Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu Advent 1/A: Merangkai Harapan pada Allah.

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu 30 Nov 25: Yes 2:1-5; Rm 13:11-14a; Mat 24:37-44)

Ketika hidup kita sedang “tidak baik-baik saja”, saat kabut gelap penderitaan menaungi diri, kita boleh terus merangkai pengharapan dalam Tuhan. Janganlah berputus asa! Percayalah pada Tuhan. Bersandarlah pada kasih sayang-Nya yang abadi. Itulah pesan utama Sabda Tuhan dalam Minggu Advent 1 ini.

Situasi umat Israel dalam zaman nabi Yesaya sangatlah mengenaskan. Mereka hidup di tanah asing, menjadi tawanan dan budak dari bangsa Babel. Sejarah pahit kelam nenek moyang mereka sebagai budak di tanah Mesir terulang kembali. Yang lebih pahit, nasib naas bangsa Israel terjadi setelah mereka menjadi Kerajaan besar di tanah terjanji dengan ibukota Yerusalem dan Bait Allah yang megah, tempat ibadah suci mereka. Tapi kini semuanya telah dimusnahkan. Dalam kehancuran bangsa yang pedih ini, Yesaya melambungkan pesan pengharapan: Allah tetap setia. Dia tak lupa pada umat-Nya. Dia akan menuntun mereka bersama dengan bangsa bangsa lain ke Yerusalem Baru yang penuh kedamaian dan sukacita abadi (Yes 2:1-5).

Allah sejatinya tidak pernah bermasa bodoh dengan kesengsaraan kita. Meski kita sering sulit merasakan kehadiran-Nya, terlebih dalam “malam-malam gelap penderitaan”. Tapi Dia selalu peduli dan terlibat dalam hidup kita yang sering penuh duka nestapa ini. Lebih dari itu Dia akan dan bahkan sedang bertindak untuk menyelamatkan kita. Itulah pesan pengharapan yang digaungkan oleh nabi Yesaya dalam bacaan pertama.

Itu pulalah pesan pengharapan Yesus dalam injil. Yesus mengajak kita untuk selalu berharap pada Allah dalam setiap saat hidup ini. Karena itu janganlah sehari hari hidup seenaknya, yang terikat dengan kenikmatan duniawi, terus “berpesta pora dan bermabukan”, tak mempedulikan Allah, seakan akan Dia masih lama baru datang. Yesus mengingatkan bahwa waktu Allah berbeda dari waktu manusia. Dia bisa datang kapan saja. Karena itu selalu “berjaga jagalah!”. Kita perlu selalu siap sedia menyambut kedatangan-Nya. Hidup ini mesti ditata sedemikian agar selalu terbuka terhadap kedatangan-Nya, dan bukannya terjerumus ke dalam kenikmatan duniawi yang palsu.

Demikian pula ajakan Rasul Paulus dalam bacaan kedua agar kita selalu siap sedia menyongsong kedatangan Tuhan. Dalam bahasa kiasan yang indah, Paulus mengajak kita untuk segera “bangun dari tidur”, keluar dari zona nyaman, keluar dari keong mas kehidupan yang memberi kenikmatan dan perlindungan yang palsu. Selanjutnya Santu Paulus menuntut kita untuk menanggalkan “perbuatan perbuatan kegelapan”. Ia mengarahkan kita untuk mengenakan senjata terang, yang tak lain dari, Yesus Kristus sendiri (Rm 13). Dialah terang hidup kita. Dialah yang sedang kita rindukan. Dialah yang sedang datang untuk mengisi relung hidup kita yang gersang dan galau. Mari kita menyongsong-Nya. Adventus! Datanglah ya Tuhan, datanglah! Salam Minggu Advent 1. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.