KEUSKUPANRUTENG.ORG — Pelayanan kesehatan dan pendampingan psikososial bagi para penyintas gempa bumi di wilayah Keuskupan Ruteng terus digencarkan. Tidak hanya luka fisik yang membutuhkan perhatian, tetapi juga luka batin dan trauma yang masih dirasakan oleh anak-anak, orang dewasa, hingga para lansia setelah gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu.
Pada Kamis, 3 September 2026, tim medis yang terdiri dari Divisi Kesehatan dan Divisi Psikososial Caritas Indonesia (Karina) bersama Caritas Keuskupan Ruteng turun langsung ke wilayah Paroki Santa Maria Pembantu Abadi, Lawir. Pelayanan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjangkau para penyintas yang masih menghadapi dampak gempa dalam kehidupan sehari-hari.

Pelayanan medis oleh dokter-dokter dan suster dari Divisi Kesehatan Caritas Indonesia di Kampung Ntorang ,Lawir, Kamis 3 September 2026. (Foto: KOMSOS KR)
Sejumlah wilayah yang menjadi titik pelayanan tim, yakni Desa Compang Raci, Stasi Golo Nderu, Kampung Bala, Desa Golo Lero wilayah pusat, serta Kampung Ntorang, Desa Rengkam. Di tempat-tempat tersebut, Divisi Kesehatan memberikan pemeriksaan dan pelayanan medis kepada warga, sementara Divisi Psikososial memberikan pendampingan bagi orang dewasa serta trauma healing bagi anak-anak.
Bagi sebagian penyintas, gempa mungkin telah berhenti mengguncang tanah, tetapi rasa takut dan cemas masih tersimpan dalam ingatan. Karena itu, pelayanan yang diberikan tidak berhenti pada pemeriksaan kesehatan fisik. Para penyintas juga diajak untuk perlahan memulihkan rasa aman, menguatkan kembali keberanian, serta menemukan ruang untuk mengungkapkan pengalaman dan perasaan yang mereka alami setelah bencana.

Pendampingan psikososial untuk para orang tua terdampak bersama suster dari Divisi Psikososial Caritas Indonesia. (Foto: KOMSOS KR)
Kehadiran tim psikososial menjadi sangat berarti, terutama bagi anak-anak yang masih membawa pengalaman traumatis akibat gempa. Melalui pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, anak-anak diberikan ruang untuk bermain, berinteraksi, dan mengekspresikan diri secara positif. Sementara itu, orang dewasa dan para lansia mendapatkan perhatian serta pendampingan agar mereka tidak menghadapi masa pemulihan seorang diri.
Pelayanan kesehatan dan psikososial tersebut terus dilanjutkan hingga Jumat, 4 September 2026. Tim kesehatan Karina bersama Caritas Keuskupan Ruteng masih terus memberikan pelayanan kepada para orang tua, lansia, dan anak-anak yang membutuhkan pemeriksaan maupun pendampingan di tengah situasi pascagempa yang masih menyisakan trauma.

Di tengah trauma pascagempa, anak-anak mendapatkan ruang untuk bermain, bercerita, dan perlahan memulihkan diri dari rasa trauma. Bersama tim Caritas, anak-anak merasa aman dan kembali ceria. (Foto: KOMSOS KR)
Pelayanan ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang rusak, tetapi juga merawat kehidupan yang ada di dalamnya. Di tengah keterbatasan dan pengalaman pahit yang mereka lalui, perhatian sederhana, pemeriksaan kesehatan, dan ruang untuk didengarkan dapat menjadi bagian penting dari perjalanan menuju pemulihan.
Dari Lawir, langkah kecil itu terus dilakukan: mendatangi mereka yang membutuhkan, mendengarkan cerita mereka, merawat yang sakit, dan menemani mereka yang masih berjuang memulihkan rasa aman setelah gempa. Sebab, dalam situasi bencana, pemulihan tidak selalu berlangsung dalam hitungan hari. Ada luka yang membutuhkan waktu, perhatian, dan kehadiran yang terus-menerus untuk kembali pulih.

Comments are closed.