Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Akhir dan Awal Tahun: Waktu lebih Berharga dari Materi

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(31 Desember 2025: Yoh 1:1-18; Kej 1:1-28).

Peralihan tahun adalah momentum yang sangat berharga dan indah untuk menemukan kembali arti waktu dalam kehidupan ini. Melalui perayaan akhir dan awal tahun yang gegap gempita orang kembali merasakan betapa kehidupannya berjalan dan mengalir dalam waktu. Betapa waktu itu sangat bermakna dan bernilai. Tanpa waktu hidup ini terasa kosong dan hampa. Itulah yang kita alami saat sibuk dan stress (tak ada waktu, tergesa gesa). Tanpa waktu kehidupan ini berhenti dan berakhir. Itulah yang kita alami dalam kematian.

Sayangnya manusia zaman ini kehilangan energi, daya hidup dan roh dari waktu. Mengapa? Karena dia telah terjebak, terkungkung dan terangkeng dalam materialisme. Manusia hidup hanya berlomba-lomba untuk mencari dan menikmati benda-benda. Untuk itu dia dengan tega mengeksploitasi bahkan menyingkirkan yang lain. Manusia zaman ini terpesona, terbuai dan terobsesi dengan kenikmatan daging yang ditawarkan oleh materi. Ia telah menjadi “mahkluk hedon” yang tergiur dan terjerumus ke dalam nafsu material. Anak zaman dewasa ini juga telah menjadi “monster pencitraan” yang terpesona dan tergila gila oleh “cashing” indah jasmaniah yang artifisial.

Sebaliknya waktu itu spiritual. Dia tak bisa diraba, hanya bisa dirasa. Dia tanpa wujud, hanya bisa dialami. Dia tak bisa dibentuk dan dikonstruksikan, hanya bisa dihayati. Waktu tak bisa dimiliki. Mungkin karena itu manusia yang egois tak peduli dengannya. Benda bisa dibuat oleh manusia tetapi waktu tidak. Manusia hanya bisa menerima waktu dan mengisinya. Waktu adalah anugerah yang hanya bisa disyukuri.

Waktu adalah hadiah ilahi yang pertama dalam karya penciptaan. Sebelum menciptakan benda Allah menciptakan waktu. Sebelum menciptakan segala mahkluk hidup dan manusia, Allah terlebih dahulu mengadakan waktu. Sebab waktu adalah prasyarat kehidupan. Jadilah terang, itulah hari pertama. Justru dengan adanya terang inilah, mulailah pula waktu.

Sebelum itu menurut Kitab Kejadian hanya ada kegelapan. Dalam kegelapan tak ada waktu. Baru setelah terbit fajar, terbentuk pula pembagian siang dan malam, terjadi pula waktu (Kej 1:1-5). Setelah terang itulah baru diciptakan oleh Allah segala benda dan mahkluk. Daratan, lautan, udara dengan segala benda material di dalamnya dan juga dengan segala mahkluk hidup di dalamnya. Namun semua benda material dan mahkluk hidup ini baru ada, baru bereksistensi setelah adanya terang, setelah adanya waktu. Waktu adalah syarat dasar kehidupan. Tak mengherankan akhir dari setiap mahkluk ketika dia tidak lagi memiliki waktu. Saat dia mati.

Nilai terluhur waktu tidak hanya terbentuk dalam karya penciptaan tetapi juga dalam karya penebusan Kristus. Setelah tiba waktunya, Allah mengutus putera-Nya ke tengah dunia, kata Kitab Ibrani (1:1-2). Injil Yohanes menandaskan, “Firman yang abadi (Yoh 1:1) telah menjadi manusia dan tinggal di tengah tengah kita” (Yoh 1:14). Artinya Sang Sabda yang Abadi (Yesus Kristus) menjadi “waktu”, masuk dalam sejarah manusia dan menghayati siang malam hidup manusia yang fana. Maka dalam peristiwa inkarnasi (Natal) Allah sendiri datang untuk menguduskan waktu. Yang mengisi dan menghidupi waktu tidak hanya mahkluk ciptaan tetapi bahkan Allah sendiri melaui Yesus Kristus, Putera Allah.

