Press "Enter" to skip to content
Input Uskup Ruteng pada Sidang Pastoral keuskupan Ruteng, Senin 9 Januari 2023

INPUT BAPAK USKUP RUTENG: DALAM SIDANG PASTORAL POST NATAL 2023
TAHUN EKONOMI BERKELANJUTAN

Pengantar

Romo Vikjen, para Romo, Pater Provinsial, Para Pastor Paroki dan Pimpinan Lembaga, Para Ketua DPP dan seluruh peserta Sidang Pastoral Postnatal 2023 yang dikasihi Tuhan! Dari hati yang tulus dan dalam, pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat Natal 2022 dan bahagia Tahun Baru 2023. Kelahiran Yesus adalah terang yang menyinari kegelapan hidup kita dan obor yang menuntun langkah-langkah hidup kita dalam menapaki Tahun Baru 2023 ini. Mari kita bergandengan tangan berjalan bersama Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah di tanah Nucalale tercinta, bumi Manggarai Raya ini.

Makna Natal: Meretas Jalan dan Hidup Baru

Dalam perayaan Natal, Yesus sejatinya tidak hanya ingin lahir dalam kandang Natal yang indah di Gereja, tetapi juga dalam hati kita masing-masing. Bukan hanya Dia yang lahir dalam hidup kita, tetapi kita juga oleh kasih-Nya boleh lahir baru dalam Dia. Karena Dia adalah Sang Putera Allah, maka kesatuan kita dengan-Nya dalam peristiwa Natal menjadikan kita semua anak-anak Allah. Inilah misteri agung dan mulia yang boleh kita alami dalam peristiwa inkarnasi Logos, dan yang tak pernah berhenti kita syukuri, yakni pengangkatan kita menjadi putera-puteri Allah. Menurut Bapa Gereja Athanasius, dalam peristiwa inkarnasi terjadilah sacrum commercium, pertukaran suci: Allah menjadi manusia, agar kita menjadi ilahi.

Dengan demikian, perayaan Natal selalu bermakna pembaruan. Perjumpaan dengan Yesus, Bayi Betlehem, mengubah dan mengorientasi kehidupan kita secara baru. Injil Matius mengisahkan, setelah menemukan bayi Yesus, para Majus, Sarjana dari Timur, kembali ke negerinya melalui “jalan lain” (Mat 2:12). “Jalan lain” ini tentu tidak hanya bermakna geografis, tetapi juga simbolis yang menggarisbawahi cara hidup baru dalam semangat bayi Betlehem. Semangat dan jalan baru apakah itu?

Dalam khotbah malam Natal 2022, Paus Fransiskus mengajak kita menemukan makna Natal dalam narasi Injil Lukas: bayi yang terletak dalam palungan (Luk 2:7). Palungan ini tidak sekedar kebetulan menjadi tempat lahir Sang Penebus, tetapi simbol yang dipilih oleh Allah sendiri untuk mengungkapkan kehadiran-Nya di tengah-tengah kita. Palungan adalah lambang kedekatan Allah terhadap kita. Bahkan melalui palungan, Dia ingin menjadi makanan yang memberikan kekuatan dan kebahagiaan sejati dalam hidup kita. Namun sayangnya, kita justru lapar terus karena tidak pernah puas mencari kenikmatan dalam konsumsi dan kepemilikan, dalam kenikmatan hal-hal duniawi. Palungan mengajak kita merasakan kedekatan Allah dan merasakan bahwa, Yesuslah satu-satunya yang memuaskan lapar dan dahaga kita.

Dengan itu, tampak pula makna lebih lanjut dari Palungan yaitu kehadiran Allah yang konkret. Allah sungguh menjadi manusia dalam diri bayi Betlehem. Cinta-Nya kepada kita sungguh konkret, bahkan nanti sampai pada pengurbanan nyata di kayu salib. Allah mencintai kita tidak dengan teori hebat dan khotbah indah. Ia juga tidak mencintai kita untuk bersenang-senang. Dia juga tidak ingin mencintai kita dengan “cashing”, dengan cara dangkal dan murahan, hanya pada permukaan, dengan tipuan kamera. Tidak! Tetapi Allah mengasihi kita dengan sungguh, dalam pemberian diri-Nya yang nyata, yang mendalam dan total. Dan karena itu, Paus Fransiskus mengajak kita untuk mengasihi Yesus dengan konkret, sungguh, sepenuh hati, apa adanya. Mari di depan palungan Yesus, kita tanggalkan segala bentuk kemunafikan, dan kepalsuan. Mari kita singkirkan segala bentuk kemalasan, kemapanan, mental cari enak dan cari gampang. Dia, yang dengan penuh kasih dibungkus dengan lampin oleh Maria, ibu-Nya, ingin pula dibungkus dengan cinta kita yang sejati.

