Foto: Vikjen Keuskupan Agung Jakarta RD Samuel Pangestu (tengah), Vikjen Keuskupan Ruteng RP Sebastian Hobahana, SVD (kanan), dan Direktur PUSPAS RD Martin Chen berfoto dalam ruangan Sidang Sinode IV Sesi IV, Rabu siang, 5 Agustus 2026. (Foto: KOMSOS)
KEUSKUPANRUTENG.ORG – Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta RD Samuel Pangestu menjadi keynote speaker pada Sidang Sinode IV Sesi IV hari kedua, Rabu pagi, 5 Agustus 2026 di Rumah Retret Wae lengkas. Ia mengulas tentang Manajemen Pastoral dan mengajak peserta mendalami Membangun Tata kelola Gereja yang Sinodal, Profesional, Transparan, Akuntabel, dan Berorientasi Misi.
Dalam wawancara khusus dengan media ini, RD Samuel menuturkan semua pelayan pastoral, khususnya para peserta Sidang Sesi IV yang selama 4 hari menggumuli Tata Kelola dan Pelayan Pastoral, penting untuk memasuki sebuah perubahan melalui tata kelola yang baik guna mewujudkan misi Gereja menghadirkan Kerajaan Allah di tengah umat.
“Kesadaran untuk mau berubah melalui struktur dari pemimpin dan seterusnya yang ada, bersama seluruh umat Allah. Ini merupakan discernment komunal yang bersama-sama menghendaki agar itu terjadi. Ini merupakan karya Tuhan yang harus kita pertanggungjawabkan juga. Sebagai pelayan Tuhan kita memberikan yang terbaik,” ujar RD Samuel.

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta RD Samuel Pangestu saat tampil sebagai pembicara pada hari ke-2 Sidang Sinode IV Sesi IV yang membahas tentang Manajemen dan Pelayan Pastoral di Aula St.Yohanes Salib Rumah Retret Wae Lengkas di Ruteng, Rabu pagi, 5 Agustus 2026. (Foto: KOMSOS)
Selain itu, lanjut dia, human capital, personalia, dan orang-orang yang bersentuhan langsung dengan tanggung jawab ini, tidak boleh berhenti belajar untuk menambah dan mengupdate pengetahuan yang berhubungan dengan tugas pelayanannya. Perbaikan sistem, termasuk melalui monitoring dan evaluasi juga perlu dilaksanakan agar perubahan ke arah yang lebih baik (sesuai visi dan misi Gereja) sungguh terwujud.
“Tanda kehadiran Allah juga terlihat ketika kita melayani umat dengan lebih baik. Kalau kita melayani umat dengan baik, maka umat yang setelah dilayani dengan begitu baik dia akan menjadi pelayan juga di tempat di mana dia berada. Ada penggandaan Roti di situ. Sehingga, kita semakin menjadi komunitas atau persekutuan umat Allah yang sinodal menuju kesejahteraan bersama (jasmani, rohani, dan jiwa) serta harapan lainnya,” ucap RD Samuel.
Dalam manajemen umum termasuk manajemen Gereja, RD Samuel menuturkan, pemberdayaan human capital atau SDM menjadi penting dan perlu dibenahi. Hal itu dimulai dari pembinaan iman sejak usia dini, karna walaupun sistem yang dibangun bagus, namun bila tidak didukung oleh SDM memadai, seperti integritas diri, kejujuran, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama maka akan menjadi mubazir.

Peserta Sidang Sinode IV Sesi IV sedang menyimak presentasi tentang Manajemen Pastoral yang disampaikan oleh RD Samel Pangestu di Aula Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Rabu, 5 Agustus 2026. (Foto: KOMSOS)
Semakin Terbuka
Dalam presentasinya, RD Samuael menjelaskan, prinsip tata kelola adalah profesional, transparansi, dan akuntabilitas. Penempatan personal (orang) pun hendaknya merujuk pada profesionalisme yang dimiliki termasuk diberi pembelakan berkala agar ‘target’ yang ingin dicapai dalam pelayanan pastoral tidak menjadi berantakan.

