Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu XIII A: Salib kontra Narsisme!

Oleh: RD Dr. Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu, 29 Juni 26: Mat 10:37-42; Rm 6:3-4;8-11)

Sabda Yesus pada hari Minggu ini sangatlah keras, bahkan tak masuk akal. Rasa-rasanya mustahil untuk dilakukan. Sebab bisakah orang melupakan orangtua kandung yang melahirkan dan mengurbankan seluruh hidup mereka untuknya? Atau dapatkah orang mengabaikan suami atau istri, dan anak-anak yang paling dikasihi dan memberinya cinta dalam suka duka hidup ini? Bagaimana mungkin kita juga dituntut oleh Yesus untuk melupakan diri, sementara hidup berarti berjuang untuk merawat dan mengembangkan diri yang telah diciptakan Allah sebagai citra-Nya?

Dengan tuntutannya yang radikal, total dan tak masuk akal ini, sepintas Yesus menampilkan diri-Nya sebagai pribadi narsis. Hanya “demi Dia” orang dituntut untuk melupakan orang yang paling dicintai dan mengabaikan dirinya sendiri. Tuntutan yang tampaknya terkesan “narsis” dan egois seperti ini belum pernah kita dengar dari para pendiri agama paling suci di muka bumi ini, sebut saja misalnya Budha atau Kong hu cu. Betulkah demikian?

Jangan-jangan dengan tuntutan radikal ini, Yesus memang ingin mengungkapkan siapa diri-Nya sesungguhnya. Dia memang bukanlah “manusia biasa”. Dia itu lain. Dia itu sekaligus juga Tuhan yang memiliki kuasa ilahi. Dia adalah Mesias, yang menebus manusia dan menggenggam alam semesta dan jagat raya dalam tangan-Nya. Karena itu tuntutan-Nya memang lain dari yang lain. Sabda-Nya penuh daya dan kuasa.

Namun Mesias seperti apakah Dia itu? Persis tuntutan radikal Yesus di atas perlulah kita mengerti dan tempatkan dalam konteks pemahaman Mesias pada zaman itu. Dalam situasi penindasan kekaisaran romawi, orang Israel mendambakan Mesias yang dapat membebaskan mereka dari penderitaan. Mereka merindukan kehidupan yang bebas dari penindasan, yang sejahtera, “nyaman dan enak”. Mereka menginginkan Mesias yang agung, mulia dan penuh kuasa untuk mewujudkan harapan itu. Jadi mereka sesungguhnya mengkonsepkan seorang Mesias sesuai keinginannya dan gambaran duniawinya sendiri. Bukan Mesias sejati yang datang dari Allah. Mesias yang mereka inginkan adalah Mesias duniawi yang hebat, agung, dan penuh kuasa. Mesias yang mereka rindukan adalah Mesias narsisnya!

Persis hal inilah yang dikoreksi dan ditolak dengan tegas oleh Yesus. Mesianismenya bukan diukur dengan patokan duniawi tetapi seturut kehendak ilahi Bapa-Nya di Surga. Dia datang bukan untuk memuaskan keinginan orang tetapi melaksanakan kemauan Bapa-Nya. Karena itu Anak Manusia akan menderita, dihina, dianiaya, dan dibunuh di kayu Salib. Jalan Yesus bukanlah jalan “narsis” yang ingin bahagia, nyaman dan enak untuk diri sendiri. Tetapi jalan-Nya adalah jalan pengurbanan, yaitu keluar dari kenyamanan dan keenakan diri demi yang lain. Jalan Yesus adalah jalan belarasa, solidaritas dengan yang sengsara dan berkekurangan. Gerakan Yesus adalah memasuki lumpur penderitaan dunia dan bergumul dalam kubangan dosa manusia, untuk membersihkan manusia, dan menyelamatkan seluruh jagat raya.

Dengan ini Sabda Yesus hari sangatlah kena dengan hidup kita masing-masing. Ini bukan hanya tuntutan kepada para rasul, meskipun dalam injil Yesus menyampaikan kata-kata-Nya kepada para rasul. Sabda Yesus itu juga bukan hanya kepada mereka yang ingin mengikuti-Nya melalui “jalan yang khusus” seperti klerus, rohaniwan/wati. Tapi ini adalah jalan semua orang yang telah diurapi Tuhan dengan Roh Kudus dalam pembaptisan. Ini adalah jalan semua orang yang menyebut dirinya “Kristen”, artinya yang ingin berspirit dan bermarwah Kristus. Masing-masing kita yang ingin menjadi pengikut-Nya harus bersedia memanggul salib dan mengikuti-Nya.

Tetapi salib bukan hal yang konyol. Ini bukan jalan yang sia-sia. Sebab seperti keyakinan dan pengalaman Paulus dalam bacaan kedua, siapa yang telah dibaptis dalam kematian Kristus, juga turut merasakan kekuatan kebangkitan-Nya. Yang bersatu dengan Kristus dalam hidup yang berkurban dan berbagi, juga pasti merasakan sukacita sejati dan kepuasan yang langgeng.

