Komsos Ruteng October 3, 2017
Komisi JPIC Keuskupan Ruteng mempresentasikan pastoral integral dan kontekstual dalam pertemuan pastoral tripartit migran dan perantau di mataloko, Selasa (02/10/2017)

Perantauan membawa dampak yang rumit bagi keluarga, masyarakat, dan perantau sendiri. Menangani itu, Keuskupan Ruteng menggunakan pendekatan integral dan kontekstual. Ketua Komisi JPIC – Migran dan Perantau Keuskupan Ruteng Rm. Marten Jenarut, Pr., menceritakan pendekatan itu kepada peserta pertemuan pastoral tripartit migran perantau di Kemah Tabor – Mataloko, Selasa (03/10/2017).

Keuskupan Ruteng dalam Sinode yang terakhir, jelas Rm. Marten,  memberi perhatian besar pada isu migran dan perantau. Dalam proses analisis ditemukan hal-hal yang dominan.

“Kebanyakan yang merantau adalah laki-laki. Mereka rata-rata pergi dengan ijazah SD. Karena itu yang layak untuk mereka hanya menjadi pekerja kasar atau kuli,” kata Rm. Marten.

Masalah terutama akibat perantauan, lanjut Rm. Marten, yaitu disintegrasi keluarga. Ada begitu banyak persoalan perkawinan dan keluarga yang terkait dengan migrasi. Masalah lainnya, dirumuskan dengan distorsi sosial, kekacauan sosial. Ini terungkap dalam kasus-kasus perdagangan manusia (human trafficking) dan penyelundupan orang (human smugling).

Dengan pendekatan pastoral integral, Rm. Marten menceritakan, isu migran dan perantau ditangani dari berbagai aspek dan melibatkan komisi-komisi terkait.

“Komisi JPIC Migran dan Perantau tidak sendiri menangani persoalan migran dan perantau serta keluarga yang mereka tinggalkan. Komisi Kateketik juga ikut terlibat dengan mengadakan katekese tentang dampak migrasi. Komisi PSE dan lembaga Caritas Keuskupan menangani masalah ekonomi baik yang sifatnya tanggap bencana maupun pemberdayaan. Komisi Keluarga coba memberi perhatian pada keluarga. Kami juga sering turun dengan tim KKI untuk bermain dan anak-anak. Dan Komisi Liturgi juga ambil bagian dengan mengadakan doa, rekoleksi, dan misa,” urai Rm. Marten.

Sejumlah keuskupan yang bergabung dalam kerja sama tripartit migran dan perantau membahas karya pastoral bersama bagi para migran, dalam pertemuan di Kemah Tabor, Mataloko, Flores, selama tiga hari (2 – 5 Oktober 2017). Ketua penyelenggara pertemuan Rm. Edu Raja Para, Pr. menjelaskan, pertemuan pastoral ini sebagai bagian dari kerja sama segitiga antara keuskupan asal, transit, dan keuskupan tujuan perantauan.

Keuskupan-keuskupan asal para migran yang hadir dalam pertemuan yaitu Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Larantuka, Ruteng, dan Denpasar. Sedangkan Keuskupan transit yang bergabung dalam tripartit yaitu Tanjung Selor. Sementara, keuskupan-keuskupan di Malaysia yang menjadi tujuan migrasi meliputi Keuskupan Sandakan, Keningau, dan Kota Kinabalu.

Kerja sama tripartit migran dan perantau, lanjut Romo Edu, sudah berjalan lebih dari lima tahun. Selain pertemuan-pertemuan yang mendiskusikan isu-isu pastoral migran dan perantau, kerja sama ini diwujudkan dengan pengutusan imam dari keuskupan-keuskupan di Flores untuk pelayanan Natal dan Paskah para migran di Malaysia.

Pertemuan di Mataloko merupakan kali kelima dalam kerja sama tripartit ini. Pertemuan ini mengangkat tema “Menjadi Gereja yang Semakin Peduli Terhadap Kaum Migran dan Perantau.” Tema ini, jelas romo Edu, diambil sejalan dengan seruan Paus yang mengajak umat untuk peduli pada sesama yang lemah.

“Dewasa ini semakin banyak orang yang tidak peduli dengan kehidupan sesama, terutama orang-orang yang terpinggirkan, orang-orang kecil, orang-orang lemah. Sejalan dengan seruan Paus Fransiskus, agar kita menjadi gereja yang memar, gereja yang terluka, maka kami memilih tema Menjadi Gereja yang Semakin Peduli Terhadap Kaum Migran dan Perantau,” kata Romo Edu.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*