Ino Sengkang July 22, 2019

Suster Gembala Baik Ruteng bersama Team Yayasan Weta Gerak melaksanakan seminar tentang human trafficking, perdagangan manusia, migrasi dan kekerasan pada anak bersama umat paroki Khabar Gembira Waerana Kevikepan Borong Keuskupan Ruteng di aula Rene Daem Kelurahan Ronggakoe Kabupaten Manggarai Timur pada Minggu 21 Juli 2019.

Acara dibuka secara resmi oleh dewan pastoral paroki Khabar Gembira Waerana di hadapan umat, ketua-ketua KBG, pengurus wilayah, stasi dan pastor paroki . Sebelum membuka kegiatan, Ignasius de Quirino menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih atas kunjungan dan kesediaan tenaga dan waktu dari Suster Gembala baik untuk melakukan seminar bagi umat paroki Khabar Gembira Waerana.

“Atas nama umat, dewan pastoral paroki, kami menyampaikan terima kasih berlimpah atas kehadiran suster gembala baik dan tim yayasan Weta Gerak. Persoalan human traficking atau lebih akrab di telinga umat kami perdagangan manusia sudah tidak asing lagi. Kegiatan seperti ini harus kita hargai dan semestinya juga harus diberi apresiasi kepada suster,” ungkap ketua dewan

“Human trafficking itu yang sederhananya mungkin perdagangan manusia. Mengapa hal ini penting disampaikan kepada kami? Karena faktanya kejadian ini ada di sekitar kita bahkan ada di rumah keluarga kita. Oleh sebab itu, sebagai orang yang percaya kepada Kristus kita mempunyai kewajiban moral untuk sama-sama mencari solusi supaya kalau ini bisa di atasi bahkan diputuskan mata rantai perdagangan manusia di NTT -Flores khususnya Manggarai Timur,” ungkap Ignasius.

Selanjutnya dalam pengantar singkat Sr. Lian RGS juga menyampaikan terima kasih banyak atas kehadiran umat, kerja sama dewan pastoral seksi karitas, OMK dan pastor paroki yang sudah memfasilitasi kegiatan seminar Humman traficking, KDRT, Migrasi dan perlindungan anak. Dirinya mengaku bangga, datang jauh dari Jakarta dan bisa bertemu umat di Paroki Khabar Gembira Waerana Kevikepan Borong Keuskupan Ruteng (Minggu 21/07/2019)

“Pertama, hari ini saya Bahagia ada bersama romo, bapak ibu dan orang muda di Paroki Khabar Gembira Waerana. Saya merasa malu ketika menghadiri beberapa pertemuan di luar negeri, di bahas dan ditampilkan beberapa foto kasus perdagangan manusia itu lebih banyak dari Indonesia dan khususnya dari NTT.” cetus Sr. Lia

“Kedua, di Jakarta ada beberapa tempat penampungan TKI yang datang dari berbagai daerah. Saya sering berjumpa dengan mereka., saya ke tempat penampungan teman-teman yang dieksploitasi. Dari sekian ratus orang mungkin ada seperempat itu dari NTT-Flores bahkan Manggarai dan sebagainya. Kemudian saya ke Malaysia itu banyak teman kita itu hidup di hutan sabana dan ribuan anak-anak dari orang-orang NTT yang umur 5 sampai 12 tahun tidak pernah mengenyam pendidikan karena mereka hidup di hutan. Mereka tidak punya identitas mereka tidak bisa sekolah itu di Malaysia,“ tandas Ketua Karya Sosial Indonesia

“Kalau saya ke Batam ternyata banyak orang NTT itu hidup di hutan lindung. Mereka pulang dari Malaysia, karena saudaranya yang ada di situ selanjutnya memanggil saudaranya yang lain dari NTT untuk bekerja di Batam dan Malaysia. Sedangkan di daerah lainnya di Kalimantan saya juga bertemu dengan teman-teman dari NTT, 70% dari murid kami itu orang tuanya berasal dari NTT. Mereka bekerja di kelapa sawit,” pungkas Sr.Lian RGS.

Suster Lian RGS, bersama Sr Ryta RGS bersama team Yayasan Weta Gerak saat memaparkan Materi.

Akhir-akhir ini kami menemukan banyak korban anak remaja dari Manggarai Timur yang bekerja di luar daerah, selain itu sudah ada korban kematian asal paroki Khabar Gembira Waerana di tempat kerja (Kalimantan dan Papua,red). Kami akhirnya bergerak ke Timur. Bertemu dengan Romo Mus Pr. Beliau sepertinya juga sangat merespons dengan baik sehingga kami kerja sama untuk berbuat sesuatu. Selama ini suster- suster Gembala Baik, sudah empat kali turun Live in bersama umat paroki Khabar Gembira Waerana dan hari ini kami hadir di Waerana,” tutur Sr. Lia RGS.

“Sesuatu apa yang akan kami buat, kami belum tahu. Kami akan mendata kembali dan ingin tahu seberapa banyak sih umat Waerana ini yang pergi merantau. Bagaimana situasinya? Apa yang dialami oleh keluarga? Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkan? Kami ingin tahu dan inilah yang menjadi langkah pertama. Selain itu tujuan lainya agar umat paroki Khabar Gembira Waerana di tahun Pelayanan ini saling mengunjungi sesama saudaranya khususnya keluarga yang bermigrasi,” tutup Ketua Karya Sosial Indonesia.

Kegiatan di awali dengan doa yang dipandu oleh Sr. Ryta RGS. Selanjutnya pemaparan materi KDRT oleh Team Weta Gerak, Human trafficking, Migran, Perlindungan anak dan selanjutnya dibagikan kuisioner data umat yang bermigrasi. Seminar berjalan dengan penuh antusias dan ditutup dengan makan bersama.