Bukankah ajaran Yesus ini juga kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari yang nyata? Bila saya misalnya makan sesuatu seorang diri, memang hal itu enak dan mengenyangkan karena dimakan sendiri. Tetapi sekaligus hal itu tak akan memberi kepuasan yang bertahan, karena mendorong saya untuk semakin rakus, dan semakin serakah. Begitulah pola kerjanarsisme: tak pernah memberi kepuasan, tetapi terus menciptakan keinginan dan keserakahan yang baru. Sebaliknya bila saya makan sesuatu bersama yang lain, bila saya berbagi, memang yang dimakan menjadi pas-pasan, tetapi hal itu sungguh membuat “kenyang” melalui kebersamaan, melalui kegembiraan yang dikecap bersama.

Maka dari itu tuntutan radikal Yesus dalam injil hari ini janganlah dimengerti harafiah (lurus-lurus) bahwa kita harus mengabaikan keluarga dan diri sendiri bila ingin menjadi pengikut-Nya. Bukan begitu maksud Yesus! Tetapi yang diinginkan oleh-Nya agar kita belajar mengelola relasi manusiawi yang paling intim itu secara tepat dan bijaksana. Relasi dengan keluarga dan diri sendiri hendaknya tak mengikat seseorang sehingga ia mengabaikan yang lain, atau bahkan mengeksploitasi yang lain demi keluarga dan dirinya.

Bukankah hal ini sering kita dengar dan alami juga. Korupsi di Indonesia misalnya disinyalir terjadi bukan sekedar karena keserakahan pejabat tetapi gaya hidup mewah istri dan anak-anaknya yang mesti dia penuhi.

Dengan demikian, Yesus sejatinya dalam injil mengingatkan pengikut-Nya untuk tak jatuh dalam narsisme: keterikatan pada diri dan mengikat diri dalam ikatan keluarga dan ikatan duniawi. Sebaliknya justru bila orang sepenuhnya mempersatukan diri dengan Dia, Sang Mesias Sejati, orang juga sanggup mengelola dan mengembangkan relasi yang sehat dan bahagia dengan keluarga maupun dengan dirinya sendiri.

Dengan demikian Sabda Yesus hari ini juga adalah kritik pedas atas gaya hidup glamour, hedon, dan pencitraan zaman medsos ini. Semua pola dan gaya hidup di era digital ini pada dasarnya berpusar pada nafsu egoisme, narsisme. Semua orang berlomba lomba tampil indah dan perkasa, tampak mewah dan mempesona, kelihatan hebat dan sukses, tercatat menang dan berprestasi. Sayangnya semuanya di atas penderitaan manusia lain, juga dengan mengeksploitasi mahkluk lainnya dan merusak alam semesta. Maka Sabda Yesus pada hari minggu ini adalah undangan untuk bertobat bagi kita semua.

Juga secara internal, kata-kata Yesus hari Minggu ini ingin membongkar dan membarui gaya hidup Gereja kita zaman ini. Sebab bukankah kita juga selalu tergoda, seperti otokritik Paus Fransiskus, untuk hidup enak, nyaman dan berkutat dalam kemapanan? Bukankah kita secara kelembagaan tanpa sadar masuk ke dalam jebakan kenyamanan dan kemegahan gedung Gereja yang megah dan besar, dalam jaminan keuangan dan aset gereja yang cukup, dalam rutinitas nyaman liturgi dan pelayanan sakramen, serta dalam kemantapan tata kelola program pastoral? Dan dengan itu bukankah kita terjerumus kedalam, lagi-lagi dengan istilah Paus Fransiskus, “Gereja narsis”, yang lebih sibuk mengurus dirinya sendiri daripada menjadi “garam, ragi dan terang” dunia?

Bukankah Kekatolikan banyak dari antara kita masih baru berparade dalam panorama simbol seperti tanda salib dan identitas KTP, serta masih menggeliat dalam pelbagai ritus agama, devosi dan prosesi yang memberi kedamaian dalam hati (diri) dan kenyamanan palsu, namun enggan membarui hidup keluarga dan terlibat serius dan tekun menata dunia seturut nilai-nilai Injili?

Bukankah ada pemimpin umat kita juga yang tak jarang tergoda menjadi narsis: Enggan mendengar dan bekerja sama dengan umat, lebih banyak urus sendiri; Gemar “pake kuasa” dan senang dininabobo dengan pujian?; Begitu sibuknya mengurus misa dan sakramen, sehingga “tak punya waktu” untuk memperhatikan umat yang sakit, miskin dan sengsara?; Tanpa sadar ada yang tergelincir ke dalam pola hidup duniawi yang materialistis dan dirias dengan aneka pencitraan yang semu?

Hari ini, Sabda Tuhan begitu keras seperti mata pedang yang tajam menikam narsisme diriku dan mungkin juga dirimu. Tetapi Firman Tuhan hari ini juga lembut menyentuh dan membarui hatiku dalam kerahiman ilahi dan pengharapan. Sabda Yesus tidaklah enteng, bahkan sangat berat. Karena itu bukan dengan kemampuan manusiawiku yang lemah dan rapuh, tetapi dengan kuasa rahmat-Nya, saya dapat menjadi pengikut-Nya yang sejati, bukan yang “abal abal” (palsu). Hanya dalam pelukan kerahiman-Nya, saya dapat berjuang menapaki jalan salib-Nya dan merasakan sukacita paskah-Nya yang berkelimpahan. Selamat berhari minggu. Tuhan memberkati….

Comments are closed.