Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(Minggu 3 Mei 2026: Yoh 14:1-12).
Setiap orang pasti pernah mengalami kegelisahan dalam hidupnya. Ada ada saja hal yang membuat orang gelisah di dunia ini. Bahkan ada orang yang sering merasa gelisah dakam hidupnya. Mungkin ada juga dari antara kita yang sedang mengalaminya sekarang ini.
Dan betapa menghibur dan menguatkan, ternyata Yesus menangkap dan merasakan kegelisahan kita tersebut. Ia peduli dan terlibat dalam “resah dan gelisah” kita. Dalam injil hari minggu Paskah ke-5 ini, Dia memberi peneguhan kepada murid-murid-Nya dan tentu juga kepada kita semua, “Janganlah gelisah hatimu”.
Betapa indahnya hidup sebagai orang Kristiani yang tahu dan sadar, bahwa dalam kegelisahan sehari-hari aku tak pernah sendiri. Yesus selalu bersamaku. Dia mengerti keadaanku. Dia peduli bahkan turut merasakan kegelisahan yang kini kuhadapi, apa pun bentuknya. Karena itu mari serahkan kegelisahanmu, kecemasan hidupmu kepada-Nya….
Mengapa orang selalu cemas, dan gelisah dalam hidupnya? Karena ia tak memiliki pegangan dalam hidupnya. Ia merasa goyah dan mengawang awang karena tak memiliki tiang penopang hidupnya. Bisa saja pegangan itu ada, tetapi yang dialaminya sendiri, rapuh dan rentan. Banyak orang misalnya mengandalkan hal duniawi sebagai pegangannya, sumber kekuatan dan kebahagiaannya. Tetapi pada titik tertentu, ternyata ia menemukan betapa rapuh dan fananya hal-hal duniawi itu.

Mari kita renungkan satu per satu. Ada yang mengandalkan kesehatan dan tenaga menggebu gebu dalam dirinya, tetapi ia menjadi lemah dan tak berdaya ketika sakit menimpanya. Ada pula yang mengandalkan kecantikan dan kegantengan, yang kita semua tahu ternyata akan sirna dan lapuk dimakan oleh usia keriput. Ada juga yang terpesona dan tergila gila dengan kekuasaan, namun ketika hal ini tercabik darinya, ia lalu menjadi makhluk linglung terkena penyakit “post power syndrome”. Begitu pula ada yang terjebak dalam lezatnya makanan dan nikmatnya kekayaan, yang ternyata semua itu bersifat sementara dan tak memberikan kesenangan yang bertahan lama….
Lalu pada apa atau pada siapakah kita memperoleh sandaran yang kokoh dan tahan uji? Tak lain pada Yesus sendiri. “Akulah, jalan, kebenaran dan kehidupan!” ujar Yesus meneguhkan para murid, dan meneguhkan kita semua juga dalam injil hari ini. “Jalan” adalah hal yang menuntun kita kepada tujuan.
Demikianlah hanya melalui Yesus, kita sampai kepada tujuan dari seluruh pencarian dan pergumulan hidup di tengah dunia ini, yakni kebahagiaan sejati. Hanya melalui Dia kita sampai ke rumah Bapa, tempat nyaman, aman dan damai, di mana kita boleh merasakan kebahagiaan selama lamanya.
Akan tetapi betulkah bersama Yesus kita tak akan mengalami kegelisahan lagi? Bukankah pengalaman Rasul Filipus dalam kisah injil juga sering kita alami: sudah lama kita bersama Yesus, sudah bertahun tahun kita jadi Katolik: pergi misa setiap hari minggu, berdoa setiap hari dan berusaha berbuat baik kepada orang lain, tapi toh kita masih merasa gelisah juga, kita masih terombang ambing oleh berbagai hal, kita masih terjerat dalam aneka persoalan hidup, kita masih terkulai lemah dalam penderitaan…???
Jawaban Yesus terhadap “keberatan Filipus” kiranya menyingkapkan terang dan memberi kekuatan baru kepada kita: percayakah Engkau, Filipus bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Kegamangan dan kegelisahan Filipus terjadi karena dia belum sungguh bersatu dengan Yesus. Meskipun sudah lama mengikuti Yesus, dia belum sungguh membiarkan diri diresapi dan dituntun oleh kekuatan ilahi yang disalurkan Yesus dari Bapa-Nya.
Bagaimana dengan hidup kita masing-masing? Bukankah pengalaman Filipus adalah pergumulan iman kita juga? Betapa meneguhkan, Yesus ternyata mengerti dan merasakan kegelisahan kita. Kegelisahan itu tidak hanya manusiawi, tetapi juga Kristiani, tatkala mengantar kita semakin menemukan Yesus sebagai “jalan, kebenaran dan kehidupan” yang sejati.
Maka mari kita setia menapaki “jalan” ini. Mari kita biarkan Yesus menuntun diri kita yang kerap “resah dan gelisah” ini ke dalam pelukan kasih Bapa, sumber damai dan kebahagiaan yang sejati. Selamat berhari minggu. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.