Komsos Ruteng August 23, 2019

Monitoring pelaksanaan program-program- program pastoral untuk kevikepan Labuan Bajo dilaksanakan di Paroki Hati Kudus Yesus Lando, Selasa (20/08/2019). Dipandu oleh tim dari Pusat Pastoral, sebanyak 18 dari 22 paroki di Kevikepan Labuan Bajo mempresentasikan laporan.

Sentuhan pastoral yang khas mengemuka dalam sesi diskusi. Para pastor dan utusan Dewan Pastoral Paroki menceritakan konteks paroki mereka yang unik. Bertolak dari konteks, mereka mengupayakan karya pastoral yang sesuai.

Di tengah hiruk pikuk pembangunan kawasan wisata premium, Paroki Roh Kudus dan Bunda Segala Bangsa Wae Sambi mengangkat kehausan umat paroki Labuan Bajo akan doa. Dua paroki di ibukota Kabupaten Manggarai Barat itu banyak melakukan kunjungan keluarga dan pastoral doa.

Di wilayah pedalaman Sano Nggoang, cerita pastor paroki Werang Rm John Syukur Pr, umat membutuhkan pelayanan misa untuk berbagai peristiwa hidup umat. Mulai dari kelahiran sampai kematian, umat berkumpul dan merayakan peristiwa-peristiwa penting dengan perayaan Ekaristi.

“Itu sudah membudaya. Jadi pastor dituntut untuk hadir dalam setiap peristiwa itu. Kalau berhalangan, umat biasanya menghubungi pastor di paroki terdekat,” cerita Romo John Syukur.

Sementara di wilayah Lembor Selatan, pastor dan dewan Paroki Reweng mengungkap data tentang keluarga-keluarga migran dan keragaman agama. Banyak di antara mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Karena itu Gereja mengupayakan pemberdayaan dan gerakan bergabung dalam koperasi.

Dalam catatan akhirnya, Vikep Labuan Bajo Richard Manggu Pr menegaskan kehadiran Gereja melalui aneka karya pastoral sebagai tanda kehadiran Tuhan dalam aneka situasi dan kondisi hidup umat.

“Penting di sini ialah roh, jiwa pelayanan penuh belas kasih kepada umat. Hendaknya pelayanan kita menghadirkan wajah Allah, rupa Kristus yang betul-betul terlibat dalam berbagai soal yang digumuli umat,” kata Vikep Romo Richard.

Terkait diskusi mengenai sentuhan pastoral yang khas, situasi khusus di paroki-paroki mendorong kita untuk bererak lebih jauh mengatasi standar pelayanan yang biasa.

“Kita tidak bisa lagi dengan standar pastoral yang biasa. Lingkungan pastoral kita sudah sangat terbuka dan banyak mendapat pengaruh dari dunia luar. Kenyataan-kenyataan ini menuntut cara-cara dan strategi baru dalam berpastoral,” ungkap Romo Richard.