Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu: Yesus Andalanku Satu-satunya

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu 15 Nov 25: Luk 21:5-19)

Seringkali seperti orang orang dalam zaman Yesus, kita terpesona dengan tampilan kemegahan fisik dan arsitektur indah Gereja (Bait Allah) atau ritus ibadat (upacara) yang khidmat dan meriah. Tapi iman sesungguhnya bukanlah pencitraan. Iman bukanlah tampilan luar artifisial yang memikat dan indah. Tapi iman menyangkut relasi yang mendalam dan menyeluruh dengan Yesus. Beriman berarti bersatu dengan Yesus dan setia kepada-Nya dalam situasi sulit apapun.

Dalam zaman itu umat Yahudi mengalami situasi mencekam penderitaan akibat penjajahan oleh Yunani kemudian oleh kekaisaran Romawi. Pada tahun 63, 30 tahun setelah kematian Yesus, Yerusalem dikepung oleh tentara Pompeji Roma dan pada tahun 70, Yerusalem dan bait Allah dihancurkan oleh tentara Roma dipimpin oleh Titus. Dalam situasi penuh penderitaan ini (ketidakselamatan), orang merindukan kehadiran Mesias Penyelamat, yang diyakini pasti datang pada akhir zaman untuk menyelamatkan umat. Situasi buruk penuh kesulitan inilah yang dilukiskan injil melalui “mulut” Yesus: bencana alam, penyakit, kelaparan, kekerasan oleh elit penguasa agama dan politik.

Jadi beriman tak berarti hidup dalam zaman yang enak-enak. Beriman bukan berarti hidup tanpa masalah. Beriman juga tidak membuat situasi hidup kita lebih baik dan lebih nyaman, tetapi iman memampukan diri kita untuk bersaksi dalam situasi sulit, seperti sabda Yesus dalam injil: “Jangan takut untuk bersaksi…Aku sendiri yang akan membelamu…” (Luk 21). Kesulitan iman bahkan dilihat sebagai kesempatan berahmat untuk memberi kesaksian iman lebih teguh dan lebih militan.

Bahkan juga ketika orang kehilangan jaminan yang paling utama dan manusiawi dalam hidup, yang berasal dari orang tua dan keluarga, orang beriman tetap bisa berharap. Dalam saat seperti itu dia dapat mengandalkan Allah satu-satunya sebagai jaminan hidupnya yang setia dan abadi. Termasuk ketika kehidupannya sendiri menjadi taruhan demi iman, orang dapat mengandalkan Yesus sebagai kekuatan satu satunya. Yesus meneguhkan kita dalam injil bahwa Dia melindungi kita secara penuh dan total, bahkan “tidak sehelai dari rambutmu pun akan hilang”.

Demikianlah jaminan dari Yesus. Lalu dari pihak kita? Apa jawabanku dan jawabanmu? Terlebih dalam kondisi sulit hidup ini, apakah iman kita tetap teguh? Ataukah dalam situasi enak hidup ini, apakah iman kita berpuas diri dalam “zona nyaman”? Ataukah kita sibuk dengan hal duniawi dan “lupa” pada Yesus? Dari Yesus, Dia selalu memberi jaminan ini: “Kalau kamu bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19). Mari kita menjawab-Nya! Selamat merayakan hari minggu. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.