Oleh : RD Dr. Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(Minggu, 7 Juni 2026: Yoh 6:51-58)
Lagu ini populer akhir-akhir ini di media sosial maupun jagat pesta: “Lu kenal Veronika koh?”. Musiknya hidup mencubit kaki untuk bergoyang. Liriknya lucu. Konon mamanya Veronika senang laki-laki yang bisa berbahasa inggris. Si calon mantu tak mau kalah pamer, ia menyebut satu kalimat yang sudah dihafal mati karena sering dibaca dan didengar: bluetooth device has connected successfully.
Bila judul lagu itu kini diganti, “Lu kenal Yesus koh?”, apa jawaban kita? Kenalkah kita dengan-Nya? Seperti apakah Yesus memperkenalkan diri-Nya kepada kita?
Berbeda dengan jagat dunia maya kita dewasa ini yang butuh ketenaran, penampilan memukau, butuh kehebatan bahasa inggris, ternyata Yesus tampil BEDA hari ini. Dalam hari raya tubuh dan darah-Nya Dia tampil dengan sangat sederhana dan bahkan tak menarik, yaitu lewat sebuah hosti kecil, sebuah roti tipis. Dan dalam bentuk ini pulalah Dia hari ini diarak dalam prosesi keliling di jalan jalan dan lorong lorong dunia. Apa pesannya untuk kita?
Bukan sekedar lambang kesederhanaan dan kerendahan hati. Lebih mendalam dari itu. Mari kita simak pesan Yesus melalui sabda-Nya hari ini: “Yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku akan hidup selama lamanya.” Daging (carnis) menurut injil Yohanes berarti manusia apa adanya dengan segala kelemahan dan kerapuhannya. Persis Tuhan menjadi “daging: (Yoh 1:14) berarti Dia menerima diri kita, kemanusiaan kita dengan segala keterbatasan dan kelemahannya. Dia Yang Ilahi bersatu dengan diriku yang manusiawi apa adanya.
Bukankah ini sebuah pesan dasyat kepadaku: diriku diterima dan dicintai Tuhan apa adanya: tidak hanya dalam kekuatan tapi juga kerapuhanku, tidak hanya dalam keberhasilan tapi juga kegagalanku. Tuhan memeluk aku dalam hidup ini dan ingin setia berjalan bersamaku dalam seluruh sejarah hidupku, baik yang manis maupun yang pahit, baik yang indah maupun yang menyakitkan.

Bukankah pesan injil hari ini sungguh sebuah kritik pedas atas gaya hidup kita dalam dunia glamour era digital dewasa ini? Kita yang sangat tergila gila dengan penampilan hebat, pencitraan cantik dan perkasa, serta terobsesi dengan cerita kemenangan dan sukses? Yang lebih miris, dunia pencitraan ini selalu menghipnotis orang untuk memoles dirinya, menjadi “manusia palsu”. Atau orang dipaksa untuk mengubah dirinya melampaui kemampuannya yang mengakibatkan stress tanpa henti dalam hidup.
Pesan perayaan Tubuh dan Darah Kristus hari minggu ini sangatlah sederhana tapi mendalam dan menyentuh. Saya dan engkau diajak untuk kembali menemukan kebenaran ini: dirimu berharga bukan karena penampilanmu yang hebat, apalagi oleh pencitraanmu yang palsu. Engkau diterima dan dicintai Tuhan apa adanya. Tuhan membutuhkan dirimu yang “ori”, asli, juga dalam kelemahan bahkan kegagalannya. Ia ingin bersatu dengan dirimu yang seperti itu dalam perayaan Ekaristi.
Selama ini ada “salah kaprah” (keliru paham), bahwa dalam Komuni saya menyambut Tuhan. Sesungguhnya yang terjadi adalah yang sebaliknya: dalam Komuni, Tuhan menyambutku. Dia menerimaku apa adanya, juga dengan kelemahan, kehinaan dan kerapuhan hidupku.
Tapi aku juga boleh yakin: Dia akan mengubah dan membarui diriku. Dia sendiri akan menguatkan, menghidupkan dan menyucikanku. Itulah arti dari kata-kata Yesus: “minum darah-Ku”. Darah adalah simbol kehidupan. Orang yang kehabisan darah akan mati. Tetapi kita yang minum “darah” Yesus akan mendapat kekuatan baru, kita akan hidup. Jadi dalam ekaristi Tuhan tidak hanya menerima diriku apa adanya. Tetapi Dia akan menguatkan aku yang lemah. Dia akan mengampuni aku yang berdosa. Dia akan memberi harapan padaku yang putus asa. Dia akan menghidupkan aku yang “mati”.
Hari ini dalam hari raya Tubuh Darah Kristus, ada kebiasaan prosesi Sakramen Maha Kudus. Dalam wujud hosti kecil tipis, Yesus diarak keliling kota dan kampung. Yesus “dipajang” di hadapanmu. “Lu kenal Dia koh?”…Salam Minggu Tubuh Darah Kristus. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.