Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu XIX A: Tenanglah, Jangan Takut!

Oleh: RD Dr. Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(9 Agust 26: Mt 14:22-33; 1Raj 19:9a.11-13a)

Kisah Yesus menolong para murid yang perahunya hampir karam di danau Galilea sesungguhnya menampilkan juga hidup kita sekarang. Ini bukanlah narasi dua ribu tahun lalu tapi mengungkapkan pergumulan hidup iman kita juga.

Perahu para murid terombang ambing oleh badai malam yg dasyat, sampai nyaris tenggelam. Itulah gambaran hidup kita yang kadang mengalami persoalan berat atau bahkan musibah yang membuat kita tak berdaya dan nyaris hancur. Kita cemas dan ketakutan. Dalam situasi demikian tak jarang kita menduga adanya kekuatan jahat atau “setan” sebagai penyebabnya. Persis seperti para murid yang mengira hantu bergentayangan di tengah danau yang bergolak, ketika Yesus datang kepada mereka. Injil menceritakan saat itu pkl tiga subuh, itulah waktu yg dalam kepercayaan waktu itu sebagai saat roh halus sedang bergentayangan. Ini adalah saat kegelapan. Sebaliknya pkl tiga siang adalah waktu keselamatan. Saat itulah Yesus mati di salib dan menebus manusia. Karena itu tak heran para murid langsung berteriak ketakutan saat melihat Yesus pada pkl tiga subuh berjalan di tengah badai, ibarat melihat hantu yang sedang bergentayangan.

Dengan ini Yesus ingin menegaskan Dialah penguasa waktu. Dialah penguasa danau. Dia telah mengalahkan kuasa kegelapan. Karena itu, Dia meneguhkan para rasul, “tenang, jangan takut, Akulah ini!”.

Tetapi Petrus ragu dan bimbang. Dia belum yakin dengan kehadiran Tuhan dalam situasi yang gelap dan mencekam itu. Dia butuh mukjizat. Dia ingin mengalami kehadiran Tuhan yang ajaib, yang dia rasakan sendiri. Maka dia pun menuntut bukti dari Yesus, dengan membiarkan dia berjalan di atas air menghampiri Yesus.

Bukankah Petrus ini hidup juga dalam diri kita? Bila sedang berada dalam situasi yang sangat sulit dan berat, kita cenderung meminta pertolongan hebat dari Tuhan, dan secepatnya. Kita mau Tuhan segera membuat mukjijat. Kita ingin bukti yang spektakuler. Padahal Allah sering hadir dalam angin sepoi yang lembut, bukan dalam badai, gempa dan api, seperti pengalaman nabi Elia dalam bacaan pertama. Kita ingin segera keluar dari perahu yang hampir karam, dari badai dalam kehidupan, dan dapat “berjalan di atas air”.

Namun sungguh luar biasa jawaban Tuhan, dia meladeni tantangan Petrus: datanglah! Manakala kita ingin segera keluar dari masalah hidup yang melilit secara instan, Tuhan mengerti kita. Saat kita menuntut bukti, Tuhan akan memperlihatkan dengan cara-Nya. Tatkala kita ingin mukjizat segera terjadi, Dia meminta kita untuk terus berjuang untuk mengalami kehadiran-Nya. Dia minta kita untuk tidak hanya meminta, tidak hanya berdoa, tetapi juga berusaha, tidak pasif menanti dan hanya menunggu, tetapi: datanglah!

Kita pasti akan mengalami: Barang siapa yang dalam kegelapan hidupnya terus berharap dan berjuang, Dia akan merasakan tangan Tuhan yang terulur kepadanya. Dia bakal mengalami tangan Tuhan yang memegangnya dan meneguhkannya: ini Aku, jangan lagi bimbang. Percayalah! Engkau selalu boleh mengandalkan aku! Semoga itu juga yang boleh kita alami dalam kegelapan dan badai kehidupan, dan dalam pergumulan iman kita. Selamat berhr minggu. Tuhan memberkatimu…😊👏

Comments are closed.