Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu PANTEKOSTA: Bersemi dan Berbuah (Tahun A, 24 Mei 2026)

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

Kis. 2:1-11; 1Kor. 12:3b-7.12-13; Yoh. 20:19-23)

Seorang “petarung” sejati adalah orang yang memiliki pengharapan. Dia terus berusaha, meskipun situasinya sulit dan pelik. Dia terus melangkah, meskipun jalannya terjal dan berat. Bahkan bisa saja dia sering gagal, tapi dia tak pernah berputus asa. Kegagalan menjadi baginya momentum untuk meniti langkah yang baru. Persis itulah semangat Pentakosta. Saya boleh terus menerus merangkai asa dalam hidup ini, bukan karena mengandalkan kehebatan diri, tetapi semata oleh kasih setia Allah yang tak berkesudahan. Malah dalam kerapuhan dan kelemahan, saya boleh “bersukacita” akan rahmat kekuatan Allah dalam hidup ini.

Pengharapan Pentakosta ini mungkin terasa sulit dalam kondisi kehidupan kita dewasa ini. Situasi ekonomi semakin berat. Harga barang meningkat sementara penghasilan merosot atau bahkan hilang akibat PHK. Politik semakin represif dan tersentralisir tanpa arah yang jelas. Hukum dan pengadilan direkayasa dengan “pandang bulu”. Dunia pendidikan semakin mahal dengan kurikulum yang uji coba terus. Seruan pastoral para Uskup KWI pada hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026 menyebut terjadinya luka sosial yang sedang menganga lebar dalam pelbagai aspek kehidupan bangsa dewasa ini, seraya menyerukan agar seluruh anak bangsa bergerak bangkit dalam pengharapan. Perayaan Pantekosta kiranya dapat menjadi momentum spiritual untuk kebangkitan hidup bangsa maupun pembaruan hidup pribadi.

Pentakosta sejatinya bukan hanya berharap, tetapi juga berbuah. Dalam Perjanjian Lama, Pentakosta berarti “hari ke-50”, yaitu perayaaan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Kemudian hari “ke-50” ini dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu hari Paskah Yahudi. Dalam hari ke- 50 ini dikenangkan juga turunnya hukum Taurat kepada Musa. Tradisi Perjanjian Lama ini lalu diambil alih oleh umat Kristiani yang merayakan pada “hari ke-50” turunnya Roh Kudus kepada para murid, 7 minggu setelah Kebangkitan Yesus. Di sini kita menemukan simbol paralel yang indah: perayaan 7 minggu setelah panen gandum Israel selaras dengan panenan rohani Gereja yang melimpah (buah-buah Roh). Setelah ikut dalam perjuangan salib yang letih dan berat, kini para murid (Gereja) boleh menikmati buah-buah Paskah yang dianugerahkan oleh Roh Kudus.

Inilah pesan pengharapan Pentakosta. Dalam segala keletihan perjuangan hidup kita boleh berharap akan “panenan” (buah) kehidupan melimpah dari Allah. Setelah mengalami masa kegelapan dalam hidup, kita boleh memasuki musim semi kehidupan yang indah.

Karena itu, mari kita bersatu mendaraskan madah Pentakosta ini: Ketika pikiran kita gelap dan hati kita galau oleh aneka masalah hidup yang melilit: “Datanglah Roh Ilahi dan Terangilah Kami dengan Sinar Surgawi.”

Saat duka, dan hati kita sakit dan terluka oleh sembilu kata dan perbuatan orang lain, berserulah pada-Nya: “Datanglah Sumber Kasih Pelipur Hati Sedih, Pencinta Tanpa Pamrih.”

Manakala kita capek dengan hidup ini dan terkulai karena kehilangan tenaga, berpalinglah pada-Nya: “Kuatkanlah Yang Lemah, Bangunkanlah Yang Rebah.”

Di saat arus zaman mengombangambingkan kita dengan pelbagai pesona duniawi:
“Sejukkanlah Yang Panas, Giatkanlah Yang Malas, Lembutkanlah Yang Ganas.”

Tatkala hidup kita ternoda oleh dosa dan tergelincir dalam kejahatan, mintalah:

“O Cahaya Mulia
Penuhilah Segera Hati hamba-Mu…
Yang Kotor Bersihkanlah
Yang Kering Siramilah,
Yang Kaku Lemaskanlah,
Yang Beku Luluhkanlah,
Yang Sesat Pulangkanlah.
Kami Umatmu ini
Mohon Sapta Karunia Roh Suci.
Berkati Kami Setia Padamu,
Bahagia Selalu”. Salam Pentakosta. Tuhan memberkati…😊🙏

Comments are closed.