Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu: Hidup Keagamaanku Seperti Apa?

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu VI/A, 15 Februari 2026: Mat 5:20-37)

Kritik Yesus dalam injil hari minggu ini tidak hanya pedas untuk orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi juga sangat menyengat hidup keagamaanku. Semua orang secara sadar menganut agama tertentu umumnya dengan tujuan hidup baik dan bahagia di dunia ini serta kelak akan masuk Surga. Karena itu kritik pedas Yesus dalam injil menyentakkan kita semua, orang beragama, manakala Dia mewanti wanti:  Jika hidup keagamaanmu tidak lebih baik dari orang Farisi dan ahli taurat, kamu tak akan masuk Kerajaan Surga (Mat 5:20).

Apakah yang salah dari hidup keagamaan orang Farisi dan ahli Taurat? Pertanyaan ini semakin menggelitik, terlebih karena justru dua kelompok inilah yang paling taat menjalankan ajaran dan hukum agama Yahudi. Tentulah muncul kecemasan ini dalam diri kita: bila mereka yang taat beragama saja tak layak masuk Kerajaan Surga, apalagi saya yang hidup keagamaannya “tidak jelas”.

Bila kita mengamati injil, ada beberapa hal mendasar yang dikritik oleh Yesus dari cara beragama orang Farisi dan ahli Taurat. Pertama, motivasi keagamaan mereka yang keliru, yaitu bukan untuk memuliakan Allah, tetapi diri sendiri. “Mereka senang berdoa di depan umum, dan doyan mengucapkan doa yang panjang panjang agar dipuji orang”, kritik Yesus.

Di sini agama dipakai untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan agama dimanipulasi untuk ambisi pribadi atau untuk menutupi kebobrokan diri. Hal ini tampak dalam hidup keagamaan yang “sok suci”, dan yang tergila-gila dengan pencitraan, yang senang pamer busana dan asesoris kecantikan di Gereja. Hidup keagamaan yang narsis inilah yg diserang Yesus habis habisan dalam injil. Kenakah juga kritik Yesus untukku?

Kedua, praktik keagamaan yang legalistis dan formalistis. Orang Farisi dan ahli Taurat terlampau menekankan praktik harafiah dan melupakan roh kemanusiaan dan keadaban dari setiap aturan. Mereka begitu taat buta dan kaku terhadap hukum sehingga lupa bahwa hukum diciptakan untuk kebaikan manusia. Seperti prinsip yang Yesus tegaskan bahwa hari sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari sabat (Mk 2:27). Sayangnya untuk orang Farisi dan ahli Taurat, aturan lebih utama dari belas kasih. Ritual agama lebih penting dari perbuatan cinta kasih. Bukankah kritik Yesus ini kena juga terhadap praktik keagamaanku?

Ketiga, penghayatan iman yang minimalis, yang dibatasi dan dipenjara oleh rumusan kaku. Orang Farisi dan ahli  Taurat berpuas diri pada rumusan aturan formal. Sebaliknya Yesus menginginkan  penghayatan iman yang optimal. Yaitu iman yang bertumbuh kembang kreatif dan terus menerus berjuang menjangkau horison cinta ilahi yang tak terbatas. Maka yang perlu diatasi bukan hanya pembunuhan, tapi juga angkara murka (marah) yang merusak persaudaraan. Yang perlu disingkirkan bukan hanya praktik perzinahan tapi juga “zinah batin”. Yang perlu diperjuangkan adalah kejujuran yang konsisten, bukan sumpah palsu, yang memanipulasi nama Allah. Kenakah kritik Yesus ini terhadap hidup keagamaanku juga?

Mari kita membiarkan diri dikritik dan dibarui oleh Sabda Yesus. Selamat berhari minggu. Tuhan memberkati…

Comments are closed.