Press "Enter" to skip to content

SURAT GEMBALA NATAL 2025 USKUP RUTENG

“Mari Kita Pergi ke Betlehem!” (Luk 1:15)– Berziarah Bersama dalam Pengharapan

(Wajib dibacakan sebagai pengganti kotbah dalam Minggu Advent Ketiga, 14 Desember 2025)

Para Imam, Biarawan/Wati, dan Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

  1. Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; Seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorai...” (Yes 35:1-2). Bersorak sorailah! Gaudete! Begitulah warta pengharapan nabi Yesaya, ibarat melodi merdu yang berdesir lembut pada Minggu Ketiga Advent ini. Gaung sukacita ini bergema dari alam semesta yang mengalami perubahan dasyat dari kering kerontang menjadi subur menghijau, dari yang loyo nyaris mati menjadi berbunga lebat.
  2. Namun bukan hanya alam yang bersukacita, tetapi juga manusia, penghuni bumi, khususnya yang sakit, dan sengsara. Yesaya melukiskan situasi dramatis keselamatan itu berikut ini: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka…orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai.” (Yes 35:5-6). Sukacita alam (kosmis) dan manusia (humanis) ini membahana nyaring, karena Allah sedang datang menyelamatkan. Pengharapan pada Allah inilah yang menguatkan umat Israel yang pada saat itu sedang mengalami pahit dan perihnya penderitaan di tanah pembuangan Babel: “Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Kuatkanlah hatimu, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu sendiri datang menyelamatkan kamu!” (ay.4).
  3. Bukankah pesan pengharapan ini menyapa juga hidup kita saat ini, yang tidak bebas dari kesulitan dan kesengsaraan? Bukankah warta sukacita Yesaya ini ingin juga menjamah hati kita yang kini sedang sedih dan terluka akibat kehilangan orang yang dikasihi, akibat relasi yang retak dalam keluarga, akibat kegagalan dalam pendidikan dan pekerjaan, akibat kemiskinan, serta bencana alam yang tak kunjung henti?
  4. Dalam Sidang Agung KWI yang berlangsung pada tanggal 3-7 November 2025, mencuat pelbagai persoalan rumit yang menerpa dan melilit anak-anak bangsa seperti penindasan nilai kemanusiaan, ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sosial, krisis lingkungan hidup, persoalan kelompok rentan seperti migran-perantau, difabel, lansia, anak dan wanita rentan. Dalam segala situasi sulit bangsa ini, Gereja Katolik Indonesia ingin terus “berjalan bersama sebagai peziarah pengharapan” yang berpusat pada Kristus. Sidang Agung yang dihadiri oleh utusan klerus dan awam dari seluruh Indonesia menandaskan komitmennya, “Misi Gereja bukan sekadar memperbanyak kegiatan, melainkan menghidupkan Kristus yang hadir di tengah dunia yang retak—di jalan, di pasar, di ruang digital, dan di hati masyarakat.” (No. 12).

Para Imam, Biarawan/Wati, dan Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

5. Juga kepada kita yang sedang mengalami berat dan pahitnya hidup saat ini, nabi Yesaya bersabda, “Jangan takut, kuatkan hatimu!” Mengapa? Karena Tuhan sedang datang. Dia bukan Allah yang masa bodoh dengan penderitaan dan kesengsaraan kita. Tetapi Dia adalah Allah yang peduli. Dia adalah Allah yang terlibat dalam suka duka hidup kita. Dia adalah Imanuel, Allah yang beserta kita (Mt 1:23). Dan persis inilah yang kita rayakan dalam peristiwa Natal. Tuhan datang. Ia lahir di tengah dunia. Ia bahkan ingin lahir dalam hidup kita dengan segala suka-dukanya, pahit-manisnya. Maka marilah kita menyambut kelahiran-Nya dengan penuh sukacita. Marilah kita membuka hati sedalam-dalam-Nya untuk meresapi kasih cinta-Nya, serta membuka tangan selebar-lebarnya untuk mewartakan kebaikan-Nya. 

6. Dalam pesan Natal 2025 tahun ini, KWI dan PGI mengajak kita untuk secara khusus merasakan, merenungkan dan merayakan kelahiran Yesus di tengah-tengah keluarga. Sebab Dia yang telah lahir dan bertumbuh kembang dalam persekutuan kasih keluarga Nasareth, ingin juga lahir dan hidup di dalam keluarga kita. Terlebih dalam situasi kehidupan dewasa ini yang dililit oleh “berbagai krisis keluarga, yang sering menghancurkannya, antara lain perpisahan dan bahkan perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, masalah ekonomi, judi online (judol), pinjaman online (pinjol), narkoba, individualisme dan materialisme.” (No.4). Dalam aneka krisis ini, para Uskup KWI dan Pimpinan Gereja Kristen mengajak, “Biarlah rumah kita, keluarga kita, menjadi tempat di mana relasi dengan Allah dan sesama dipulihkan, harapan dinyalakan, kasih dikuatkan, dan iman diteguhkan. Biarlah setiap anggota keluarga merasakan bahwa Allah sungguh hadir, menyertai, memulihkan, dan menyelamatkan kita.” (No. 8).

