Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu XVIA: Merawat yang Indah dalam Hidupmu (19 Juli 2026: Mat 13:24-30)

Oleh: RD Dr. Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

Ketika kejahatan masih meraja lela di muka bumi ini; manakala peperangan mewarnai pentas dunia; tatkala ketidakadilan menikam kehidupan orang orang rentan; saat diriku masih dibelit oleh dosa; injil hari minggu ini mewartakan pesan penguatan kepadaku untuk menerima kenyataan hidup di dunia ini “apa adanya”, dengan realistis. Ternyata memang begitulah hidup setiap insan dalam ziarah di bumi yang fana ini: Kita masih berada dalam ketegangan antara yang baik dan jahat, antara rahmat dan dosa, antara gandum dan ilalang. Karena itu janganlah kecewa, apalagi berputus asa ketika mengalami kegelapan dan kegagalan dalam hidup ini. Itu adalah hal yang wajar, tak terpisahkan dari kenyataan hidup ini.

Memang kita sering menggugat Allah: mengapa Dia membiarkan kejahatan dan ketidakadilan masih merajalela di bumi ini? Mengapa orang kecil dan tak bersalah menjadi korban terus menerus? Kenapa rumput ilalang tak dicabut segera? Jawaban tuan kebun sangatlah menarik: agar gandum tak turut tercabut! Dengan kata lain, kebaikan dan kejahatan begitu menyatu dalam hidup di dunia ini, sehingga butuh waktu, perlu perjuangan untuk memilahnya dan kelak hanya memanen hanya gandum (kebaikan) saja. Kapankah itu? Nanti baru pada “saat menuai tiba”, ujar pemilik kebun.

Bukankah ini warta gembira yang meneguhkanku yang rapuh-berdosa ini dan sering tergelincir ke dalam kejahatan? Tuhan ternyata “panjang sabar dan murah hati”, Dia tidak segera menghukumku ketika melakukan kejahatan, tetapi memberiku kesempatan untuk bertobat. Dia ingin agar aku tak terpenjara dalam litani omelan atas kegelapan dan penderitaan dalam hidup, apalagi tergelincir ke dalam jurang putus asa. Namun Allah mau agar aku berjuang bangkit ketika terjatuh, dan merangkai asa ketika terhimpit oleh kesulitan hidup. Dia adalah Allah yang tak terikat dengan kelemahan dan kegagalanku di masa kini, tetapi selalu menyiapkan kejutan yang indah untukku di masa depan.

Musim “menuai belum tiba”. Karena itu aku terus menerus diberi kesempatan untuk bertumbuh kembang dan kelak menghasilkan buah. Aku didorong untuk menemukan dan memupuk “benih” yang baik dan subur dalam diriku. Sering aku tergoda untuk melihat yang negatif dan lemah dalam diriku. Hal ini selanjutnya membuatku menjadi minder, loyo, dan bahkan putus asa. Terlebih ketika aku tak memenuhi atau jauh sekali dari ukuran “dunia pencitraan” dewasa ini yang terbius oleh ketenaran, kehebatan, keberhasilan, kecantikan dan keperkasaan. Namun hari ini, Yesus mengajakku untuk melihat diriku secara positif, menemukan mutiara-mutiara indah dalam hidupku dan membiarkannya bersinar. Tuhan menerima dirimu apa adanya. Engkau selalu dikasihi.

Demikian pula aku sering terjerumus untuk melihat hal-hal yang buruk dalam diri sesama dan enggan untuk mengapresiasi kekuatan dan keindahan dalam dirinya. Hari ini Yesus mengajakku untuk mengenakan kaca mata bening yang peka menemukan kejernihan dan kebaikan yang terpatri dalam diri sesamaku serta mengapresiasinya.

Daripada “ribet” mengenakan “kacamata riben”, mari kita melihat sesama dengan mata hati nurani yang bening. Daripada sibuk meratapi kegagalan, mari kita bermimpi dan berziarah menyongsong masa depan indah, yang dihadiahkan Tuhan bagimu. Mari kita ramai ramai mengumpulkan bulir gandum bernas ke dalam lumbung Tuhan. Selamat merayakan hari Minggu. Tuhan memberkatimuā€¦šŸ„°

Comments are closed.