas, membangkitkan semangat pelayanan pada banyak orang dan mendorong aksi nyata untuk membantu.

“Kita banyak mengupload kegiatan-kegiatan yang bernuansa diakonia dalam pelayanan parokial. Dengan media sosial seperti ini, apa yang selama ini tidak tampak ke permukaan menjadi diskusi banyak orang,” kata Vikep Labuan Bajo itu.

Di akhir arahannya, Vikep Labuan Bajo itu menilai koordinasi dan kerja sama antarparoki hingga komunitas basis berjalan lancar dan tertib dalam pengumpulan dan penyaluran bantuan untuk korban bencana alam. Para pastor paroki, dewan pastoral paroki dan umat terlibat dengan penuh semangat. Dan melalui pelayanan itu mereka telah menampilkan gereja yang hadir dalam situasi dan kondisi nyata kehidupan umat.

“Bagi saya ini sungguh membesarkan hati. Semangat pelayanan sesungguhnya merupakan inti kehidupan menggereja,” tutup Romo Rikar.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*