Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(Minggu 18 Januari 2026: Yes 49:3.5-6; Yoh 1:29-34)
Setiap kali kita merayakan Ekaristi, doa jelang Komuni ini terdaras lembut penuh pengharapan: Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami! Tidak hanya sekali, bahkan tiga kali. Gestikulasi sempurna penyerahan diri kita sepenuhnya kepada pelukan kerahiman ilahi yang memberikan damai yang sejati dalam hidup ini, bukan damai semu, damai sesaat yang diberikan oleh kenikmatan duniawi tetapi damai yang langgeng, berkelanjutan, yang abadi: berilah kami damai, amin.
Dengan ini pula kita sesungguhnya masuk ke dalam misteri penebusan yang telah dirayakan dalam Doa Syukur Agung: peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus yang menyelamatkan kita. Maka dari itu Ekaristi bukan sebuah ritual (upacara) kosong tetapi ritual berisi. Apa isinya? Yaitu: penyelamatan kita. Itulah sebabnya Konsili Vatikan II menandaskan, setiap kali di atas altar ekaristi, Anak Domba Paskah dikurbankan, terlaksanlah karya penebusan kita.
Akan tetapi, bagaimanakah kaitan pengurbanan Anak Domba dengan penyelamatan kita. Apa arti Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, yang diserukan Yohanes Pembaptis saat melihat Yesus datang kepadanya?
Untuk mengerti hal ini, marilah kita menerawang ke dalam alam pikiran dan keyakinan Israel pada saat itu. Tradisi Yahudi mengenal kebiasaan mempersembahkan kurban hewan di antaranya anak domba di kenisah sebagai tanda pendamaian dengan Allah. Bagaimana penjelasannya?
Dengan dosanya manusia melawan Allah, dengan akibat ia mengalami hukuman. Hukumannya adalah terpisah dari Allah, yakni kematian. Maka dari itu Rasul Paulus dalam surat Roma mengingatkan bahwa upah dosa adalah maut (Rm 6:23). Bersatu dengan Allah berarti kehidupan, berpisah dari-Nya berarti kematian kekal.

Tetapi justru melalui kurban hewan itu keterpisahan dari Allah tersebut diatasi. Di satu pihak Israel mengungkapkan penyesalan atas dosa-dosanya, dan di lain pihak Allah mengampuni Israel. Hukuman yang seharusnya diterima oleh manusia secara simbolis dijatuhkan pada hewan itu. Sekaligus darah hewan yang melambangkan kehidupan, merangkai kembali hubungan Allah dan umat-Nya Israel yang sebelumnya telah dirusak oleh dosa. Melalui darah kurban itu, Israel dihidupkan. Melalui ritual kurban domba itu, Perjanjian antara Allah dan Israel dibarui kembali: Dia menjadi Allah mereka, dan Israel menjadi umat-Nya. Itulah arti perayaan Paskah Israel, setelah membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir, Allah mengikat perjanjian kasih dengan Israel (Kel 29:38-46).
Peran anak domba Paskah Israel inilah yang digantikan oleh Yesus Kristus melalui kurban-Nya di kayu salib. Sejak zaman Perjanjian Lama, nabi Yesaya dan Yeremia telah bernubuat tentang anak domba yang dibawa ke pembantaian untuk menebus dosa Israel (Yes 53:7; Yer 11:19). Bahkan dalam bacaan pertama tadi digarisbawahi oleh Yesaya bahwa hamba Yahwe itu, Anak Domba Allah itu akan menjadi terang bangsa-bangsa (Yes 49:6). Persis inilah Perjanjian Baru yang dinyatakan Kristus, bahwa kurban dosa itu berlaku tidak hanya untuk Israel, tetapi semua umat manusia.
Lebih dari itu kurban Kristus di salib berlangsung sekali tetapi dengan daya penyelamatan yang abadi, untuk selama-lamanya. Persis inilah yang kita rayakan dengan penuh syukur dalam misa: kurban Kristus di salib yang menyelamatkan kita dari dosa dan kematian kekal, yang menganugerahkan kita rahmat (pendamaian dengan Allah) dan kehidupan abadi (Ibr 10:12.14; Rm 6:23).
Pertanyaannya mengapa harus dengan kurban Kristus di salib untuk menyelamatkan kita? Tentu sebagai Allah, Dia memiliki cara lain lain untuk menyelamatkan kita. Akan tetapi mengapa dengan jalan ini, lewat kurban salib yang mengerikan?
Injil Yohanes menjawabnya, semata karena cinta: Begitu besar kasih Allah kepada dunia sehingga Dia menyerahkan putera-Nya yang tunggal sehingga yang percaya kepada-Nya tidak binasa tetapi memperoleh hidup kekal (Yoh 3:6). Karena cinta, Allah telah menebus kita bukan dengan barang duniawi, bukan pula dengan emas dan perak, tetapi dengan darah mulia putera-Nya sendiri yang tak bernoda dan tak bercacat (1 Petr 1:18-21).
Jadi pada hari minggu ini, pemakluman Anak Domba Allah oleh Yohanes Pembaptis sesungguhnya adalah proklamasi cinta ilahi yang begitu agung dan indah dalam hidup masing masing kita yang rapuh dan penuh noda. Pesan yang indah dan meneguhkan adalah dalam segala luka sejarah hidup ini kita boleh selalu merasa daya ajaib penyembuhan ilahi. Dalam segala kepahitan hidup ini kita boleh merangkai pengharapan dalam cinta Kristus, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dalam segala dosa, kita boleh bersandar pada kekuatan pengampunan-Nya yang memberikan damai dan sukacita yang abadi. Selamat berhari minggu. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.