Press "Enter" to skip to content

Cerita dari Reo: Weekend Misioner, Psikososial, dan Aksi Solidaritas Pasca Gempa

KEUSKUPANRUTENG.ORG — Dalam rangka memperingati 100 tahun Hari Minggu Misi Sedunia, Keuskupan Ruteng melalui Komisi Anak dan Remaja bekerja sama dengan JPIC Keuskupan Ruteng menyelenggarakan kegiatan Weekend Misioner bagi anak-anak Sekami di sembilan paroki terdampak gempa bumi di wilayah Pantai Utara (Pantura) Kevikepan Reo. Kegiatan yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 ini melibatkan 260 anak dari sembilan paroki, tiga kelompok anak dampingan JPIC, serta para pembina Sekami.

Sembilan paroki yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Paroki Pota, Dampek, Weleng, Kajong, Loce, Robek, Pagal, Beamese, dan Reo. Masing-masing paroki mengutus dua orang pembina untuk mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung.

Potret keseruan 260 anak-anak yang mengikuti kegiatan Weekend Misioner di Kevikepan Reo. (Foto: KOMSOS KR)

Selain peserta dari sembilan paroki tersebut, hadir pula tiga kelompok anak dampingan JPIC, yakni Kelompok Anak Cinta Damai dari Satar Teu, Kelompok Anak Mengejar Matahari dari Stasi Lengko Lolok, dan Kelompok Anak Lumba-Lumba Ceria dari Stasi Serise.

Kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai perayaan iman, tetapi juga menjadi ruang pemulihan, pembelajaran, dan penguatan solidaritas bagi anak-anak yang mengalami dampak gempa bumi.

Direktur Dioses Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Ruteng, RD. Benediktus Gaguk, menjelaskan bahwa perayaan 100 tahun Hari Minggu Misi Sedunia kali ini memiliki makna istimewa karena secara khusus dilaksanakan di wilayah yang terdampak gempa bumi.

Aksi nyata dari anak-anak yang membawa dan menyalurkan bantuan kepada keluarga terdampak gempa bumi di wilayah Jengkalang. (Foto: KOMSOS KR)

Menurutnya, rangkaian kegiatan tidak hanya berfokus pada animasi misioner, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikososial anak-anak, memberikan edukasi tentang perlindungan anak, serta menumbuhkan semangat belarasa melalui aksi nyata membantu keluarga yang terdampak gempa di wilayah Jengkalang.

Pada hari pertama, Sabtu (31/10/2026), kegiatan diawali dengan animasi misioner. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak memahami makna misi dan tugas perutusan mereka dalam kehidupan menggereja maupun kehidupan sehari-hari. Mereka diperkenalkan pada pemahaman bahwa misi berarti berani keluar dari diri sendiri untuk menjangkau dan menghadirkan kasih bagi sesama, sekaligus mewartakan Kristus melalui perkataan, perbuatan, dan tindakan nyata.

Anak-anak mengikuti kegiatan literasi bencana dengan menyusun peta kerawanan bencana di lingkungan mereka. (Foto: KOMSOS KR)

Selanjutnya, anak-anak mengikuti kegiatan literasi bencana. Dalam sesi ini, mereka memperoleh pemahaman mengenai pengertian bencana, jenis-jenis bencana, serta dampak yang ditimbulkannya. Anak-anak juga diajak menyusun peta kerawanan bencana di lingkungan masing-masing dan mengenali langkah-langkah mitigasi, khususnya cara menyelamatkan diri ketika terjadi gempa bumi.

Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan aktivitas psikososial yang bertujuan membantu anak-anak mengembalikan kegembiraan, sukacita, dan rasa aman setelah mengalami situasi pascagempa. Melalui berbagai permainan dan aktivitas bersama, anak-anak diberi ruang untuk mengekspresikan diri, membangun kembali semangat, serta mem pererat persaudaraan.

Kegiatan psikososial menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri mereka ditengah situasi pascagempa. (Foto: KOMSOS KR)

Memasuki hari kedua, Minggu (1/11/2026), seluruh peserta merayakan Hari Minggu Misi Sedunia. Setelah perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi perlindungan anak yang dibawakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Manggarai. Sosialisasi ini memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai pentingnya mengenali, mencegah, dan melawan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak.

Perayaan ekaristi puncak Hari Minggu Misi Sedunia di Kevikepan Reo yang dipimpin oleh Vikep Reo, RD. Josy Erot, bersama 4 imam Keuskupan Ruteng pada Minggu, 1 November 2026. (Foto: KOMSOS KR)

Sebagai bentuk kepedulian dan keberanian menyuarakan hak anak, para peserta kemudian melakukan kampanye Stop Kekerasan terhadap Anak di sepanjang jalan utama Paroki Ratu Rosari Reo, khususnya di kawasan Kota Reo.

Anak-anak mengikuti kampanye Stop Kekerasan terhadap Anak di sepanjang jalan utama Paroki Ratu Rosari Reo dengan membawa banner dan kertas yang menyerukan hak anak, salah satunya yang ditulis dalam bahasa Jerman, “Schluss Mit Gewalt Gegen Kinder!” yang artinya “Hentikan Kekerasan terhadap Anak-anak!”. (Foto: KOMSOS KR)

Semangat misioner tersebut selanjutnya diwujudkan melalui aksi solidaritas. Anak-anak membawa dan menyalurkan bantuan kepada keluarga yang terdampak gempa bumi di wilayah Jengkalang. Aksi ini menjadi pengalaman nyata bagi anak-anak untuk belajar berbagi, peduli, dan hadir bagi sesama yang sedang mengalami kesulitan.

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan pentas seni dan selebrasi bersama. Setiap paroki dan kelompok anak menampilkan berbagai kreativitas seni sebagai ungkapan kegembiraan, persaudaraan, dan rasa syukur atas kesempatan untuk berkumpul dan merayakan semangat misi bersama.

Pentas seni budaya Manggarai berupa tarian yang dibawakan salah satu kelompok anak-anak Sekami. (Foto: KOMSOS KR)

Romo Benediktus menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki sejumlah tujuan penting, mulai dari menanamkan kesadaran misioner hingga membangun kepedulian sosial di kalangan anak-anak.

“Tujuan utama dari kegiatan ini selain memaknai Hari Minggu Misi Sedunia, di mana anak-anak diberi kesadaran tentang pentingnya mewartakan Kristus dalam kehidupan mereka sehari-hari dan menumbuhkan semangat misi dalam jiwa mereka, juga agar mereka mengenal gempa dan bagaimana bisa pulih kembali melalui kegiatan psikososial. Anak-anak juga diharapkan memahami perlindungan anak, memiliki semangat belarasa dan bermisi bagi orang-orang yang terdampak gempa, serta mampu merayakan sukacita melalui pentas seni,” jelas Romo Benediktus.

Direktur Dioses Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Ruteng, RD. Benediktus Gaguk ketika menjelaskan mengenai Animasi Misi kepada anak-anak. (Foto: KOMSOS KR)

Melalui kegiatan Weekend Misioner ini, Keuskupan Ruteng berharap anak-anak Sekami semakin bertumbuh sebagai pribadi yang memiliki semangat misioner, peduli terhadap sesama, berani menyuarakan perlindungan anak, serta mampu menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Perayaan 100 tahun Hari Minggu Misi Sedunia di wilayah terdampak gempa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa semangat misi tidak hanya diwujudkan melalui pewartaan iman, tetapi juga melalui kehadiran, kepedulian, dan tindakan nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Comments are closed.