Press "Enter" to skip to content

INSPIRASI MINGGU TUBUH DAN DARAH KRISTUS: KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN!

Oleh : RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(22 Juni 2025: Luk 9:11b-17; 1Kor 11:23-26)

Bayangkanlah situasi yang mengagumkan saat itu: ribuan orang berkumpul di sekitar Yesus untuk mendengarkan sabda-Nya yang memikat, sehingga biar berada di tempat yang sunyi, dan dalam keadaan lapar, mereka tetap antusias bertahan sampai “hari mulai malam” (Luk 9). Betapa luar biasanya Yesus yang memikat begitu banyak orang dengan kata-kata-Nya yang memukau. Juga dewasa ini sesungguhnya masih begitu banyak orang sangat merindukan sapaan yang menggembirakan,  nasihat yang inspiratif, perintah yang meneguhkan, pidato yang bernas, kotbah yang menjamah hati. Saya dan engkau diundang untuk melanjutkan warta Yesus yang menyapa hidup dan memikat hati. “Perbuatlah ini untuk mengenang Daku!” (1Kor 11). “Kenangan” bukanlah sekedar mengingat masa lalu, tetapi menghayati sekarang ini apa yang terjadi pada masa lampau. “Kenangan” bukan juga sekedar mengulang, tetapi mewujudkan, melaksanakan apa yang dikenang.

Sayangnya, seperti para murid, saya enggan peduli dengan penderitaan orang. Saya kerap terjerumus dalam mental “tak mau repot”. Dalil yang dikemukakan adalah “saya sibuk”. Tak jarang terjadi, saya mengalihkan tanggung jawab dengan meminta orang lain untuk melakukan hal itu. Persis seperti para murid yang meminta kepada Yesus “suruhlah orang banyak itu pergi!” Begitu pula kerap dengan argumen saleh saya meminta orang menderita untuk mengurus dirinya sendiri. Didiklah ia  menjadi mandiri. Tetapi sesungguhnya saya ingin berkelit dari tanggung jawab saya terhadap orang lain.

Bagaimana reaksi Yesus? Dengan tegas, Yesus mengatakan, “Kamu harus memberi mereka makan!”. (Luk 9). Sebuah perintah yang tidak masuk akal secara ekonomis. Mana mungkin  dengan “lima roti dan dua ikan” dapat mencukupi kebutuhan makan lima ribu orang laki-laki, belum termasuk wanita dan anak-anak. Tetapi mujijat itu nyata. Mujijat dapat terjadi ketika orang membentuk kelompok (menghidupi persekutuan) dan memiliki semangat berbagi dalam persekutuan tersebut. Alhasil, injil bercerita, setelah ribuan orang makan sampai kenyang, bahkan masih ada dua belas bakul potong roti yang tersisa saat itu.

Dewasa ini masih banyak orang menderita kelaparan. Bahkan ironisnya kelaparan itu semakin menjadi-jadi dalam zaman dengan kemajuan teknologi yang “super” dan dalam kemakmuran ekonomi. Kita masih menjumpai orang yang saking miskinnya sehingga sesuap nasi dalam sehari pun begitu sulit. Namun bukan hanya lapar akan makanan dan minuman jasmani. Dalam era digital dewasa ini, terdapat begitu banyak orang di sekitar kita, yang lapar akan sapaan, lapar akan seuntai senyum ceria, lapar akan perhatian, lapar akan cinta, lapar akan persahabatan sejati. Memang dalam era medsos saat ini, begitu banyak orang memiliki beribu-ribu “followers” Tiktok, dan mempunyai puluhan ribu pertemanan facebook. Tapi sayangnya semua itu dunia maya, jagat anonim. Tak satu pun di antara sekian banyak orang itu menjadi bagimu seorang sahabat sejati.  

“Berilah mereka makan!” Inilah jeritan permintaan Yesus kepadaku saat ini. Janganlah engkau mengelak. Hanya karena begitu banyak orang menderita yang harus dibantu. Jangan pula kalkulasi ekonomis mematikan niat baikmu untuk menolong. Ikutilah sabda Yesus. Mujijat pasti terjadi. Bukan dalam bentuk kehebatan yang melampaui hukum alam. Tidak. Dalam hidup sehari-hari dahaga cinta dan lapar jasmani akan terobati bila orang hidup bersaudara satu sama lain (“kelompok”) dan berbagi satu sama lain. Itulah mujijat terbesar dalam hidup ini.

Communio: persekutuan, persaudaraan, itulah yang kita rayakan hari ini, pada perayaan Minggu Tubuh dan Darah Kristus. Mujijat Ekaristi bukan sekedar “transformasi” esensial roti-anggur menjadi tubuh dan darah Kristus.  Tetapi dalam Ekaristi, saya sungguh bersatu dengan Yesus, dan boleh merasakan hidup dalam persaudaraan dengan yang lain. Itulah mujijat Ekaristi sesungguhnya. Salam Minggu Tubuh dan Darah Kristus. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.