Ino Sengkang October 14, 2019

“Stop Kekerasan Perempuan dan Anak” begitulah tema seminar Hari Anak Perempuan International atau International Day of Girl Child yang diselenggarakan suster suster Gembala Baik (RGS) Ruteng bekerja dalam kerja sama dengan Dewan Stasi Carep Paroki Kumba. Seminar ini berlangsung di Gereja stasi St. Leonardus Carep, Minggu (13/10/ 2019)

“Kami akan terus memberikan pelayanan kasih kepada korban kekerasan yang merendahkan martabat manusia. Terlebih khusus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Memberikan perlindungan terhadap korban kekerasan perempuan dan anak. Mengapa anak? Karena anak adalah anugerah terindah, titipan Allah dari surga,” jelas ketua panitia suster Ryta RGS dalam pengantarnya tentang tujuan seminar.

Sejalan dengan spirit tahun diakonia Keuskupan Ruteng, dunia memberi perhatian serius pada anak perempuan. Selamatkan anak perempuan dari segala bentuk kekerasan apapun. PBB telah menetapkan 11 Oktober sebagai Hari Anak Perempuan International.

“Kegiatan hari ini adalah momen penting agar remaja, orang tua, Gereja dan masyarakat peka terhadap masalah yang dihadapi anak perempuan di paroki Kumba keuskupan Ruteng. Masalah terbesar kekerasan pada perempuan dan anak sebagai disebabkan salah penggunaan media sosial yang tidak tepat guna. Kami juga bermitra dengan WVI dan Media Pendidikan Cakrawala NTT sebagai mission partner untuk membuka kesadaran dan pengetahuan tentang bermedia sosial yang bijak” kata Suster Ryta RGS.

Lebih jauh, solusi yang ditawarkan untuk mencegah penyalahgunaan media sosial yang berdampak pada kekerasan yaitu dengan memperkenalkan kepada remaja dan anak muda tentang apa itu media sosial, prinsip-prinsip bermedia sosial, tips-tips praktis bermedia sosial dan bagaimana mengunakan media sosial secara bijak.

“Hingga saat ini, perkembangan media sosial amat luar biasa. Hampir setiap harinya, bahkan separuh harinya sejak pagi hingga menjelang tidur malam orang tenggelam dalam genggaman media sosial. Lebih mengerikan lagi, anak-anak tanpa pengawasan orang tua bebas menggunakan media sosial. Selain itu, tidak dapat dibantah lagi bahwa percepatan teknologi komunikasi dan informasi telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia baik secara posistif maupun negatif yang berdampak pada kekerasan dan pelecehan melalui internet, informasi tidak benar, pornografi melalui internet, perjudian, penculikan hingga human trafficking,” Jelas Ino Formator Media Pendidikan Cakrawala NTT wilayah VII Manggarai Raya yang dalam seminar ini membawakan materi Literasi Media “Anak Muda dan Media Sosial”.

Menurut dia, anak-anak, remaja – laki-laki dan perempuan – perlu menggetahui batasan usia dalam menggunakan akun media sosial. Syarat batas usia memiliki akun media sosial, usia 13 tahun seperti twitter, facebook, Instagram, usia 16 tahun seperti whatsApp, usia 18 tahun seperti youtobe, wechat. Setiap pengguna usia 13 tahun sampai 18 tahun tetap dalam pengawasan dan kontrol orang tua.

Dirinya mengajak remaja yang hadir dalam seminar itu untuk menggunakan media sosial sebagai sarana pewartaan kabar baik di tengah derasnya tsunami informasi, gunakan bahasa yang santun, tidak menyebarkan berita bohong, tidak provokatif, tidak melecehkan, tidak berbau sara dan pornografi.

“Bertanggungjawablah menggunakan media sosial, cerdaslah memanfaatkan media sosial dan bijaklah mengelola media sosial” tutup Ino.

Seminar sehari ini berjalan dengan penuh antusias, semangat dan aktif. Peserta yang hadir berjumlah 100 remaja perempuan terdiri remaja SD, SMP, SMA/K, perwakilan komunitas Susteran Gembala BAik, utusan komunitas Susteran FMVI (putri-putri perawan Maria tak bernoda). Acara dibuka oleh dewan pastoral stasi St. Leonardus Kumba.