Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu 5A: GARAM & TERANG DUNIA

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu, 8 Februari 2026: Yes 58:7-10; Mat 5:13-16).

Menjadi Kristen bukanlah berarti “lari dari dunia” (fuga mundi) dan berkutat dalam keong emas kehidupan komunitas Gereja yang nyaman dan mapan. Juga menjadi pengikut Kristus tampak tidak hanya dalam kesibukan dengan urusan rohani saja. Tidak! Kekristenan terungkap dalam perutusannya di tengah dunia. Kemuridan Yesus terwujud dalam pergumulan hidup sehari-hari di muka bumi ini. “Kemuridan tidak hidup untuk dirinya sendiri, berpuas diri di sudut dunia, tetapi di tengah publik, tampak dan terakses bagi orang lain. Gereja perlu “tampak”, bukannya “bersembunyi” (Joachim Gnilka, Ekseget Jerman). Jati diri Kekristenan inilah yang dikumandangkan Yesus dalam kotbah di bukit: “Kamu adalah garam dan terang dunia” (Mat 5).

Garam dipakai dalam dunia konsumsi sebagai pelezat makanan. Kita semua mengalami, hidangan tanpa garam terasa hambar, dan tidak enak. Demikianlah Kekristenanku terasa ketika saya membuat hidup orang lain nyaman, enak dan bahagia. Tawa canda saya menghiasi keindahan kebersamaan. Kehadiran saya membuat komunitas menjadi hidup dan kreatif. Dalam tradisi Yunani, garam adalah simbol hospitalitas. Demikianlah garam adalah tanda kehangatan dan kemesraan dalam relasi dengan yang lain.

Jadi menjadi saksi Kristus di tengah dunia (“garam”) tak mesti harus terjadi dalam perbuatan hebat dan peristiwa dasyat. Senyum yang ceria, sapaan yang hangat, tawa yang riang, bantuan yang tulus, tapi juga kritik yang membangun, teguran kecil persahabatan adalah “garam-garam” kecil tapi enak dan lezat dalam kehidupan bersama orang lain di tengah dunia ini.

Sering orang mengabaikan atau tak peduli dengan hal-hal kecil dalam hidup sehari hari. Pengurbanan mama/isteri yang bangun pagi buta untuk memasak dan menyiapkan makanan dianggap biasa saja. Peluh keringat papa/suami yang bekerja seharian suntuk untuk menafkahi keluarga dan membiayai sekolah anak dianggap kewajiban belaka. Akibatnya hal hal rutin dan biasa begini kurang dihargai, “tak dianggap”, kehilangan “rasa dan nikmatnya”, membosankan. Karena itu Yesus mewanti wanti dalam injil hari minggu ini, jika garam itu menjadi tawar, apakah gunanya, selain diinjak dam dibuang orang? Ibu Teresa pernah bilang, Tuhan tidak butuh karya karya besar dariku. Yang DIA hargai adalah kesetianku, dalam hal kecil, rutin dan sederhana.

Saksi Kristus jangan sembunyi-sembunyi, tetapi harus tampak nyata. Ini bukan untuk pamer apalagi pencitraan tetapi agar kesaksian itu dirasakan secara nyata oleh orang lain. Karena itu Yesus mengatakan dalam injil, kamu adalah “terang dunia”, kamu ibarat pelita yang perlu ditempatkan di atas kaki dian sehingga dapat menerangi semua orang di dalam rumah.

Menjadi saksi Kristus sangatlah penting dan mendesak di tengah dunia dewasa ini. Terlebih dalam zaman narsis yang semakin tak peduli dengan Kristus, dan mengabaikan nilai nilai Injili, hendaklah “terangmu semakin bercahaya”, dan orang merasakan “perbuatan baikmu”.

Seperti apa perbuatan baik itu? Nabi Yesaya mendaftarnya dalam bacaan pertama berikut ini: memberi makan bagi yg lapar, pakaian kepada yg telanjang, tumpangan bagi gelandangan. Bukan hanya dalam aspek material, perbuatan baik juga terwujud dalam hal psikologis manusiawi: tidak membebani sesama, tidak menunjuk orang dengan jari, tidak memfitnah, peduli dengan korban penindasan. Hanya dengan begitu, seorang Kristen menjadi Kristiani, dan Gereja menjadi Gereja Yesus Kristus.

Kemudian, ternyata perbuatan baik demikian tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi juga berguna bagiku. Seperti halnya kejahatan tidak hanya merusak yang lain tapi juga diri sendiri, demikian pulalah sebaliknya, perbuatan baik juga “menyembuhkan luka lukamu”, dan melaluinya “terangmu akan merekah laksana fajar”, ujar nabi Yesaya. Bahkan pada waktu itu bila engkau memanggil Tuhan, dan Dia akan menjawab. Dan kalau engkau berteriak minta tolong, dan ia akan berkata, ini Aku! Di sini doa bersatu dengan cinta. Ibadat tak terpisahkan dari perbuatan baik.

Namun Yesus juga mengingatkan agar perbuatan baik itu dilakukan dengan tulus, bukan demi pencitraan. Tujuannya tidaklah narsis (egois), tetapi agar orang “memuliakan Bapamu yang di Surga”. Semuanya dilakukan semata demi kemuliaan Tuhan. Ad maiorem Dei Gloriam. Demikian motto kehidupan Santo Ignasius Loyola. Selamat bersaksi, Selamat merayakan hari minggu. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.