Oleh : RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(18 April 2025: Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16;5:7-9; Yoh 18:1-19:42)
Lihatlah Manusia ini! Ecce homo! (Yoh 19:5), seru Pilatus kebingungan kepada khalayak ramai, setelah ia tak menemukan kesalahan apa pun dalam diri Yesus yang pantas dijatuhi hukuman mati. Namun massa dengan beringas semakin berteriak nyaring: enyahkanlah Dia! Salibkan Dia! Tanpa disadarinya dalam peristiwa Jumat Agung, Pilatus telah memperlihatkan kepada dunia bahwa hanya dalam diri Yesuslah tampak manusia yang sejati. Ironisnya orang Yahudi (manusia) justru dengan pongah menolak hal ini. Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes menandaskan bahwa jatidiri manusia yang benar (sejati) hanya ditemukan dalam diri Yesus, Allah yang menjadi manusia. Dialah yang memberi inti dan citra yang benar dan tepat pada kemanusiaan (GS,22). Lalu, siapakah manusia dalam diri Yesus itu? Bagaimanakah menjadi seorang manusia sejati dalam hidup ini?
Sangatlah mencengangkan bukan seperti yang digambarkan dan dirindukan dunia. Manusia sejati itu ternyata bukan yang berpenampilan wah dan aduhai, bersemarak kemewahan dan keindahan. Tidak! Justru yang dilukiskan injil, manusia sejati Yesus adalah manusia yang berpenampilan jelek. Nabi Yesaya melukiskan dengan miris keadaan Sang Hamba Yahwe, Yesus, itu: “banyak orang tertegun melihat dia- rupanya begitu buruk,” (Yes 52:14). Dia “tidak tampan”, sehingga orang “tidak tertarik untuk memandang dia; …rupanya tidak menarik, sehingga kita tidak terangsang untuk menginginkannya.” (Yes 53:2). Ternyata identitas manusia tidak terletak dalam pencitraannya. Kehebatan manusia tidak diukur dari kedasyatan dan kemolekan penampilannya. Tidakkah kebenaran ini menohok arus pencitraan hidup kita dalam zaman gaya hidup “digital” dewasa ini?

Bukan hanya secara fisik, juga secara psikis, manusia sejati adalah orang yang rentan dihina dan disakiti. Lagi-lagi nabi Yesaya melukiskan, bagaimana sang Hamba Yahwe itu, “dihina dan dihindari orang”, “penuh kesengsaraan”, dan “biasa menderita kesakitan” (Yes 53:3). Ternyata manusia sejati bukanlah orang yang hidup selalu nyaman dan aman. Ia bukan hidup dalam istana yang serba ada. Ia tidak miskin dari masalah dan tantangan. Manusia sejati bukan orang yang berjoget ria dalam kemapanan. Tetapi orang yang berenang dalam arus masalah. Dia selalu dirundung pahit dan manis dalam hidup ini. Dia rapuh dan rentan untuk disakiti dan dilukai. Bukankah pesan jumat agung ini sangat menghibur dan menguatkan kita yang dalam hidup ini juga sering terluka dan disakiti oleh yang lain?
Lebih dari itu, tatkala dalam dunia dewasa ini orang berlomba-lomba mengejar kekuasaan, dan senang menguasai, mendominasi dan menindas yang lain, ternyata manusia sejati memiliki spirit berbeda. Dia tidak ditopang oleh kekuasaan dan tidak mengandalkan kekuasaan. Dia tidak terobsesi oleh prestasi dan keberhasilan. Dia bukan orang yang menang tapi orang yang “gagal”. Dia tak berdaya, seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (Yes 53:7). Bukankah inspirasi manusia sejati Yesus ini sangat menyentuh dan meneguhkan hidup kita yang juga sering gagal dan tak berhasil, bahkan terkadang jatuh dalam putus asa?

Di salib, Yesus memang kalah secara duniawi. Dia tak melawan dengan senjata duniawi. Karena Dia hanya memiliki dan mengenakan senjata Ilahi. Manusia sejati adalah orang yang mengandalkan Allah. Senjatanya bukan konflik dan kekerasan, tetapi damai dan pengampunan: “Bapa, ampunilah mereka” (Luk 23:34). Senjata Yesus bukanlah egoisme, terarah ke diri sendiri, tetapi pengurbanan, tearah kepada kebahagiaan dan kehidupan yang lain. Biji gandum baru tumbuh dan menghasilkan banyak bulir, bila ia jatuh ke dalam tanah dan mati, tegas Yesus (Yoh 12:24). Dengan cara seperti inilah Yesus menang dengan mulia. Inilah yang dijamin oleh Allah sendiri dalam nubuat nabi Yesaya: “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan.” (Yes 52:13).
Hari ini, Jumat Agung, Pilatus berseru kepadaku dan kepadamu juga: Ecce Homo! Lihatlah Manusia ini! Namun Manusia Yesus ini sekaligus adalah Allah. Allah yang manusiawi. Allah yang peduli dengan kita. Allah yang berbela rasa dengan penderitaan kita. Kitab Ibrani mengungkapkannya dengan sangat menyentuh, “Imam Agung yang kita punya, bukanlah yang tidak dapat merasakan kelemahan kita! Sebaliknya Ia sama dengan kita!” (Ibr 4:15).
Karena itu mari saudara/iku, mari kita berlari memeluk-Nya. Tak perlu malu dengan kegagalan dan kehinaan hidupmu, karena Dia juga telah merasakannya. Tak perlu cemas dengan luka-luka hidupmu, karena Dia telah menyembuhkannya. Tak perlu takut dengan dosa-dosamu, karena Dia telah menebusnya. Dalam bilur-bilur luka-Nya, hidupmu disembuhkan. Selamat merayakan Jumat Agung. Tuhan memberkatimu….

Comments are closed.