KEUSKUPANRUTENG.ORG — Di tengah situasi pascagempa bumi yang berdampak pada kehidupan masyarakat, semangat untuk bangkit dan saling membantu terus tumbuh di antara kelompok-kelompok pertanian dampingan Caritas Keuskupan Ruteng. Meski sejumlah wilayah pertanian terdampak gempa, para petani tetap berupaya merawat dan memproduksi sayuran yang tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan pangan para penyintas gempa yang berada di tempat-tempat pengungsian.
Selama ini, Caritas Keuskupan Ruteng mendampingi kelompok tani di empat wilayah paroki, yakni Paroki Ngkor, Paroki Timung, Desa Golo Ngencung di wilayah Paroki Beanio, serta Stasi Satar Teu di wilayah Paroki Reo. Dari keempat wilayah tersebut, Desa Satar Teu dan Desa Golo Ngencung menjadi wilayah pertanian dampingan yang paling terdampak oleh gempa bumi.

Hasil panen sayuran organik oleh Kelompok Tani Organik Tunas Baru Desa Golo Ngencung Paroki Beanio. (Foto: CARITAS KR)
Namun, kondisi tersebut tidak memadamkan semangat para petani untuk melanjutkan kegiatan pertanian mereka. Di tengah berbagai keterbatasan akibat bencana, tanaman sayuran yang mereka budidayakan tetap tumbuh dan berproduksi dengan baik. Keberlanjutan produksi ini menjadi bukti bahwa aktivitas pertanian masih dapat dijalankan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang sedang berjuang memulihkan kehidupan pascagempa.
Direktur Caritas Keuskupan Ruteng, RD. Beben Gaguk menjelaskan bahwa pada awalnya, ketika situasi pascagempa belum memungkinkan untuk menjalankan program seperti biasa, Caritas Keuskupan Ruteng sempat mempertimbangkan penghentian sementara kegiatan pertanian. Keputusan tersebut didasari oleh kondisi lapangan yang kurang mendukung akibat bencana.
“Akan tetapi, kelompok-kelompok tani dampingan justru menyampaikan keinginan untuk tetap melanjutkan kegiatan pertanian. Bagi mereka, bertani bukan sekadar aktivitas untuk menghasilkan sayuran, melainkan juga menjadi healing tersendiri bagi mereka untuk memulihkan diri dari tekanan psikologis setelah mengalami trauma pascagempa,” lanjutnya.

Direktur Caritas Keuskupan Ruteng, RD. Beben Gaguk ketika mengunjungi Kelompok Tani Organik Tunas Baru Desa Golo Ngencung Paroki Beanio. (Foto: CARITAS KR)
Selama berada di kemah-kemah pengungsian, para penyintas menghadapi kejenuhan akibat rutinitas yang terbatas dan ketidakpastian situasi. Dalam kondisi tersebut, kegiatan menanam dan merawat sayuran memberikan ruang bagi mereka untuk tetap aktif, mengisi waktu dengan kegiatan produktif, serta perlahan membangun kembali semangat menjalani kehidupan sehari-hari.
Bagi kelompok tani, melanjutkan kegiatan pertanian menjadi bagian dari proses healing atau pemulihan pascagempa. Aktivitas ini membantu mereka mengurangi kejenuhan selama berada di kemah pengungsian sekaligus mempertahankan harapan bahwa kehidupan dapat kembali berjalan, meskipun harus dimulai dari keadaan yang tidak mudah.
Di sisi lain, hasil panen dari kelompok tani dampingan Caritas Keuskupan Ruteng turut memberikan kontribusi penting dalam memenuhi kebutuhan pangan para penyintas. Sayuran segar menjadi salah satu sumber nutrisi yang dibutuhkan masyarakat selama masa tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.

Sayuran hasil panen dari Kelompok Tani Organik Tunas Baru Desa Golo Ngencung, didistribusikan kepada para warga penyintas yang ada di posko-posko untuk memenuhi kebutuhan nutrisi mereka. (Foto: CARITAS KR)
Pada masa-masa awal setelah gempa, sayuran yang baru dipanen kelompok tani dampingan Caritas Keuskupan Ruteng langsung dibagikan kepada para pengungsi mandiri di sekitar wilayah pertanian. Langkah ini menjadi bentuk solidaritas sederhana dari para petani yang, meskipun turut menghadapi dampak bencana, tetap berupaya membantu sesama yang membutuhkan.
Seiring berjalannya waktu, kebutuhan hidup sehari-hari juga menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh kelompok-kelompok tani tersebut. Mereka membutuhkan dana untuk memenuhi berbagai keperluan keluarga di tengah situasi pascagempa. Karena itu, hasil panen yang sebelumnya lebih banyak dibagikan secara langsung mulai dijual agar para petani tetap memperoleh penghasilan.
Caritas Keuskupan Ruteng kemudian membeli sayuran hasil panen dari kelompok-kelompok tani dampingan tersebut untuk selanjutnya disalurkan ke posko-posko pengungsian. Dengan pola ini, kegiatan pertanian tetap berjalan, para petani memperoleh dukungan ekonomi, dan hasil produksi mereka dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan para penyintas gempa.
Salah satu penerima bantuan sayuran tersebut adalah posko pengungsian komunal di Robek. Penyaluran sayuran ke posko ini menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pangan pengungsi melalui pemanfaatan hasil pertanian lokal.

Potret kebun tani organik salah satu dari kelompok dampingan Caritas Keuskupan Ruteng yang ada di Paroki St. Wihelmus Ngkor . (Foto: CARITAS KR)
Inisiatif tersebut memperlihatkan bagaimana pendampingan pertanian dapat memberikan manfaat yang lebih luas dalam situasi kebencanaan. Hasil panen tidak hanya mendukung keberlangsungan hidup para petani, tetapi juga menjadi sumber pangan bagi masyarakat yang kehilangan atau harus meninggalkan tempat tinggal mereka akibat gempa bumi.
Praktik ini juga memperkuat hubungan solidaritas antara kelompok tani, Caritas Keuskupan Ruteng, dan para penyintas yang berada di pengungsian. Melalui kerja sama tersebut, bantuan kemanusiaan tidak hanya diwujudkan dalam bentuk pemberian kebutuhan pokok, tetapi juga melalui dukungan terhadap aktivitas produktif masyarakat yang masih mampu berjalan di tengah krisis.
Kisah kelompok tani dampingan Caritas Keuskupan Ruteng ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak selalu dimulai dari langkah-langkah besar. Merawat tanaman, memanen sayuran, memperoleh penghasilan, dan berbagi hasil panen dengan sesama merupakan bagian dari proses membangun kembali kehidupan masyarakat.
“Di tengah luka dan keterbatasan akibat gempa bumi, para petani tetap memilih untuk bertahan dan bekerja. Dari lahan pertanian yang terus menghasilkan, tumbuh harapan bahwa kehidupan dapat dipulihkan secara perlahan, kebutuhan pangan dapat dipenuhi bersama, dan semangat solidaritas tetap hidup di tengah masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.”

Comments are closed.