Press "Enter" to skip to content

SURAT GEMBALA PRAPASKA/PASKA 2021 USKUP RUTENG

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa” (Rom 12:12)

Para imam, biarawan/wati, umat Allah Keuskupan Ruteng yang dicintai Tuhan!

Sukacita pengharapan yang disenandungkan Rasul Paulus dalam surat gembalanya kepada umat di Kota Roma sangatlah tepat menjawabi situasi kita yang kini sedang menjalani masa prapaskah dalam suasana Pandemi Covid-19. Dalam “kesesakan” akibat pembatasan sosial, dalam penderitaan akibat kehilangan pekerjaan dan kehancuran ekonomi, dalam kematian orang yang dikasihi akibat virus ganas ini, kita diajak untuk tidak kehilangan asa. Sebab, “Kristus Yesus adalah dasar pengharapan kita” (1Tim 1:1). Melalui salib-Nya, Dia telah berbela rasa dengan hidup kita yang menderita. Tetapi dalam kebangkitan-Nya, Dia telah mengalahkan dosa, penderitaan dan kematian. Dia telah menancapkan “sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita” (Ibr 6:19) serta menerbitkan fajar kehidupan baru bagi kita.

Masa Prapaska adalah saat yang istimewa untuk kembali membingkai harapan dalam pribadi Yesus, sang Penebus. Dalam surat gembala prapaskah tahun 2021, Paus Fransiskus mengajak kita untuk menatap masa depan yang telah tersingkap oleh belas kasihan Bapa dalam diri Yesus. “Berharap bersama Dia dan oleh karena Dia berarti percaya bahwa sejarah tidak berakhir dengan penderitaan, kesalahan, kekerasan, dan ketidakadilan, atau dosa yang menyalibkan sang Kasih.” Prapaska adalah “masa harapan, saat kita berpaling kembali kepada Allah yang dengan sabar terus memelihara ciptaan-Nya yang selama ini sering kita perlakukan tidak benar.”

Dalam terang harapan di atas, prapaska ditandai oleh pembaharuan diri. Betapa perlu kita “didamaikan dengan Allah” (2Kor 5:20), yang secara khusus dialami dalam sakramen tobat, jalan salib, renungan pribadi dan doa. Kita senantiasa perlu merefleksikan: Apakah hidup saya selama ini sungguh telah berpusat pada Allah ataukah terikat pada hal-hal duniawi yang rapuh? Sejauh manakah hubungan saya dengan Allah dalam perayaan Sakramen dan ibadat betul bertolak dari kerinduan personal (hati) yang mendalam, dan bukannya sekadar kewajiban agama dan upacara ritual belaka?

Berdamai dengan Allah berimplikasi pada pembaruan relasi dengan sesama. Pengalaman belas kasih Allah mendorong kita untuk membagi kasih Allah secara nyata bagi sesama. Kasih itu tidaklah abstrak tetapi konkret. Kita mesti melakukan segala kegiatan yang konkret kita sehari-hari dalam kasih: “Omnia in Caritate” (1Kor 16:14). Kasih yang konkret itu terlibat secara nyata dalam suka duka hidup sesama, terutama yang menderita dan berkesusahan. Paus Fransiskus berkata, “Kasih menderita ketika orang lain menderita, kesepian, sakit, tanpa tempat tinggal, dihina atau membutuhkan. Kasih adalah lompatan hati; ia membawa kita keluar dari diri sendiri dan menciptakan ikatan berbagi dan persekutuan… Kasih sosial ini yang memungkinkan kita maju menuju peradaban kasih, mampu membangun dunia baru”.

Peradaban kasih demi membangun dunia baru tentu tidak boleh “suam-suam kuku” dan mengalir rutin saja tetapi haruslah profesional dan radikal. Dalam Ensiklik Deus Caritas est, Paus Benediktus XVI menegaskan pentingnya pengelolaan dan pengorganisasian pelayanan kasih yang tepat dan berdaya guna. Kita perlu memperbarui tata layanan pastoral sehingga semakin efektif dan efisien untuk mengungkapkan kasih Allah yang telah disalibkan demi keselamatan dunia. Hal senada dinyatakan Paus Fransiskus dalam Surat Apostolik Evangelii Gaudium, agar Gereja “memperbarui segalanya, sehingga kebiasaan-kebiasaan, cara-cara, agenda-agenda, bahasa dan setiap struktur Gereja menjadi sebuah kanal yang mengalirkan kasih ilahi” (EG 27).

Karena itu dalam tahun 2021 ini, Keuskupan Ruteng mencanangkan tata layanan pastoral kasih sebagai fokus utama seluruh reksa pastoral. Pertama-tama kita ingin memperbarui struktur geografis dan teritorial paroki sehingga semakin efektif untuk melayani umat. Stasi dan KBG akan ditata lagi sehingga menjadi “pusat-pusat misioner” yang mendekatkan pelayanan kasih terhadap umat. Sejalan dengan itu kita akan memperkuat struktur pastoral yakni Dewan Pastoral Paroki sehingga menjadi wadah efektif perwujudan partisipasi umat dalam karya pstoral Gereja. Kita juga ingin memberdayakan Dewan Keuangan Paroki dalam mengelola harta benda paroki secara terbuka (transparan) dan bertanggungjawab (akuntabel). Dalam kaian ini kita perlu pula mengurus dokumen-dokumen status legal tanah-tanah paroki dan stasi demi kelancaran pelayanan pastoral umat ke depan.

Program tata layanan pastoral kasih meliputi pula bidang manajemen pastoral yang integral dan kontekstual. Hendaknya kita berani untuk keluar dari cara kerja yang lama dan rutin. Kita perlu berpastoral “out of the box”. Artinya aktif dan kreatif membuat perencanaan program pastoral dengan target yang jelas, terukur dan sungguh menjawabi kebutuhan umat. Untuk itu diperlukan pengorganisasian sumber daya manusia, finansial dan kegiatan pastoral dalam menjalankan reksa pastoral di keuskupan kita. Selaras dengan itu hendaknya dilakukan juga monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan sehingga apa yang kita wartakan dan lakukan semakin mewujudkan Kerajaan Allah di tanah Congka Sae tercinta ini.

Para imam, biarawan/wati, umat Allah Keuskupan Ruteng yang dicintai Tuhan!

Ziarah kasih ilahi di tengah dunia ini tidak berakhir dalam peristiwa salib, tetapi dimahkotai oleh peristiwa paska. Dalam terang kebangkitan Tuhan, tampaklah bahwa seluruh perjuangan jerhi-payah pastoral kita untuk mewujudkan kasih Allah tidaklah pernah sia-sia. Pengharapan kita akan masa depan yang baru bukanlah mimpi dan ilusi kosong, tetapi dibangun dalam karya agung Allah sendiri. Sebab begitu besar kasih Allah sehingga Dia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).

Maka marilah dalam situasi sulit pandemi Covid-19, kita bersama-sama tekun membingkai harapan dengan mempraktikkan lima M: mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi mobilisasi dan interaksi. Mari kita terlibat aktif dalam mendukung program vaksin Covid pemerintah demi masa depan yang baru. “Jangan takut!” (Mat 29:9). Pesan Kristus yang bangkit ini menggelorakan sukacita pengharapan kita: kehidupan mengalahkan kematian, terang menghalau kegelapan, solidaritas membungkam egoisme, kasih meresapi segalanya. Selamat Pesta Paska 2021. Halleluya!

Ruteng, 16 Maret 2021
Uskupmu

Mgr. Siprianus Hormat