Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(Minggu 26 April 26: Yoh 10:1-10)
Yesus sering menggunakan simbol untuk melukiskan dengan lebih jelas dan indah pesan yang ingin disampaikan-Nya. Dalam injil Minggu Paskah ke 4 hari ini Yesus menggunakan simbol “pintu” dan “gembala” untuk melukiskan relasi-Nya dengan kita.
“Akulah pintu kepada domba-domba.” Yesus melukiskan diri-Nya pertama-tama ibarat pintu kandang hewan, yang memberi perlindungan dan kenyamanan kepada domba-domba yang tinggal di dalamnya. Tapi sekaligus melalui pintu ini domba-domba dapat keluar masuk untuk mencari makanan di padang rumput yang hijau. Melalui Yesus orang memperoleh “makanan”, yakni kekuatan yang menghidupkan, menyegarkan dan membahagiakan.
Bayangkanlah kita adalah domba-domba yang berada dalam kandang dengan Yesus sebagai pintunya. Betapa aman rasanya, ketika hidup kita dinaungi, dilindungi, dijaga oleh-Nya. Serigala biasanya berusaha memangsa domba-domba. Tetapi yang tinggal dalam kandang dengan pintu yang kokoh akan aman dan terlindungi. Begitu pulalah hidup kita di tengah dunia ini selalu dalam tantangan dan kesulitan, berada dalam sorotan “mangsa” serigala. Kita selalu berada dalam “jebakan kenikmatan dan kesenangan duniawi yang semu”. Namun ketika saya berlindung pada Yesus, dan mengandalkan Dia dalam hidup ini, saya pasti aman dan terlindungi.

Yesus namun tidak hanya berfungsi ibarat pintu bagi domba, tetapi Dia juga adalah “gembala” domba. Bila simbol “pintu: lebih menggarisbawahi kekokohan, dan unsur tetap (statis), maka simbol gembala menekankan unsur relasi yang dinamis. Ada hubungan pribadi antara gembala dan domba-domba. Sang gembala mengenal mereka, satu per satu. Ia memanggil mereka “dengan namanya masing-masing”. Sebaliknya mereka mengenal dia dan mengikuti suaranya. Terdapat relasi mesra dan penuh kasih sayang antara mereka.
Bayangkanlah, masing-masing kita juga dipanggil oleh Yesus “dengan nama masing-masing”. Artinya Dia mengenal diri kita seluruhnya dan mengasihi kita dengan segala yang ada pada diri kita. Dia menerima dan mencintai kita apa adanya, dengan suka dan duka, dengan keberhasilan dan kegagalan hidup ini. Maka saya berarti dalam hidup ini bukan karena kehebatanku, bukan oleh pencitraanku tapi karena dicintai oleh Yesus. Juga dalam kelemahan, keterbatasan, kegagalan dan kehinaan diriku, Yesus menerimaku, menghargaiku, mencintaiku. Waoo…betapa meneguhkan dan mengharukan.
Lalu, bagaimana sikap kita terhadap Yesus? Bagaimana jawaban kita atas cinta-Nya? Simbol pintu dan gembala mengandaikan kesiapsediaan dan perjuangan dari domba-domba. Mereka sendiri yang harus bergerak melangkah masuk keluar melewati pintu. Demikian juga sebagai domba mereka perlu “mendengar suara gembala dan mengikutinya”. Itu berarti kita sendiri harus aktif membuka diri dan menerima cinta Yesus dalam hidup ini. Kita sendiri perlu “bergerak”, berjuang mengikuti Dia, seperti domba yang mengikuti gembalanya. Kita perlu berjuang setia mendengar sabda-Nya dan mencari “rumput hijau”, roti Ekatisti sebagai santapan jiwa kita.
Dan kita boleh yakin, barang siapa mencari Yesus dan setia mengikuti-Nya, dia akan mengalami kekuatan, damai, kebahagiaan dan cinta yang sejati dari Yesus. Sebab Yesus datang agar setiap kita dapat “hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan”. Oh…betapa indah dan mengharukan…, terima kasih Yesus. Selamat berhari minggu dan merasakan cinta Yesus dalam dirimu. Tuhan memberkati…😊👏

Comments are closed.