Press "Enter" to skip to content

HASIL SIDANG PASTORAL KEUSKUPAN RUTENG TAHUN TATA LAYANAN PASTORAL KASIH 2021 “OMNIA IN CARITATE” (1 KOR 16:14) (WAE LENGKAS, RUTENG, 22—24APRIL 2021)

  1. Pendahuluan
  1. “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (1Kor 16:14). Sabda Allah, yang menjadi motto tahbisan Mgr. Sipri Hormat ini, menerangi dan menuntun kami peserta sidang pastoral postpaskah pada tanggal 22—24 April 2021 di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng. Dalam protokol kesehatan covid-19 yang ketat, para peserta (112 orang) yang terdiri atas Uskup Ruteng, Kuria, Ketua Komisi, Pimpinan Lembaga, dan Pastor Paroki se-Keuskupan Ruteng merefleksikan bersama-sama fokus pastoral tahun 2021:  “Tata Layanan Pastoral Kasih”. Fokus tahun keenam implementasi Sinode III ini dilaksanakan dengan pola proses: melihat, menilai, dan memutuskan (3M). 
  2. Tema ini merupakan kelanjutan fokus tahunan implementasi Sinode III sebelumnya yangterkait erat dengan marwah pastoral Bapak Uskup: “Omnia in Caritate”. Dalam lingkaran lima tahun yang lewat, kami telah berupaya mewujudkan kasih Allah itu dalam pelbagai dimensi kehidupan Gereja. Kasih ilahi itu dirayakan dalam Liturgi (2016), diwartakan dengan sukacita (2017), dirasakan dalam persekutuan (2018), diwujudkan dalam pelayanan sosial/diakonia (2019), dan dituntun oleh gembala (2020). Sepanjang tahun 2021, kasih tersebut ingin dibingkai dalam tata layanan pastoral yang efisien dan efektif (DCE, 20). 
  1. Belajar dari Pastoral Tahun Penggembalaan 2020
  1. Dalam sidang pastoral postpaska ini, kami pertama-tama menoleh untuk belajar dari pengalaman Tahun Penggembalaan 2020: “Gembalakanlah domba-domba-Ku!” (Yoh 21:15). Meskipun berada dalam kondisi pandemi dengan pembatasan sosial dan pastoral yang ketat (social and pastoral distance), pada tahun yang silam, kami telah berupaya melaksanakan berbagai program dan gerakan pastoral yang mendorong pelayan tertahbis dan terbaptis untuk semakin menjadi “gembala yang berbau domba” (Paus Fransiskus, EG 24). 
  2. Selain program rutin yang berjalan selama ini seperti gembala pewarta sakramen dan gembala kelompok kategorial, kami telah merancang dan melaksanakan program khusus (kreatif) seperti menjadi gembala bagi kelompok rentan (difabel, migran, lansia, sakit, keluarga berduka) dan gembala bagi keluarga dalam situasi sulit (Pasutri “Kawin Kampung” dan keluarga retak). Hasil evaluasi memang memperlihatkan persentase yang tinggi untuk program rutin, tetapi capaian yang masih rendah untuk program pastoral kreatif. Di satu pihak, hal ini, patutlah disyukuri karena  program pastoral yang dilaksanakan  secara rutin, terarah, terukur, dan berkesinambungan ternyata dapat mengakibatkan hasil yang optimal. Namun, di lain pihak rutinitas tersebut dapat  menciptakan “gaya pastoral zona nyaman” yang cenderung mempertahankan kemapanan (EG, 27) dan menyebabkan orang apatis dan enggan berpastoral kreatif dalam menanggapi tanda-tanda zaman.
  3. Kami juga bersyukur bahwa dalam masa sulit Covid-19, dalam tahun 2020, paroki dan lembaga secara aktif, inovatif, dan kreatif tetap berjuang untuk mengembangkan pastoral yang kontekstual. Hal ini tampak dalam meningkatnya kegiatan karitatif, sosialisasi covid-19 serta pendirian posko Omnia in Caritate. Lebih dari itu, pastoral melalui media sosial dan radio, serta penghayatan iman pribadi dan ibadat keluarga berkembang subur. Pandemi Covid-19 ternyata mendorong geliat kesalehan sosial dan memberi peluang bagi pastoral kreatif yang mengubah pola masal-anonim ritus keagamaan menuju perayaan personal yang menukik atau menyentuh sampai ke dalam hati dan kalbu. 
