Press "Enter" to skip to content

Ibadat Ekologis di Mbaru Wunut: Merajut Iman, Budaya, dan Cinta Bumi

KEUSKUPANRUTENG.ORG — Suasana penuh syukur dan kekhidmatan menyelimuti Mbaru Wunut Ruteng ketika umat dan tamu undangan berkumpul dalam Ibadat Ekologis Kreatif yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2025. Kegiatan yang digelar pada Minggu, 5 Oktober 2025 ini tidak sekadar menjadi perayaan iman, tetapi juga menjadi momentum untuk merenungkan panggilan manusia dalam menjaga dan merawat keindahan alam ciptaan Tuhan.

Ibadat ini dipimpin langsung oleh RD Martin Chen, Direktur Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Ruteng. Turut hadir dalam kegiatan ini RP Sebastianus Hobahana Vikjen Keuskupan Ruteng, RD Lian Angkur utusan Keuskupan Labuan Bajo, ketua umum panitia Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2025, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai, perwakilan Kepolisian, utusan BUMN, serta perwakilan paroki dan sekolah-sekolah.

Para tamu undangan yang hadir dalam ibadat ekologis kreatif di Mbaru Wunut, Minggu 05 Oktober pagi. (KOMSOS KR)

Menariknya, ibadat ini dikemas secara kreatif dan ekologis, dipadukan dengan gerak dan tari persembahan dari Sekami Paroki Kumba. Iringan tarian anak-anak sekami ini menggambarkan keharmonisan antara manusia dan alam, menghadirkan keindahan yang menyentuh hati seluruh umat yang hadir.

Dalam kotbahnya, RD Martin Chen menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya keselarasan antara manusia dan ciptaan.

“Setiap ciptaan memiliki nilai dan keindahan tersendiri, namun hanya akan menjadi indah secara utuh jika hidup dalam keselarasan dengan seluruh ciptaan lainnya. Sayangnya, alam kini rusak karena ulah manusia. Maka, langkah pertama untuk memulihkan keindahan alam adalah dengan mengubah pola pikir manusia agar lebih ramah dan peduli terhadap lingkungan,” tegasnya.

RD Martin Chen saat menyampaikan kotbah nya dalam ibadat ekologis kreatif, Minggu 05 Oktober pagi. (KOMSOS KR)

Ia juga menegaskan bahwa gagasan harmony tersebut sejalan dengan sosok Maria Ratu Rosari.

“Dalam diri Maria terwujud harmoni, keindahan, dan keselarasan, bukan hanya dalam hubungan dengan Allah dan sesama, tetapi juga dengan alam semesta. Karena itu, dibutuhkan komitmen nyata dari manusia untuk membangun relasi yang sehat dan selaras dengan seluruh ciptaan Tuhan,” lanjutnya.

Ibadat ekologis kreatif ini menjadi bentuk nyata refleksi iman yang meneguhkan komitmen umat untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama. Melalui perayaan ini, umat diingatkan bahwa spiritualitas tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab ekologis — bahwa mencintai Tuhan juga berarti mencintai alam ciptaan-Nya.

Setelah ibadat ekologis kreatif selesai, dilakukan penanaman pohon di area Mbaru Wunut. Penanaman pohon dilakukan bersama para imam dan tamu-tamu undangan yang hadir.

RP Sebastianus Hobahana ketika sedang melakukan kegiatan penanaman pohon di area Mbaru Wunut, Minggu 05 Oktober pagi. (KOMSOS KR)

Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2025 terus menjadi ruang bagi umat Katolik di Keuskupan Ruteng dan sekitarnya untuk memperdalam iman, memperkuat persaudaraan, serta menumbuhkan kesadaran ekologis demi masa depan bumi yang lebih harmonis dan berkelanjutan. (Sasha Claudia)

Comments are closed.