Press "Enter" to skip to content

Pandemi Covid Mengubah Habitus dan Metode Berpastoral

Dampak Wabah Covid-19 terhadap kegiatan pastoral Gereja menjadi salah satu bagian dari evaluasi pelaksanaan program-program pastoral Tahun Penggembalaan 2020. Wabah Covid-19 membuat banyak aktivitas pastoral tatap muka dan mengumpulkan banyak umat tidak dilaksanakan di paroki-paroki Keuskupan Ruteng selama Tahun Penggembalaan 2020. Namun demikian, masa pandemi ini juga mendorong munculnya pembaruan kreatif terkait metode dan habitus berpastoral.

“Di masa pandemi, paroki-paroki berusaha dengan berbagai cara untuk mewartakan iman. Ada yang memakai sound sistem toa, live streaming dan radio. Cukup banyak pastoral kreatif yang dibuat baik pewartaan maupun karitatif. Dalam situasi covid, kita menyadari pentingnya kerja sama. Kerja sama dengan pemerintah maupun lembaga-lembaga baik. Pelayan pastoral dan umat memiliki kebiasaan baru untuk berpastoral melalui media sosial dan radio,” urai Direktur Pusat Pastoral Rm Martin Chen Pr pada sesi Evaluasi Tahun Penggembalaan 2020, Sidang Pastoral Post Paskah Keuskupan Ruteng di Rumah Ret-Ret Maria Bunda Karmel Wae Lengkas, Kamis (22 April 2021).

Lebih lanjut, Direktur Pusat Pastoral itu menjelaskan, Covid ini menggugah gereja untuk mencoba menemukan bahwa merayakan sakramen itu tidak cukup dibuat secara masal dan anonim, bersama-sama dengan ribuan orang dalam satu gereja. Perayaan sakramen harus sampai pada perjumpaan personal. Termasuk juga, lanjut dia, perayaan-perayaan sakramen dan pewartaan jangan sampai hanya pada ritus dan doktrin, tetapi mestinya mengungkap apa yang dirasakan setiap pribadi dan kiranya menghantar pada perjumpaan personal dan hati.

“Ini hal yang bagus dari pandemi covid,” tegas Rm Martin Chen Pr.

Karya-Karya Pastoral Kreatif Belum Belum Banyak

Hal lain yang mengemuka pada Evaluasi Tahun Penggembalaan 2020 yaitu belum banyaknya karya-karya pastoral yang kreatif. Hal ini terlihat dari persentasi keterlaksanaan program yang rendah.

“Pastoral-pastoral kreatif terutama terkait diakonia karitatif bagi kelompok-kelompok rentan; angkanya di bawah 30%. Kita masih sangat kuat dipengaruhi oleh aktivitas pastoral rutin,” jelas Direktur Puspas Rm Martin Chen Pr.

Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng Rm Martin Chen Pr

Sementara karya-karya pastoral yang rutin terlaksana dengan persentase keterlaksanaan yang tinggi di setiap paroki. Ini tampak sekali dalam data berkaitan dengan pelayanan sakramen.

“Pelayanan baptis, Ekaristi; itu bagus semua, sekitar 86%. Diperkirakan realitanya lebih dari itu, mengingat beberapa paroki tidak menyampaikan data tetapi melakukan kegiatan pelayanan-pelayanan rutin,” imbuh Romo Chen.

Comments are closed.