KEUSKUPANRUTENG.ORG – Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng Sesi I memasuki hari ke- 3 berlangsung penuh sukacita dan semangat persaudaraan di Aula Santu Yohanes Salib, Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng. Pada Selasa, 6 Januari 2026, sidang menghadirkan pembicara Yanuar Nugroho, PhD dosen STF Driyarkara yang mempresentasikan tentang “Hic ad Nunc: Merefleksikan Indonesia, Kini dan Di Sini Menuju 2026.”
Semua peserta sidang juga mendengarkan sesi Sharing Pergumulan Hidup dari perwakilan kelompok sosial yang ada di Keuskupan Ruteng, dari yang berprofesi petani, pendidik/guru, ibu rumah tangga, dan fungsionaris adat. Mereka berkisah seputar realitas keseharian dan tantangan dalam menjalankan profesi tersebut.

Dosen STF Driyarkara Jakarta, Yanuar Nugroho, PhD saat tampil sebagai pembicara pada hari ke-2 Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng Sesi I di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng. Ia mempresentasikan tentang Kondisi Sosial Bangsa Indonesia. (Foto : KOMSOS KR)
Ada pula sesi Pengendapan dan Diskusi Kelompok. Lebih dari 200 peserta Sidang Sinode duduk melingkari meja bundar yang telah ditata apik oleh panitia dalam 24 kelompok dari lintas latar belakang, seperti pastor paroki, vikaris parokial, para religius, pengurus DPP, dan utusan kelompok kategorial.
Pada hari ke-3 sidang, Rabu, 7 Januari 2026 hadir Sekretaris Jenderal Keuskupan Ruteng RD Dr. Rikardus Moses Jehaut membedah tentang “Refleksi Teologis Gereja Kontekstual Sinodal”. Ia mengatakan, refleksi ini pertama-tama diarahkan untuk menelusuri fondasi teologis sinodalitas, lalu membacanya dalam terang Magisterium Gereja kontemporer – khususnya gagasan Paus Fransiskus dan Dokumen Sinode Para Uskup 2023.
“Selanjutnya menimba implikasinya bagi terwujudnya Gereja yang sungguh kontekstual sinodal, dan terus menerus dibarui melalui pertobatan gerejawi. Refleksi teologis ini berpijak pada satu tesis mendasar: Gereja kontekstual hanya sungguh terwujud sejauh Gereja hidup secara sinodal; dan sinodalitas menemukan bentuk konkret, daya uji, serta relevansinya dalam kehidupan Gereja lokal,” ujar RD Ardus.
Sidang juga menghadirkan sesi menarik, seperti Sharing Pengalaman Gereja Kontekstual Sinodal dari Komunitas Gerejawi, seperti perwakilan OMK Paroki Pagal, Pasutri, pendamping SEKAMI, dan petani dampingan Lembaga Caritas Keuskupan Ruteng.
Maria Yuliana Adensilia, dipanggil Densi, 19 tahun, adalah pendamping Komunitas RARA paroki Arnoldus Jansen dan Yosef Frainademetz Waelengga yang berkoordinasi dengan Komisi JPIC Keuskupan Ruteng. Dalam sharingnya, ia mengisahkan, komunitas ini merangkul anak-anak yang peduli ekologi dan aktif di berbagai kegiatan gerejani.
“Saya merasa terpanggil mendampingi komunitas ini karena anak-anak perlu diajak untuk sedini mungkin memiliki kesadaran untuk ambil bagian dalam pelayanan di gereja dan juga peduli untuk merawat lingkungan,” ucap Densi.

Para pembicara dalam sesi sharing tentang Pengalaman Gereja Kontekstual Sinodal dari para perwakilan komunitas gerejawi berfoto denganVikep Borong RD Simon Nama sesaat setelah menerima bingkisan apresiasi dari panitia Seinode IV, Rabu, 7 Januari 2026. (Foto : KOMSOS KR)
Hilda Jedian, disapa Hilda, dari Paroki Ratu Para Rasul dan St. Hendrikus – Todo bekerja sebagai pembina SEKAMI juga mensharingkan hal menarik. Sejak tahun 2024 ia aktif sebagai pendamping/animatris SEKAMI dan sejak lama bersama anak-anak rutin mengadakan pendalaman Kitab Suci bersama, kunjungan kepada orang sakit, ziarah rohani, dan doa rosario bersama.
“Saya merasa ini bukan pekerjaan, tapi panggilan hati untuk melayani, untuk menjadi berguna bagi sesama melalui pendampingan anak-anak SEKAMI,” ucapnya. Ada 30an anak SEKAMI yang aktif dan puluhan lainnya menjadi anggota tidak tetap karena kurangnya dukungan orang tua mendorong anak-anaknya bergabung di SEKAMI.

Diskusi kelompok para peserta Sidang Sinode IV Sesi I di Rumah Retret Wae Lengkas. Semua peserta duduk di setiap meja bundar sejumlah 24 meja. Mereka saling sharing dan memberikan pendapat/pikiran atas sejumlah tema. (Foto : KOMSOS KR)
Anggota kelompok tani GALTOB Paroki Nanu dampingan Lembaga Caritas Keuskupan Ruteng, Yohana Danur, juga menyampaikan sharing pada sidang tersebut. Kelompok taninya beranggotakan 25 orang; ia termasuk di antara 7 anggota yang berstatus istri migran. Suaminya merantau bekerja di Papua sejak 2021. Yolan, sapaannnya, menceritakan melalui kehadiran Caritas, model pertanian mereka berubah setelah diajarkan pengeloaan pertanian produktif termasuk penggunaan pupuk organik.
Sejumlah Komisi yang ada di Pusat Pastoral (PUSPAS) juga mempresentasikan implementasi berbagai program yang telah dibuat melalui video pendek. Menutup sidang hari ke-3 dilakukan diskusi kelompok untuk Rencana Kerja Tingkat Lanjut (RKTL) Gereja Kontekstual Sinodal. (Tim Redaksi)

Comments are closed.