  1. Inspirasi Santo Yosef
  1. Tahun Tata Layanan Pastoral Kasih 2021 Keuskupan Ruteng bertepatan dengan Tahun Santo Yosef Gereja Universal, 8 Desember 2020 sampai dengan 8 Desember 2021 yang ditetapkan Paus Fransiskus melalui surat Apostolik “Patris Corde”. “Dengan Kasih Seorang Bapa”  Yosef telah mendidik dan mengasuh Yesus, dan dengan itu menampakkan dan mewujudkan kehadiran Allah Bapa penuh cinta dalam keseharian hidup Yesus. Yosef juga adalah seorang Bapa Keluarga, yang jauh dari sifat posesif atau liberal, tetapi selalu berfokus melayani Yesus dan Maria. Dalam komunitas beriman, seturut teladan Yosef, kami sebagai pelayan umat ingin mengambil bagian dalam Kebun Anggur Tuhan, secara khas, yakni “menjadi bagaikan “Bapak” bagi seluruh umat-Nya” [PC 4,5],
  2. Dari Santo Yosef kami mempelajari kehidupan iman yang kontemplatif, yaitu merasakan denyut nadi ilahi dalam kehidupan yang senyap (silence). Yosef mengandalkan Allah dalam sunyi, dan dengan itu mengajak semua orang beriman agar selalu mencari dan menemukan kehendak Allah yang murni dan jernih dalam kesibukan di tengah dunia yang kabur. Santo Yosef menjadi teladan bagi kami dalam mendengarkan suara Allah dan berbakti kepada-Nya dengan tulus dan setia. Ia juga mengajarkan kami untuk tidak mengandalkan kekuatan sendiri dalam karya pelayanan, tetapi mengandalkan rahmat Allah.
  3. Sejalan dengan itu kami belajar dari Santo Yosef  tentang beriman yang aktif-profetis. Yosef adalah seorang pekerja keras yang bekerja secara ulet dan penuh pengurbanan. Ia mendidik kami tentang disiplin dan etos pelayanan pastoral. Ia adalah seorang tukang kayu sederhana dan menjalankan peran kebapaannya dalam keluarga Nasaret secara bersahaja. Dengan itu,Yosef mengingatkan kita bahwa semua yang tidak kelihatan, yang tidak pernah menonjol dan tanpa sorak-sorai, memainkan peran yang besar dalam sejarah keselamatan.
  1. Ciri Holistik Pastoral Kasih
  1. Pastoral kasih pertama-tama adalah sebuah ziarah spiritual. Kasih merupakan pengalaman akan Allah  dalam kehidupan. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8). Dia mencurahkan kasih-Nya berlimpah-limpah dalam kehidupan kita melalui perutusan Yesus, Putera-Nya (1 Yoh 4:8—9). Maka beriman berarti merasakan nikmat dan indahnya kasih ilahi (bdk. Mzm 34:8). Dan, pastoral kasih berarti membagikan pengalaman cinta ilahi dalam ziarah kehidupan sehari-hari.
  2. Kasih juga berciri insani-manusiawi. Kasih Allah itu telah menjadi “daging” dan tinggal di tengah kita (Yoh 1:14). Bahkan, kasih ilahi itu telah mengurbankan diri-Nya sehabis-habisnya agar kita memperoleh kehidupan yang penuh dan berlimpah-limpah (abadi, Yoh 15:13). Oleh sebab itu,Pastoral kasih berarti terlibat dalam gerakan inkarnatoris dan salib kasih ilahi demi mewujudkan kehidupan yang semakin manusiawi, sejahtera, bersolider, adil dan beradab di tengah dunia ini. 
  3. Selanjutnya kasih tidak hanya meresapi hidup manusia tetapi juga merangkul alam semesta. Kasih berdimensi ekologis. Allah telah menciptakan alam semesta dengan indah dan harmonis serta menugaskan manusia untuk memelihara dan merawat integritas alam ciptaan-Nya (Kej.1—2). Karena itu bersama Paus Fransiskus, kita ingin menyadari dan merasakan kesatuan yang intim dengan semesta ciptaan Allah: “Bumi, rumah kita bersama, bagaikan saudari, yang dengannya kita membagikan kehidupan, bagaikan mama yang indah, yang merangkul kita dalam pelukannya.” (LS 1).