Dimoderatori oleh RD Andi Jeramat, Vikjen Keuskupan Agung Jakarta sedang menyampaikan materinya tentang Manajemen Pastoral kepada peserta Sidang Sinode IV Sesi IV Keuskupan Ruteng di Rumah Retret Wae Lengkas. (Foto: KOMSOS)
“Kalau bicara tentang akuntabel maka ada pertanggungjawaban termasuk implementasi sebuah program yang dinilai berhasil. Transparansi menghendaki kita semua tidak tertutup, dikelola secara profesional. termasuk di dalamnya kaderisasi kepemimpinan yang perlu diperhatikan,” ungkapnya.
RD Samuel mengatakan, bila ingin maju, maka paroki-paroki harus memiliki sikap keterbukaan, pertobatan, dan transformasi diri. “Bersedia untuk bertobat itu berarti transformasi diri. Itu awalnya menurut saya. Terbuka, selalu mau belajar, dan menyadari bahwa kita tidak sempurna dan ingin maju. Dengan begitu, apa yang kita cita-citakan bersama akan terwujud,” tuturnya.
Ia berpesan, bahwa semakin beriman, maka kita akan semakin terbuka. Ketertutupan, menurut dia, mengandaikan ada persoalan iman dan spiritual. “Terbuka menandakan bahwa kita sungguh menyadari kita putra-putri Allah yang kaya dalam iman, berkarakter tanggung jawab, jujur, penuh persaudaraan, solidaritas, mau berjalan bergandengan tangan. Semakin kita mencari Tuhan dan bertemu dengan-Nya, maka semakin kita membumi,” kata RD Samuel.
Sharing Praktik Baik
Pada hari ke-2 Sidang Sinode IV Sesi II tersebut, juga diisi dengan sesi menarik Sharing Praktik Baik Tata Kelola Pastoral dimoderatori RD Earlich Heartbert, menghadirkan narasumber pastor paroki dan orang-orang yang terlibat dalam karya pastoral kategorial.

Sesi Sharing Praktik Baik pada hari ke-2 Sidang Sinode IV Sesi IV Keuskupan Ruteng di Rumah Retret Wae Lengkas, Rabu siang, 5 Agustus 2026. Acara ini menghadirkan 5 orang narasumber yang berbagi crita tentang karya mereka baik di paroki maupun lembaga. (Foto: KOMSOS)
Lima rang yang dihadirkan adalah Direktur Lembaga Caritas RD Benediktus Gaguk, Pastor Paroki Borong RD Willy Findoro, Ketua Yayasan St. Paulus RD Ledobaldus Roling Mujur, Ketua Pelaksana DPP Beanio Wilhelmus Dogur, dan Ketua Pelaksana DKP Katedral Vinsen Marung.
Ketua Yayasan Santu Paulus Ruteng RD Roling Mujur mensharingkan tentang pengalamannya menjalankan tugas dan kepercayaan besar tersebut. “Awalnya saya ragu, namun saya menyadari ini bagian dari tugas perutusan dan dalam yayasan ada banyak orang yang bekerja secara kolektif. Saya mengajak para dosen untuk melihat Unika sebagai rumah bersama,” kata RD Roling.

Setelah menerima kenang-kenangan (cinderamata) dari panitia Sinode IV Sesi IV yang diberikan oleh Vikep Ruteng RD Dyonysius Osharjo, para narasumber sesi Sharing Praktik Baik berfoto bersama. (Foto: KOMSOS)
Ia pun mengajak semua dosen termasuk para pegawai yang mengabdi di lingkup Unika St. Paulus agar tidak sekedar mencapai target-target kurikulum dan standar etos kerja, tapi mengalami Unika sebagai tempat di mana semua orang bisa berkembang dalam ‘satu rumah bersama’.
RD Roling juga membentuk tim promosi kampus sejak tahun 2019 yang berangkat dari survey tentang motivasi siswa sekolah dalam memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. “Lima puluh lima persen mereka memilih pendidikan tinggi karna teman sejawat. Kami lalu membentuk tim promosi untuk masuk ke sekolah-sekolah.” ujarnya. [Tim Redaksi]

Comments are closed.