Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Perayaan Kenaikan Tuhan ke Surga: Berharap dan Bersaksi

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Kamis, 14 Mei 26: Kis 1:1-11 ; Ef 1:17-23; Mat 28:16-20).

Ketika “krisis” tengah melanda dasyat jagat global maupun dunia kecil kita masing-masing, pesta “Kenaikan Tuhan” hari ini sungguh memberikan pengharapan yang meneguhkan. Manakala kemiskinan dan kesenjangan jatuh ke titik nadir, dan rasa nyaman dan bahagia dalam hidup ini tergerus hilang, aura kenaikan Tuhan ke Surga menerbitkan harapan baru.

Demikian pula tatkala aku terjerumus ke dalam aneka kesedihan dan penderitaan, manakala aku jatuh ke dalam banyak persoalan dan kegagalan yang melilit, perayaan “Kenaikan Tuhan” ke Surga hari ini menjadi gerakan kontras yang mengangkatku naik dari keterpurukan. Dalam segala kelemahan, keterbatasan dan kegagalan dunia yang fana ini, aku toh boleh bermimpi tentang kemenangan dan kemuliaan surgawi. Aku ternyata boleh menimba rahmat dan kekuatan surgawi yang memampukanku untuk terus berjuang dan tak henti berharap akan dunia yang lebih manusiawi, lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat. Sebab Yesus naik ke Surga bukan untuk diri-Nya sendiri tetapi untuk aku dan engkau, dan untuk kita semua yang masih merayap dan sering tergelincir jatuh ke dalam kelemahan dan keterbatasan hidup di dunia yg fana ini.

Maka pesta “Kenaikan Tuhan” hari ini menyadarkan dan menyentakkan diriku bahwa tak ada yang sia-sia yang berlangsung dalam hidupku di muka bumi ini: Semuanya, juga yang lemah, sakit, gagal dan hina dalam diriku, kelak akan disucikan, dibarui dan disempurnakan dalam kemuliaan surgawi. Semua yang terbatas, fana, dan rapuh dalam hidupku akan diubah dan dimuliakan oleh Dia yang telah lebih dahulu naik ke Surga.

Surat Efesus dalam bacaan kedua melukiskan dengan indah pengharapan ini, “Supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya”.

Namun, terpesona dalam pengharapan Tuhan sejatinya tak membuat aku berleha leha dalam mimpi dan ilusi tanpa berbuat apa-apa. Sebaliknya berharap berarti bersaksi. Itulah yang disentil oleh malaikat terhadap para murid dalam Kisah Para Rasul: “Hai orang-orang Galilea, mengapa kalian berdiri melihat ke langit?”. Dengan kata lain malaikat ingin berkata, Pandanglah ke bumi. Pergilah kembali ke dalam dunia kehidupanmu sehari-hari. Jangan hanya diam terpukau dengan bayang surgawi. Hal yang sama ditegaskan oleh Yesus dalam injil Matius, yang mengajakku untuk bersaksi: pergilah, wartakanlah, baptislah, jadikan semua bangsa murid-Ku.

Jadi, perayaan “Kenaikan Tuhan” berciri misioner, agar aku bersaksi tentang cinta ilahi yang dicurahkan kepada semua orang, khususnya yang tengah mengalami kesulitan dan kesengsaraan mendalam. Pesta “Kenaikan Tuhan” mengandung pesan profetis untuk memperjuangkan kehidupan dunia yang lebih manusiawi, damai, adil dan bermartabat.

Maka marilah hari ini kita berharap dan bersukacita memandang ke langit surgawi tempat Tuhan dimuliakan. Seraya kita menimba kekuatan dari-Nya untuk bersaksi dalam kehidupan sehari-hari tentang kerahiman dan kebaikan-Nya yang selalu menyertai kita sampai akhir zaman. Salam Kenaikan Tuhan…Tuhan memberkati…

Comments are closed.