Foto: Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat saat menyampaikan input dalam acara pembukaan Sidang Sinode IV Sesi IV di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Selasa sore, 4 Agustus 2026. (Foto: KOMSOS)
KEUSKUPANRUTENG.ORG – Pelayan pastoral dipanggil bukan hanya untuk mampu bekerja, tetapi juga untuk layak dipercaya. Kepemimpinan Kristiani tidak dibangun di atas dominasi, jarak, atau privilese, melainkan di atas kerendahan hati, keteladanan, kedekatan dengan umat, dan keberanian mempertanggungjawabkan setiap keputusan. Dengan demikian, pembentukan pelayan pastoral harus menyentuh keseluruhan pribadi: kehidupan rohani, kematangan emosional, kemampuan bekerja sama, kedisiplinan, kesederhanaan hidup, serta kesediaan untuk terus belajar dan dikoreksi.
Pesan ini disampaikan oleh Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat saat menyampaikan input kepada ratusan peserta sidang Sinode IV Sesi IV yang dilangsungkan di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Selasa, 4 Agustus 2026. Sesi IV tersebut berlangsung 4 hari dan mengambil tema tata kelola dan pelayan pastoral.

Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat dalam sesi input mengingatkan para peserta Sidang Sinode IV Sesi IV agar para pelayan pastoral selalu mengedepankan transparanso dan akuntabilitas sebagai bagian tanggung jawab moral Gereja dalam menjga kepercayaan umat. (Foto: KOMSOS)
Dalam pelaksanaan Sinode IV Sesi I sampai III, Mgr. Siprianus menuturkan, sudah memberi Visi, Roh, dan Agenda Pelayanan. Sesi IV ini memberi Wadah — tata kelola yang menaunginya — sekaligus menjaga supaya Api Pelayanan tetap menyala lewat keteladanan hidup para pelayan pastoral.
“Visi yang besar membutuhkan sistem yang menopangnya. Semangat pelayanan yang baik membutuhkan orang-orang yang bisa dipercaya. Tanpa tata kelola yang profesional, transparan, dan tertib, serta tanpa pelayan pastoral yang matang dan berintegritas, seluruh rencana besar yang sudah kita rumuskan bisa kehilangan daya hidupnya,” ujar Mgr. Siprianus.
Karena itu, lanjutnya, berbicara tentang tata kelola bukan sekadar urusan administratif. Berbicara tentang pelayan pastoral juga bukan sekadar soal moral pribadi. Keduanya menentukan apakah Gereja sanggup menghadirkan kasih Kristus secara nyata, terarah, dan bertahan lama di tengah umat.
Mgr. Siprianus menambahkan, Keuskupan Ruteng terus bertumbuh — paroki bertambah, kevikepan berkembang, lembaga karya, komisi, dan unit pelayanan makin banyak. Ini anugerah, dan sepatutnya kita syukuri. Tapi pertumbuhan juga membawa tanggung jawab baru.

Peserta Sidang Sinode IV Sesi IV yang membahas tentang Manajemen dan Pelayan Pastoral sedang menyimak input Yang Mulia Mgr. Siprianus Hormat. Kegiatan ini mengisi hari pertama sidang di Rumah Retret Wae Lengkas, Selas, 4 Agustus 2026. (Foto: KOMSOS)
“Kita perlu membangun tata kelola yang mampu menghapus program yang tumpang tindih, memperjelas kewenangan dan tanggung jawab, menyelaraskan administrasi dan keuangan, serta memperkuat koordinasi antarunit pelayanan. Transparansi dan akuntabilitas bukan tuntutan dari luar yang terpaksa kita ikuti. Itu bagian dari tanggung jawab moral Gereja dalam menjaga kepercayaan umat,” ucapnya.
Karena itu, Mgr. Sprianus menegaskan, Sesi IV juga dipanggil untuk menjawab tantangan yang menyangkut integritas para pelayan pastoral: penyalahgunaan wewenang, penggunaan media sosial yang kurang bijaksana, lemahnya tanggung jawab dalam mengelola keuangan, persoalan relasi antarpribadi, serta relasi seksual yang tidak sehat. [Tim Redaksi]

Comments are closed.