  4. Tidak kalah pentingnya, kasih juga menjamah dan meresapi aspek kultural. Budaya bukan sekadar produk material dan gagasan tetapi juga adalah medan perjumpaan dengan Allah sendiri. Keanekaragaman dan kekayaan budaya merupakan benih-benih sabda yang ditaburkan dalam khazanah intim dan mendalam dari setiap suku dan bangsa yang dirangkul dan disucikan oleh penebusan Kristus demi kemuliaan Allah. (AG, 9). Dalam budaya Manggarai misalnya, falsafah persatuan dan persaudaraan, semangat hidup budaya  “nai ca anggit, tuka ca léléng” selaras dengan gagasan persekutuan kasih, communio Gereja. 
  1. Dasar dan Tujuan Tahun Tata Layanan Pastoral Kasih
  1. Kasih ilahi terwujud dalam persekutan kasih murid-murid Kristus. Gereja adalah sebuah persekutuan rahmat (communio sanctorum), tetapi sekaligus  “himpunan yang kelihatan”  yang sedang berziarah di muka bumi ini menuju paripurna (LG 8). Justru karena itu Gereja membutuhkan dimensi struktural, institusional, dan manajerial dalam “mendagingkan” kasih ilahi dalam sejarah. 
  2. Kasih Allah semakin menjadi nyata dan berbuah dalam pergumulan hidup yang historis bila disertai dengan pengelolaan dan pengorganisasian yang tepat dan berdaya guna (Paus Benediktus XVI, DCE, 20). Oleh sebab itu, dalam tahun 2021 ini kami ingin memfokuskan tema pastoral pada “Tata Layanan Pastoral Kasih”. Kami, Paroki dan Lembaga di Keuskupan ini ingin memperbarui struktur, aturan, metode pastoral agar semakin terbuka terhadap tuntunan dan inspirasi Roh Allah, agar pelayanan kasih Gereja semakin signifikan dalam kehidupan umat dan semakin relevan di bumi Nucalale ini. 
  3. Dalam Tahun Tata Layanan Pastoral Kasih 2021 ini, kami ingin mencapi target pastoral (tujuan) sebagai berikut:
  1. Paroki dan lembaga di Keuskupan Ruteng semakin mempunyai struktur dan sistem tata layanan  pastoral yang standar, sistematis, efisien-efektif, dan dijiwai oleh kasih (Omnia in caritate). 
  2. Pelayan umat di paroki dan lembaga semakin berkapabilitas dalam mengelola tata layanan pastoral secara kontekstual, integral, dan berkesinambungan.
  3. Umat Allah Keuskupan Ruteng terlibat dalam seluruh proses tata layanan secara aktif dan penuh sukacita injili (Gaudium evangelii) sehingga semakin menjadi persekutuan yang beriman yang utuh, dinamis, dan transformatif.
  1. Program Pastoral Tata Layanan Kasih
  1. Dalam mewujudkan tujuan di atas, untuk tahun 2021 ini kami berkomitmen pertama-tama melaksanakan program pastoral yang menata aspek struktural paroki demi pelayanan umat yang efisien dan efektif, seperti: Sensus Paroki demi tersedianya statistik data base umat; pembaruan struktur teritorial paroki, stasi dan KBG; penyesuaian struktur Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP) yang selaras dengan statuta baru 2021.
  2. Dalam aspek manajerial kami akan melanjutkan pola pengelolaan program pastoral dalam lingkaran perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian; pembiasaan metode pastoral 3M; pola pastoral kontekstual-integral. 
  3. Dalam bidang aset dan keuangan, kami akan melakukan pengembangan tata kelola keuangan yang transparan dan kredibel; pengurusan status yuridis legal tanah paroki dan stasi; perancangan grand design bangunan paroki dan stasi. 
  4. Dalam bidang personalia, kami ingin menguatkan kapabilitas pelayan pastoral terbaptis melalui pelatihan DPP dan Seksi; Pelatihan DKP dan Seksi; Pelatihan Kepemimpinan Pengurus KBG; Pelatihan Pegawai Paroki (sekretariat: administrasi dan keuangan).
  5. Dalam aspek pelayanan sosial karitatif, kami ingin ingin melanjutkan pembentukan dan penguatan Seksi Karitas Paroki; pendataan dan pengorganisasian kelompok rentan paroki; penguatan program tanggap darurat bencana alam dan korban kemanusiaan; penguatan spiritual kasih dalam Tata Layanan Pastoral.
