KEUSKUPANRUTENG.ORG – Hari kedua festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2025 dibuka dengan penampilan yang sangat menarik dan sarat akan budaya Manggarai. Pelajar-pelajar dari sekolah-sekolah yang ada di kota Ruteng turut memeriahkan hari kedua festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2025 pada tanggal 4 Oktober pagi. Para imam dan tamu undangan menyaksikan dengan antusias prosesi simulatif ritual karong woja wolé, jagung, dan kopi yang dibawakan oleh Sanggar Seni Lando Uwa UNIKA St. Paulus Ruteng dan SMPN 1 Langke Rembong. Pemberkatan air yang diambil dari Waé Barong 7 paroki kota, pemberkatan benih padi, jagung, dan bibit kopi oleh RP Bonivantura Y. Lelo, OFM dan berpuncak pada caci antara siswa SMAN 2 sebagai weki oné mai dan siswa SMK St. Aloysius sebagai weki pé’ang mai.

Sanggar Seni Lando Uwa UNIKA St. Paulus Ruteng dan SMPN 1 Langke Rembong saat menampilkan karong woja wole di pelataran gereja Katedral pada Sabtu 4 Oktober pagi. (KOMSOS KR)
Dalam kebudayaan Manggarai, woja atau Iné Ronggéng dalam bahasa ritual, berarti Ibu Padi atau Ibu Kehidupan, induk semua makanan. Ritus karong woja wolé (menghantar padi baru) adalah prosesi menghantar hasil kebun ke kampung sebagai tanda selesainya tahun kerja yang telah lewat.

RP Bonivantura Y. Lelo, OFM saat melakukan pemberkatan benih dan air pada Sabtu 4 Oktober pagi. (KOMSOS KR)
Selanjutnya, dibuat ritus penti sebagai syukur untuk tahun yang telah lewat dan mohon berkat untuk tahun baru. Salah satu bagian ritus penti adalah barong waé (syukur atas air kehidupan, mohon kelimpahan hidup). Kemudian, dalam ritus penti juga ada pembagian bibit padi dan tanaman lainnya yang akan ditanam pada tahun kerja baru. Penti dimahkotai dengan pertunjukkan caci yang meriah.

Pentas Caci yang dibawakan oleh SMAN 2 Langke Rembong dan SMK St. Aloysius Ruteng di pelataran gereja Katedral pada Sabtu 4 Oktober pagi. (KOMSOS KR)
Ritual Karong Woja Wolé ini menjadi bukti nyata bahwa iman Katolik dan budaya Manggarai dapat berjalan seiring, saling memperkaya dan menghidupkan satu sama lain. Melalui pemberkatan benih dan air, umat diajak untuk merawat ciptaan dengan rasa hormat dan syukur.
Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2025 pun kembali menegaskan peran Gereja sebagai ruang dialog antara iman, budaya, dan pendidikan, di mana generasi muda — para siswa — belajar untuk mencintai warisan leluhur dan menjaga bumi sebagai rumah bersama. (Sasha Claudia)

Comments are closed.