Foto: Uskup Ruteng Yang Mulia Mgr. Siprianus Hormat, didampingi Sekjen RD Dr. Rikardus Moses Jehaut, dan Direktur PUSPAS RD Dr. Martin Chen pada acara pembukaan Sidang Sinode IV Sesi III di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Senin malam, 1 Juni 2026. (Foto: KOMSOS KR)
KEUSKUPANRUTENG.ORG – Sidang Sinode IV Sesi III Keuskupan Ruteng dibuka dengan Rekoleksi dan perayaan Ekaristi di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng, Senin sore, 1 Juni 2026. Sidang Sesi III ini akan berlangsung selama 5 hari, dari Senin, 1 hingga Jumat, 5 Juni 2026. Hari pertama sidang, hadir Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, juga anggota Dewan Kuria Keuskupan Ruteng.
Ada pula utusan dari 61 paroki sekeuskupan Ruteng yang terdiri dari para Pastor Paroki, Vikaris Parokial, Ketua-ketua Pelaksana DPP dan DKP. Selain itu, tampak juga para pimpinan tarekat religius, utusan komunitas-komunitas dan kelompok kategorial, serta kaum muda.
Rekoleksi pembukaan Sidang Sesi III dipimpin oleh RD Dr. Agustinus Manfred Habur Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, dan dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi dipimpin Mgr. Siprianus dan konselebran Sekertaris Jenderal, juga 3 Vikaris Episkopalis (Vikep) di keuskupan Ruteng. Misa dimeriahkan oleh koor Orang Muda Katolik (OMK) Paroki S. Fransiskus Asisi. Karot, Ruteng.

Suasana saat acara Rekoleksi Pembukaan Sidang Sinode IV Sesi III Keuskupan Ruteng yang dipimpin Rektor Unika St. Paulus Ruteng RD Dr. Agustinus Manfred Habur di Kapel Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng, Senin sore, 1 Juni 2026. (Foto: KOMSOS KR)
Diakonia sebagai Identitas dan Perutusan Gereja
Ketua Panitia Sidang Sinode IV Sesi III RD Yohanes Patrisius Suryadi saat menyampaikan sambutannya di Kepela Rumah Retret Wae Lengkas mengatakan, pertemuan ini merupakan rahmat yang memperlihatkan kesediaan untuk berjalan bersama, mendengarkan tuntunan Roh Kudus, dan mencari arah pastoral yang semakin menjawab kebutuhan umat serta masyarakat.
“Tema besar Sinode IV, Berziarah Bersama dalam Pengharapan: Beriman, Bersaudara, dan Misioner, mengingatkan kita bahwa Gereja adalah umat peziarah yang terus bergerak menuju Kerajaan Allah. Pengharapan Kristiani bukanlah sikap menunggu secara pasif, melainkan daya yang mendorong kita menghadirkan kasih dan keselamatan Allah dalam kehidupan nyata. Salah satu wujud konkret dari panggilan tersebut adalah pelayanan diakonia,” ujar RD Patris.

Ketua Panitia Sidang Sinode IV Sesi III Keuskupan Ruteng RD Yohanes Patrisius Suryadi, akrab disapa Romo Patris saat sedang menyampaikan sambutannya dalam Misa Pembukaan Sidang di Kapel Rumat Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas. (Foto: KOMSOS KR)
Ia menambahkan, sebagaimana ditegaskan dalam Term of Reference sinode sesi III ini, diakonia merupakan ungkapan nyata kasih Allah yang bekerja dalam sejarah manusia dan seluruh ciptaan. Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan hadir untuk melayani, membela martabat manusia, dan merawat rumah bersama. Karena itu, pelayanan diakonia bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi bagian hakiki dari identitas dan perutusan Gereja.
“Kita menyadari bahwa masyarakat kita sedang menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks: kemiskinan, migrasi, perdagangan orang, kerusakan lingkungan hidup, ketidakadilan sosial, krisis pendidikan dan kesehatan, kekerasan terhadap kelompok rentan, serta berbagai dampak perkembangan teknologi dan budaya konsumtif. Situasi ini menuntut Gereja untuk menghadirkan pelayanan yang tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga transformatif, memberdayakan, dan berkelanjutan,” kata RD Patris.
Sidang Sinode IV Sesi III, RD Patris menuturkan, menjadi kesempatan penting untuk mengevaluasi pelaksanaan program-program pastoral hasil Sinode III, mengenali buah-buah serta keterbatasannya, mendengarkan pengalaman dan harapan umat, serta merumuskan arah pastoral yang semakin relevan.

Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat saat memimpin Perayaan Ekaristi Pembukaan Sidang Sinode IV Sesi III di Kapel Rumah Retret Maria Bunda Karmel Wae Lengkas, Ruteng, Senin petang, 1 Juni 2026. Bapak Uskup didampingi Sekjen Keuskupan Ruteng dan para Vikep. (Foto: KOMSOS KR)
Melalui proses sinodal melihat, menilai, dan memutuskan, peserta yang datang dari 61 paroki sekeuskupan Ruteng, ini diajak memadukan realitas hidup umat dengan terang Sabda Allah, Tradisi dan Ajaran Sosial Gereja, serta inspirasi sosial, budaya, dan ekologis demi lahirnya kebijakan pastoral yang solider dan transformatif.
Mengutip ajaran Santo Yohanes Krisostomus, lanjut RD Patris, orang kudus ini menegaskan bahwa penghormatan kepada Kristus di altar harus diwujudkan pula dalam perhatian kepada Kristus yang hadir dalam diri orang miskin dan menderita. Bagi Gereja perdana, pelayanan kepada sesama bukanlah tugas tambahan, melainkan bagian dari kesaksian iman itu sendiri. “Semangat yang sama kiranya terus menghidupi perjalanan Gereja Ruteng pada masa kini,” ungkapnya. (Tim Redaksi | Foto: Rafi Jeramat)

Comments are closed.