  6. Dalam aspek diakonia transformatif, kami mendorong gerakan “pariwisata super premium” yang lokal, kultural, ekologis; membangun situs wisata rohani-wellness;   mengembangkan pola pertanian yang bermutu dan berkelanjutan selaras alam; menggerakkan potensi ekonomi kreatif generasi muda; mengupayakan perlindungan anak (safe guarding) dan Paroki Ramah Anak; menguatkan gerakan-gerakan ekologis: reboisasi, penghijaun dan tolak tambang; mengupayakan kesaksian sosial profetis Gereja di tengah masyarakat. 
  7. Dalam bidang program rutin tahunan, kami terus mengadakan Misa Launching Tahun Tata Layanan Pastoral Kasih; Sosialisasi Tahun Tata Layanan Pastoral Kasih; Katekese Umat Tata Layanan Pastoral Kasih; Perencanaan Program Pastoral Tahunan Tata Layanan Pastoral Kasih; Monitoring dan Evaluasi Program Pastoral Tata Layanan Pastoral Kasih; Misa Inkulturasi Minggu III.
  8. Dalam gerakan rutin tahunan, kami terus melaksanakan Pendarasan Doa Tahun Tata Layanan Pastoral Kasih; Pengidungan Lagu Tahun Tata Layanan Pastoral Kasih; Integrasi Doa dan Sabda Allah dalam pertemuan pastoral; doa dalam keluarga. 
  9. Dalam pelayanan pastoral lembaga-lembaga, kami ingin melanjutkan tata kelola institusional selama ini yang telah berjalan dengan lancar; meningkatkan pengelolaan keuangan yang transparan dan kredibel; menguatkan kapasitas dan komitmen personalia; mengadakan monitoring dan evaluasi bersama pihak lain;  menggalakkan kerjasama jejaring dengan Pemerintah dan lembaga lainnya.
  10. Secara khusus dalam Tahun Santo Yosef, kami ingin merayakan Ekaristi 1 Mei, Yosef Pekerja; mengadakan Novena St. Yosef; Katekese tentang St. Yosef; Rekoleksi dan Retret tentang Santo Yosef bagi para pekerja. 
  11. Selain program-program bersama dalam keuskupan, kami juga ingin mengembangkan pastoral kreatif di paroki dan lembaga yang sungguh menjawabi kebutuhan konkret umat.
  12. Dalam upaya mewujudkan program-program di atas, kami menyadari pentingnya kolaborasi dengan para pihak. Karena itu, kami ingin terus menjalin dan melanjutkan kerjasama yang kreatif dan konstruktif dengan Pemerintah, LSM, kalangan wirausaha dan pihak lainnya.
  1. Penutup 
  1. Kami menyadari bahwa dalam semua upaya sistematis yang terfokus untuk mencapai tujuan pastoral, tidak jarang kami merasakan kelemahan dan kerapuhan manusiawi berkaitan dengan kapasitas personal, finansial, dan tata kelola yang bermutu. Meskipun demikian, kami menyadari kondisi demikianlah memungkinkan  kami semakin tergantung pada rahmat Allah yang menyembuhkan dan menguatkan. Cinta Allah sering bertumbuh “diam-diam” dalam hal-hal kecil, yang tidak kelihatan dan bahkan dalam kegagalan. Dalam pelayanan pastoral yang biasa, dan sederhana, yang dikerjakan dengan setia dan penuh inovasi dan kreasi, menyingsinglah fajar pastoral. Benarlah nasihat Bunda Teresa dari Kalkuta ini:  “Tidak semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar, tetapi kita semua dapat melakukan hal-hal kecil dengan penuh cinta”(Not all of us can do great things. But we can do small things with great love). 
  2. Akhirnya, dalam dekapan cinta Bunda Maria, Bunda Gereja, bersama St. Yosef, Mempelainya dan Pelindung Gereja, kami menyerahkan seluruh program dan gerakan pembaruan struktur, sistem, pola, kebijakan, dan program pastoral, agar semua paroki dan lembaga di keuskupan kami semakin menjadi saluran penginjilan atau kanal evangelisasi yang mengalirkan kasih ilahi.

Ruteng, 24 April 2021

Dalam Persaudaraan Sidang Pastoral,

Uskup Ruteng,

Mgr. Siprianus Hormat

Comments are closed.