Akibatnya, sejak itu waktu tidak hanya “kronos”, aliran rutin kosong pagi siang malam, tetapi telah menjadi “kairos”, peristiwa bermakna karena dipatri oleh kehadiran kasih ilahi. Dalam kematian-Nya, Sang Sabda, yang melalui-Nya, segala sesuatu diciptakan (Yoh 1:3) bersetiakawan dengan manusia fana yang waktunya berakhir dalam kematian. Tetapi melalui peristiwa Paskah, kebangkitan-Nya, Kristus menganugerahkan waktu yang abadi kepada segala insan bahkan segala mahkluk (Rom 8:19-23). Dialah Sang Terang sejati, waktu abadi yang telah mengalahkan kegelapan (maut dan dosa) (Yoh 1:5). Dalam diri Kristus, waktu dikuduskan dan mencapai kepenuhannya dalam keabadian.

Karena itu waktu sejatinya sangat jauh lebih berharga daripada benda atau materi. Maka jangan berikan materi tetapi terlebih dahulu waktumu bagi yang lain. Hal ini sudah kita alami dalam hidup manusiawi sehari-hari. Kita sangat berbahagia bila orang memiliki waktu untuk kita, bukan pertama-tama karena ia memberi benda untuk kita. Kita merasa begitu dicintai ketika kita diperhatikan, disapa dan didengar, saat ada waktu bercerita satu sama lain, bergurau dan bahkan berduka satu sama lain.

Itu pula sebabnya, mengapa dalam keluargalah kita merasa paling berbahagia? Karena disitulah kita dicintai, diperhatikan, di-“care”, dirawat, dipelihara. Di situ kita dianugerahkan waktu oleh bapa mama, saudara dan saudari. Dan betapa berbahayanya hidup keluarga ketika dalam era digital ini, orang tak lagi memberi waktu bagi orang yang mencintainya, tetapi berleha leha sepanjang waktu dengan hp. Orang tak lagi berkomunikasi hidup, mesra dan menyentuh satu sama lain tetapi terpesona dengan benda mati layar digital yang artifisial (buatan).

Hidup insani kita selalu bedendang: Cinta terjadi hanya bila orang punya waktu bagi yang lain. Bukan pertama tama karena orang memberi materi kepada yang lain. Maka tak mengherankan bila orangtua yang hanya memberikan materi dan bukannya waktu, mereka kelak akan didurhakai oleh anak anaknya sendiri. Pasangan suami istri yang hanya sibuk mencari harta dan memberi materi, tetapi tak punya waktu bagi yang lain, akan merasakan hidup yang hampa, asing terhadap yang lain. Perlahan lahan mereka berpisah bahkan lalu bercerai dari yang lain.

Apa pesan inti perayaan akhir tahun ini? Apa inspirasi bernas dari tahun yang baru? Bukan sekedar sorak gegap gempita dengan kembang api, musik membahana dan kuliner enak. Bukan dengan benda dan materi. Tapi satu hal: hargailah waktu dalam hidupmu, dan berikanlah waktumu kepada yang lain. Mungkin karena waktu itu sangat berharga dan disimbolkan dengan terang yang mengalahkan kegelapan, tanpa sadar manusia mengungkapkan sukacita pada saat pergantian tahun, pada peralihan waktu dengan merayakan terang, dengan berpesta kembang api.

Ungkapan bijaksana sedari dulu ini kiranya selalu bergema dalam dirimu: “Bila engkau ingin bahagia, belajarlah untuk mencintai dan dicintai.” Ini sesungguhnya berarti: Belajar dengan tulus untuk berbagi waktu yang dihadiahkan Allah bagimu kepada yang lain. Selamat merayakan akhir tahun 2025 dan selamat menyongsong tahun baru 2026 dengan penuh sukacita. Berkat Tuhan bagimu…

Comments are closed.