Foto: Prof. Dr. Paul Suparno, SJ saat saat tampil sebagai pembicara utama dalam Sidang Sinode IV Sesi IV pada pelaksanaan hari ke-3 di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng, Kamis pagi, 6 Agustus 2026. (Foto: KOMSOS)
KEUSKUPANRUTENG.ORG – Guru Besar Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma (USD) Prof. Dr. Paul Suparno, SJ menjadi keynote speaker pada Sinode IV Sesi IV Keuskupan Ruteng pada hari ke-3, Kamis, 6 Agustus 2026 di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng. Ia mempresentasikan tentang Spiritualitas Pelayan Pastoral.
Dijelaskannya, Spiritualitas Pelayan Pastoral merujuk pada kesadaran, keyakinan mendalam dalam diri seorang pelayan pastoral yang memberikan semangat dan mendasari pemikiran dan tindakannya dalam melayani umat. “Semacam roh dalam diri kita yang menyemangati dan menggerakkan cara kita melayani umat,” tuturnya.

Prof. Dr. Paul Suparno, SJ saat mempresentasikan materi tentang Spiritualitas Pelayan Pastoral yang didampingi oleh moderator RD Hyronimus Ario Dominggus, SMM di Sidang Sinode IV Sesi IV di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Kamis pagi, 6 Agustus 2026. (Foto: KOMSOS)
RP Paul menggarisbawahi, pelayan pastoral merupakan panggilan hidup. Tugas pelayanan pastoral mesti dihayati sebagai panggilan hidup dari Tuhan, di mana Tuhan melibatkan seseorang untuk mengambil bagian dalam melayani jemaat. Hal ini menjadi landasan bagi para pelayan pastoral agar menjalankan panggilan dengan gembira, tanggungjawab, dan profesional.

Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat (tengah), Vikaris Jenderal Keuskupan Ruteng RP Sebastian Hobahana, SVD, dan Direktur PUSPAS RD Dr. Martin Chen (kiri) saat hadir pada sesi presentasi Prof. Paul Suparno, SJ tentang Spiritualitas Pelayan Pastoral di Sidang Sinode IV Sesi IV di Wae Lengkas, Ruteng. (Foto: KOMSOS)
“Menjadi pelayan pastoral, itu melayani dengan kasih dan gembira. Penting memiliki kesatuan dengan Yesus yang akrab. Terus membina relasi pribadi yang akrab dengan Tuhan Yesus, sehingga dalam hidup dan pelayanannya dapat meniru semangat Tuhan, khususnya dalam kasih. Ini dilakukan antara lain dengan doa, latihan rohani, ekaristi, dan menerima sakramen-sakramen,” ujar RD Paul.

Vikaris Episkopalis (Vikep) Borong RD Simon Nama ketika menyerahkan cinderamata dari panitia kepada Prof. Dr. Paul Suparno, SJ seusai mengisi sesi prentasi sebagai keynote speaker di Sidang Sinode IV Sesi IV kari ke-3 di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas. (Foto: KOMSOS)
Biarawan kelahiran Klaten, 19 November 1950 yang menyelesaikan studi doktoral bidang Pendidikan Sains di Boston University, ini mengingatkan, pelayan pastoral harus membangun sikap tanggung jawab, jujur, dan terbuka. Sikap jujur dan terbuka mengandaikan adanya kesatuan antara kata dan perbuatan, tidak menutup diri, tidak main topeng, dan dapat dipercaya.

Ratusan peserta Sidang Sinode IV Sesi IV Keuskupan Ruteng sedang menyimak pemaparan materi tentang Spiritualitas Pelayan Pastoral yang disampaikan oleh Prof. Paul Suparno, SJ pada hari ke-3 sidang ini di Rumah Retret Wae lengkas. (Foto: KOMSOS)
Pelayanan kepada umat, lanjut RP Paul, tidak mungkin dilakukan sendirian, tetapi dalam kebersamaan dengan pelayan lainnya, sehingga kerja sama sinergis sangat penting dikembangkan. Apalagi dengan anjuran sinodalitas, kerja sama perlu terus dikembangkan, sambil berjalan bersama dan disemangati saling membantu.
“Gereja maju karena ada kepercayaan antar anggota dan pelayannya. Maka, tata kelola Gereja mestilah transparan, terbuka, jujur, dan profesional. Tidak ada tempat untuk korupsi dan main belakang,” kata RP Paul. Ia menegaskan, prinsip tata kelola yang transparan, akuntabilitas, dan partisipasi membutuhkan peran spiritualitas yang memperkuatnya. “Spiritualitas melahirkan integritas, dan integritas membangun tata kelola yang baik, termasuk dalam hal pengelolaan keuangan Gereja yang jujur dan terbuka,” tambahnya.
Panulis puluhan buku rohani bestseller dan pendidikan, ini mengajak peserta Sidang Sinode IV dan semua pelayan pastoral yang ada di Keuskupan Ruteng untuk menyadari bahwa spiritualitas pelayan pastoral merupakan fondasi integritas, dan integritas itulah yang menjadi dasar tata kelola Gereja yang sehat. “Kalau kredibilitas pelayan pastoral meningkat, maka kepercayaan umat pada pelayannya meningkat dan perkembangan gereja terjamin,” tutur RD Paul. [TIM REDAKSI]

Comments are closed.