Evaluasi Tahun Pastoral Pariwisata Holistik 2022

Dengan penuh syukur ke hadirat Sang Khalik, kita menoleh dan menyimak biografi pastoral di tahun Pariwisata Holistik 2022. Dari evaluasi di tingkat kevikepan maupun komisi Puspas, terlihat bahwa target pastoral kita (outcome) sungguh-sungguh tercapai. Pertama, para pelayan pastoral dapat mendesain dan mengorganisir gerakan pastoral pariwisata holistik yang berpartisipasi, berbudaya, berkelanjutan. Kedua, umat Allah Keuskupan Ruteng semakin menyadari, termotivasi dan terlibat dalam gerakan Pariwisata Holistik.

Lebih dari itu, kita telah menampilkan wajah baru Gereja. Gereja yang oleh Paus Fransiskus ingin menjadi “Gereja pintu-pintu terbuka” (EG,49). Bukan Gereja yang “narsis”, yang sibuk dengan urusan dirinya sendiri, tetapi Gereja yang berjalan keluar sampai ke batas-batas untuk merangkul semua orang miskin, sengsara, dan semua orang “yang berkehendak baik”. Gereja yang tidak hanya berpuas diri dengan melayani secara rutin tujuh sakramen, tetapi sungguh berupaya menjadi “sakramen penyelamatan Kristus” di tengah-tengah dunia (LG,1). Gereja yang melalui pastoral pariwisatanya, ingin “merangkul”, dan bukannya “menyingkirkan”, “ingin terlibat dalam tangis dan kegirangan dunia” (bdk. GS,1), dan bukannya tinggal di “menara gading” yang nyaman, aman, dan nikmat.

Kami berterima kasih kepada semua pihak, karena program-program pastoral pariwisata holistik kita sungguh-sungguh membumi dan menjawabi kebutuhan konkret umat dan membarui masyarakat (output). Program pariwisata rohani seperti ziarah dan prosesi, program pengembangan sosial ekonomi dalam fasilitasi UMKM paroki, program pariwisata sosial budaya seperti pentas seni lokal yang memukau, dan program pariwisata alam berupa promosi keindahan situs wisata alam, semuanya telah mendorong dinamika pastoral yang tergurat dalam kalbu umat. Demikian pula Festival Golo Koe, Festival Golo Curu, Perayaan Pariwisata Internasional di Rekas bergaung megah dan mulia ke segenap antero, serta meninggalkan jejak-jejak narasi yang tak pernah berakhir.

Fokus Pastoral Ekonomi Berkelanjutan 2023 (Ekonomi SAE)

Dalam tahun 2023 ini, kita ingin melanjutkan program pastoral pariwisata holistik dengan gerakan Pastoral Ekonomi Berkelanjutan. Tema ini merupakan bagian integral dari Rencana Strategis Sinode III Tahap II, 2021-2025 yang terintegrasi dengan motto kami “omnia in caritate”, yaitu diakonia transformatif.

Pastoral Ekonomi Berkelanjutan ini mengusung motto SAE: Sejahtera, Adil, dan Ekologis. Kita ingin memperjuangkan kemajuan ekonomi yang bermanfaat bagi kesejahteraan umum (bonum commune). Kesejahteraan ini tidak hanya tampak dalam ketercukupan material, tetapi juga berkembangnya pribadi manusia dan kelompok secara utuh dalam kondisi sosial yang kondusif (bdk. GS, 26). Hal ini hanya mungkin bila dalam interaksi sosial kita mengakui yang lain sebagai pribadi. Keadilan berarti kehendak teguh untuk memberikan kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka (KGK, 1807). Karena itu, kita ingin mengusahakan ekonomi yang adil, yang berpusat pada pribadi manusia dan bukannya pada profit, dan karena itu ekonomi yang secara khusus merangkul orang-orang miskin, lemah dan sengsara (rentan). Ekonomi yang menyejahterakan dan adil terjadi, bila orang tidak mengeksploitasi alam semena-mena hanya demi keuntungan ekonomis. Karena itu, kita ingin mengembangkan ekonomi yang ekologis, yang merawat, dan melestarikan lingkungan hidup.

Penutup

Paus Benediktus, yang baru-baru kita hantar kepergiannya ke rumah Bapa di Surga, pernah bertanya begini, apakah yang menjadi kekhasan iman kristiani? Dia menjawab: kita percaya bukan pada ajaran, tetapi pada seorang pribadi yaitu Yesus Kristus (Surat Apostolik Porta Fidei, 13). Inilah keunikan dan sekaligus juga keindahan iman kristiani. Relasi yang mesra dengan Yesus inilah yang menjadi pusat pewartaan kita, pusat program pastoral kita dan sukacita iman kita. Semoga! Tuhan memberkati!

Ruteng, 9 Januari 2023

Mgr. Sipri Hormat

Comments are closed.