7. Kelahiran dan kehadiran Tuhan dalam dinamika hidup ini, tidaklah hanya terjadi dalam perayaan Natal. Tuhan yang lahir itu, sesungguhnya terus menerus tinggal di tengah kita melalui sakramen Ekaristi. Dalam Ekaristi, Dia selalu hadir dalam diri kita dan untuk kita. Dia menjadi roti kehidupan yang memberikan kesegaran dan kekuatan dalam ziarah hidup di dunia yang gersang dan fana ini. Persatuan mesra dengan Yesus Ekaristi yang menggerakan kehidupan inilah yang boleh dan telah kita rasakan dalam Tahun Pastoral Ekaristi Transformatif 2025 di Keuskupan Ruteng tercinta ini.

8. Kita bersyukur atas dampak program pastoral Ekaristi yang membuat umat semakin mencintai Ekaristi. Melalui kegiatan adorasi, devosi dan prosesi, Yesus Ekaristi dan bunda Ekaristi, Maria semakin bertahta mesra dalam hati umat, dan lebih dari itu diusung dan diarak ke penjuru kota dan kampung, ke pelosok Paroki dan KBG, dan ke dalam diri kita masing-masing. Dengan itu, Ekaristi itu tidak hanya berhenti pada perayaan ritual ibadat, tetapi berbuah dalam kehidupan. Ekarisi itu terwujud dalam kesaksian belarasa dengan sesama yang menderita melalui Ekaristi Sosial, serta dalam gerakan merawat dan mencintai ibu bumi melalui Ekaristi Ekologis. Marilah, kita terus berkomitmen agar Ekaristi semakin menjadi “sumber dan puncak kehidupan umat beriman Kristiani” di tanah Nucalale tercinta ini (LG 11).

Para Imam, Biarawan/Wati, dan Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

9. Dengan berakhirnya Tahun Pastoral Ekaristi Transformatif, kita juga menutup lingkaran 10 tahun implementasi Sinode III Keuskupan Ruteng yang telah berlangsung dari tahun 2016 sampai dengan 2025. Dalam tahun 2026, kita akan menyelenggarakan Sinode IV Keuskupan Ruteng. Dalam Sinode IV, pertama-tama kita akan melihat, menilai, dan mensyukuri hasil-hasil Sinode III dengan arah dasar pastoral: Umat Allah Keuskupan Ruteng yang beriman utuh, dinamis dan transformatif. Sejauh manakah penghayatan iman kita tidak hanya ritual, dan rohani belaka (liturgisentris), tetapi sungguh meresapi, mengubah dan menggerakan kehidupan dalam segala aspeknya (kontekstual-integral)? Setelah itu kita akan bersama-sama meneropong dan merefleksikan situasi sosial dan gerejawi dewasa ini  dalam terang iman guna menentukan arah dasar dan program pastoral dalam lingkaran 10 tahun berikutnya, 2027 sampai dengan 2036.

10. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng untuk terlibat aktif dan kreatif dalam seluruh proses Sinode IV yang berlangsung tahun depan. Sinode bukanlah kegiatan kelompok elit atau kelompok khusus tertentu saja, tetapi kegiatan seluruh umat Allah. Sinode adalah hajatan bersama klerus dan awam. Sinode juga bukan hanya pertemuan diskusi pastoral, tetapi seluruh kegiatan kita dalam kehidupan menggereja. Bahkan Sinode sejatinya adalah Gereja itu sendiri, persaudaraan umat Allah yang berjalan bersama dalam tuntunan Roh Kudus. Sinode adalah cara hidup (modus vivendi) dan cara bertindak (modus operandi) dari Gereja.  

11. Karena itu marilah kita semua terlibat dalam kegiatan katekese dan diskusi Sinode, dalam doa dan perayaan ibadat Sinode, serta dalam kegiatan sinodal untuk berbelarasa dengan sesama yang rentan dan merawat ibu bumi. Mari kita saling mendengarkan dan terutama mendengarkan bisikan Roh. Paus Fransiskus dalam kotbah pembukaan Sinode Universal di Roma tahun 2021 berujar, “Berpartisipasi dalam Sinode berarti menempatkan diri kita di jalan yang sama dengan Sabda yang menjadi daging…, mendengarkan perkataan-Nya bersama dengan perkataan orang lain. Ini berarti menemukan dengan takjub bahwa Roh Kudus selalu mengejutkan kita, untuk menyarankan jalan baru dan cara berbicara yang baru.…untuk mendengarkan pertanyaan, keprihatinan serta harapan umat dan bangsa.” Kemudian Bapa Suci mengajak kita, “Janganlah kita kedapkan suara hati kita; janganlah kita tetap terkurung dalam kemapanan hidup kita… Mari kita saling mendengarkan.” (10 Oktober 2021).

12. Marilah kita pergi ke Betlehem (Luk 1:15). Melalui Sinode IV, kita, persekutuan umat Allah Keuskupan Ruteng ingin terus berziarah bersama dalam pengharapan. Dan pengharapan yang dibangun dalam cinta Allah, tidak akan pernah mengecewakan (Rm 5:5).

13. Akhirnya, dari relung hati paling dalam dan tulus, saya mengucapkan kepada seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng, dan kepada semua orang yang merayakannya: Salam damai Natal 2025 dan bahagia Tahun Baru 2026. Tuhan memberkatimu!

Ruteng, 10 Desember 2025

Uskupmu,

Mgr. Sipri Hormat

Comments are closed.