Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
[Kamis, 2 April 2026 | Yohanes 13:1-15]
Seorang guru mencuci kaki para murid, ini bukan hal biasa, tetapi luar biasa. Bahkan ini sebuah “novum”, hal baru. Tak ada guru yang melakukan hal ini. Terlebih lagi, bila yang membasuh bukan sebarang guru tetapi sekaligus Tuhan. Ini sungguh spektakuler, tak ada duanya. Tindakan pembasuhan kaki para rasul oleh Yesus sungguh peristiwa agung dan mulia yang tentu memiliki makna simbolis yang sangat kaya dan dalam.
Ada tiga simbol indah bermakna yang ditampilkan. Pertama, bapa Gereja Origenes melihatnya sebagai ungkapan dan kelanjutan dari peristiwa inkarnasi. Dalam pembasuhan kaki tampaklah misteri “kenosis”, Allah yang mengosongkan diri-Nya, dan bahkan merendahkan diri-Nya menjadi manusia (Flp 2:7-8). Peristiwa Natal bergema lagi dalam malam Kamis Putih ini. Allah turun dari keabadian Surga ke dalam kerapuhan dunia. Dia beralih dari kekuatan Ilahi-Nya kepada kelemahan insani. Dia meninggalkan kemuliaan-Nya dan masuk ke dalam kehinaan manusiawi.
Bukankah “gerak turun” Kamis Putih yang merefleksikan peristiwa inkarnasi ini yang perlu menjadi gerakan bersama kita dewasa ini? Begitu banyak terjadi konflik dan kekerasan dalam keluarga, masyarakat dan dalam Paroki, begitu sering peperangan berkecamuk di muka bumi ini karena “gerak naik” manusia. Semua hal itu terjadi karena ambisi, gengsi, gila hormat, nafsu berkuasa, gila pangkat, ketenaran, pencitraan. Bukan hanya dalam dunia politik, ekonomi, dan budaya juga dalam kehidupan sehari hari dalam keluarga dan “keluarga besar” (anak wina d anak rona) sering terjadi masalah akibat “gerak naik” ini, karena gengsi, kesombongan, penghinaan yang lain, keengganan untuk mengalah, ketidakrelaan untuk mengampuni dan berbagi.
Maka sejak hari Kamis Putih ini mari kita “berbalik arah”, metanoia, bertobat. Mari kita tanggalkan ambisi yang merusak orang lain dan meracuni diri sendiri. Mari kita lepaskan pakaian pencitraan yang menutup keangkuhan dan ketegaran hati yang telah menghina dan menyakiti yang lain. Mari kita bersinode, menjalin bersama tapak tapak pengampunan, perendahan diri, dan pelayanan.
Simbol kedua peristiwa pembasuhan kaki oleh Yesus adalah pantulan peristiwa cinta. Pembasuhan kaki pada zaman Yesus bukan hanya terjadi antara pihak hamba dan tuan, tetapi juga tindakan kasih sayang yang dilakukan oleh isteri terhadap suami, dan anak-anak terhadap orangtua. Maka pembasuhan kaki para murid oleh Yesus adalah ungkapan cinta-Nya yang tak ada duanya. Itulah yang ditandaskan juga oleh penginjil Yohanes sebagai dasar pembasuhan kaki Yesus: “Dia mencintai mereka sampai saat terakhir” (ay.).

Bukankah ritus pembasuhan kaki yang barusan kita peragakan sungguh sangat inspiratif untuk gestikulasi ungkapan cinta dalam kehidupan keluarga? Cinta butuh ekspresi, ungkapan nyata. Tak cukup dalam hati saja. Maka sapaan mesra suami istri satu sama lain seperti “momang” “sayang” janganlah hanya pada saat pacaran saja. Begitu pula pelayanan rutin ibu rumah tangga, bapak keluarga bukan hanya kewajiban belaka, tapi perlu diapresiasi dengan tulus lembut, misalnya: “terima kasih, sayang”, atau “saya bersyukur memiliki mama atau papa sepertimu”.
Akhirnya peristiwa pembasuhan kaki oleh Yesus mengarah pada peristiwa pengurbanan-Nya di kayu salib. Kamis Putih mengalir ke Jumat Agung. Pembasuhan kaki memperlihatkan pelayanan dan pengurbanan Yesus yang sepenuhnya dan total bagi manusia. Dia tidak hanya melayani, tetapi sampai sehabis-habisnya. Dia tidak hanya berkurban terapi sampai mengurbankan diri sampai tetes darah terakhir. Inilah arti cinta Kristiani yang sejati dan benar.
Bukankah dalam pelayanan sehari hari, kita hendaknya tak jatuh dalam rutinitas, tetapi terus menerus menggali makna pelayananku sebagai orang Katolik? Apakah yang membedakan pelayanan Kristiani dari yang lain? Yakni dalam motivasi dan totalitas perwujudannya. Saya melayani karena saya ingin mengikuti teladan Tuhan yang telah melakukannya dengan tulus dan sepenuhnya. Jadi pelayanan Kristiani harus selalu optimal, maksimal, total, tak cukup minimal, tak cukup hanya karena aturan, tugas, dan rutinitas belaka.
Dengan demikian sampailah kita pada pesan penutup Yesus setelah membasuh kaki para murid-Nya: jikalau Aku yang adalah guru dan Tuhanmu telah membasuh kakimu, lakukanlah demikian kepada yang lain. Misa Kamis Putih tak berakhir di Gereja. Pembasuhan kaki bukanlah ritus belaka, tetapi mengandung karakter dasar perutusan. Mari kita biarkan diri dibasuh oleh cinta Yesus yang lembut agar tergerak untuk semakin melayani yang lain “lebih sungguh” dan “lebih semangat”. Kamis Putih adalah sebuah “missio”, perutusan cinta: pergilah, lakukanlah demikian, kata Yesus kepadaku dan kepadamu…. Amin…

Comments are closed.