Press "Enter" to skip to content

RP Haryatmoko, SJ: Dunia Digital ‘Ruang Misi Baru’

KEUSKUPANRUTENG.ORG – Hari kedua Sidang Sinode IV Sesi II Keuskupan Ruteng yang mempertajam 3 bidang pelayanan gereja, yakni Pewartaan, Pengudusan, dan Persekutuan, di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Selasa, 14 April 2026, menghadirkan narasumber/pembicara RP Dr. Johanes Haryatmoko, SJ pengajar di Paska-Sarjana Komunikasi FISIP UI, juga di S2 adan S3 Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Lemhannas. Dimoderatori RD Patris Suryadi, sesi ini mendapat antusiasme peserta.

Dalam presentasinya berjudul Membangun Ekosistem Pewartaan Digital dalam Gereja yang Sinodal ia mengatakan, dunia digital perlu dipahami secara kritis dan reflektif, karna bukan hanya sebagai alat komunikasi, tapi menjadi ‘lingkungan antropologis baru’ yang membentuk cara manusia untuk memahami diri (identitas digital), membangun relasi, dan menerima kebenaran.

RP Dr. Johanes Haryatmoko, SJ saat tampil menjadi pembicara di Sidang Sinode IV Sesi II Keuskupan Ruteng pada Selasa, 14 April 2026 pagi di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng yang dimoderatori oleh RD Patris Suryadi. (Foto: KOMSOS KR)

Ekosistem pewartaan digital, kata RP Haryatmoko, merupakan jaringat terintegrasi dari aktor, relasi, platform, dan praktik yang berpadu dan terhubung sehingga menghasilkan pewartaan yang hidup dan berkelanjutan. Seluruh sistem inilah yang membuat pewartaan itu berjalan, berkembang, dan berdampak.

“Dunia digital melahirkan apa yang kita sebut era Post-Truth, era paska kebenaran. Kebenaran direlativisir di mana orang dibuat tidak peduli fakta objektif, lalu emosi atau keyakinan pribadi lebih penting dalam membentuk opini. Dalam iklim sosial-politik juga, objektivitas dan rasionalitas membiarkan emosi atau hasrat memihal keyakinan meski fakta memperlihatkan hal berbeda,” ujarnya.

Lebih dari 170 peserta Sidang Sinode IV Sesi II Keuskupan Ruteng sedang menyimak presentasi materi tentang Membangun Ekosistem Pewartaan Digital dalam Gereja yang Sinodal yang disampaikan oleh Dosen STF Driyarkara Jakarta RP Haryatmoko, SJ. (Foto: KOMSOS KR)

RP Haryatmoko menuturkan, tantangan Gereja di era disrupsi digital saat ini terjadi di mana dunia digital telah menggeser dari ‘manusia yang di dunia’ menjadi ‘manusia yang dibentuk oleh ekosistem digital’. “Maka, tugas Gereja bukan sekedar hadir di digital, tetapi membentuk cara umat menjadi manusia beriman dalam dunia digital itu sendiri,” ucapnya.

Dunia digital, kata dia, bukan hanya sekedar alat namun juga ‘ruang misi baru’ dengan model pendekatan baru, yakni dari ‘mengajar umat’ ke ‘menemani umat di ruang digital’. Ia juga menyodorkan beberapa prinsip pastoral dalam pewartaan digital, seperti kontekstual (bahasa digital dengan ragam visualisasi dan storytelling), relasional (bukan sekedar broadcasting), dan transformatif (mengubah hidup).

“Pewartaan Digital dalam konteks Gereja Sinodal meniscayakan digital bisa menjadi ruang partisipasi, ruang dialog, dan ruang discernment bersama. Visi kita yaitu Keuskupan Ruteng menjadi Gereja Sinodal yang hadir secara otentik di dunia digital, membentuk umat yang kritis dan beriman, serta mewartakan Injil secara kreatif, relasional, dan transformatif,” kata RP Haryatmoko.

Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat saat menyerahkan cinderamata kepada RP Haryatmoko, SJ sesusai ia mempresentasikan materinya di Sidang Sinode IV Sesi II, Selasa, 14 April 2026. (Foto: KOMSOS KR)

Ia juga mendorong pembentukan Tim Digital Keuskupan termasuk juga di paroki-paroki dengan membangun platform digital, seperti Website, dan media sosial terintegrasi. Selain itu, perlu juga mengadakan pelatihan konten iman untuk berbagai kelompok kategorial, seperti OMK, katekis; dan membuat panduan Etika Digital dan AI untuk menjadi rambu-rambu mengembangkan digital. (Laporan: Jimmy Carvallo. Sasha Claudia | Foto: Rafi Jeramat, Mozak Iring)

Comments are closed.