Caritas Keuskupan Ruteng terus memperluas upaya pemberdayaan masyarakat melalui Program Harvest, yang merupakan akronim dari Holistic, Agriculture, Resilience, Vision, Empowerment, Transformation. Hal ini merupakan sebuah inisiatif yang berfokus pada penguatan ekonomi keluarga melalui pertanian organik. Program ini hadir sebagai respons terhadap kondisi petani kecil yang selama bertahun-tahun terjebak dalam ketergantungan pada pupuk kimia, akses permodalan yang terbatas, serta harga komoditas yang fluktuatif. Harvest dibangun dengan pendekatan sederhana: meningkatkan kapasitas petani, memperkuat struktur kelompok, dan menegakkan nilai keberlanjutan ekologis yang sejalan dengan ajaran sosial Gereja.

Ibadat Pemberkatan benih oleh RD Beben Gaguk selaku ketua Komisi Caritas Keuskupan Ruteng. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Penerima manfaat Program Harvest adalah para petani sederhana dari wilayah pedesaan, petani-petani tokoh yang memiliki pengaruh di komunitasnya, serta para Perempuan Kepala Rumah Tangga yang menjalankan peran ganda dalam keluarga. Mereka bergabung dalam empat kelompok utama. Di wilayah pastoral Paroki Nanu, terdapat tiga kelompok yaitu Galtob yang beranggotakan 24 orang, Tungku Mose, dan Muwur. Sementara di wilayah Paroki Watunggong terdapat dua kelompok: Ca Nai dengan 24 anggota dan Gejur Organik dengan 20 anggota. Total penerima manfaat langsung mencapai puluhan keluarga yang mewakili berbagai latar belakang sosial-ekonomi.
Pengembangan Program: Dari Assesment ke Penguatan Kapasitas Petani

Foto bersama para petani penerima manfaat Program Harvest Caritas Keuskupan Ruteng. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Program ini tidak berlangsung secara instan. Caritas Keuskupan Ruteng memulai proses dengan identifikasi kebutuhan di masing-masing wilayah pastoral. Para fasilitator berdiskusi dengan tokoh masyarakat, ketua lingkungan, serta para petani untuk memetakan potensi lahan, hambatan yang mereka hadapi, serta kesiapan kelompok untuk bergerak bersama. Dari proses ini teridentifikasi bahwa persoalan terbesar bukan hanya minimnya modal, tetapi juga keterbatasan keterampilan teknis, ketergantungan pada pupuk kimia, serta lemahnya solidaritas kelompok. Karena itu Harvest menempatkan tiga unsur utama sebagai fondasi: peningkatan kapasitas petani, pengembangan produksi sayuran organik, dan pembentukan lembaga keuangan mikro berbasis kelompok.
Bagian pertama dari rangkaian kegiatan adalah pembekalan kapasitas petani. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pelatihan teknis bertahap. Tujuannya jelas: memberi petani keterampilan dasar agar memiliki kemandirian dalam memproduksi pupuk organik. Dalam beberapa sesi pelatihan, para anggota kelompok memperdalam teknik pembuatan pupuk organik padat, pupuk organik cair, serta pestisida nabati-organik. Pelatihan dilakukan secara praktis, langsung di kebun percontohan atau halaman rumah anggota kelompok, sehingga setiap petani dapat melakukan praktik sendiri bersama fasilitator.

Para petani melakukan praktik pembuatan pupuk bersama fasilitator dari Caritas Keuskupan Ruteng. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Dalam sesi pembuatan pupuk padat, para petani belajar mengolah bahan-bahan organik seperti kotoran ternak, dedaunan, batang pisang dan kulit buah. Mereka diperkenalkan bagaimana membuat Mikroorganisme Lokal (MOL) yang akan dipakai untuk fermentasi bahan-bahan organik pembuatan pupuk. Selanjutnya, dikumpulkan bahan utama pembuatan pupuk, seperti dedaunan yang terpilih, batang pisang dan kulit buah, dan cirit hewan. Sementara pada pelatihan pestisida nabati, petani diperkenalkan dengan bahan-bahan yang mudah didapat seperti daun pepaya, daun mimba, jahe, bawang putih, dan serai. Pengetahuan ini sangat membantu mereka mengurangi biaya produksi sekaligus menjaga kesehatan tanah.
Untuk menunjang proses produksi pupuk, masing-masing kelompok menerima mesin pencacah dari Caritas Keuskupan Ruteng. Mesin ini memungkinkan mereka mengolah bahan organik dalam jumlah lebih besar dengan waktu lebih efisien. Tanpa mesin pencacah, petani harus mengiris bahan secara manual, yang sangat memakan waktu. Kehadiran mesin membuat produksi pupuk lebih konsisten, sehingga kelompok dapat memastikan ketersediaan pupuk organik sepanjang tahun.

Proses produksi pupuk dengan mesin pencacah dari Caritas Keuskupan Ruteng. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Setelah pembekalan keterampilan dasar, kegiatan berlanjut pada tahap inti yaitu menanam dan membudidayakan sayuran organik. Pertanian organik dipilih karena dua alasan: pertama, memberikan alternatif ekonomi bagi keluarga; kedua, memulihkan kondisi tanah yang selama ini rusak akibat penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang. Caritas menyediakan peralatan pertanian seperti cangkul, polybag, sprayer, dan selang air, serta bibit sayuran yang beragam seperti kangkung, sawi, pakcoy, selada, tomat, cabai, dan terong. Sebagian kelompok juga mendapat bantuan terpal untuk pembuatan bedengan tertutup agar tanaman lebih terlindungi.
Setiap kelompok mengembangkan lahan bersama, tetapi anggota juga didorong untuk membuat kebun kecil di pekarangan rumah masing-masing. Prinsipnya sederhana: kebutuhan sayuran keluarga harus dipenuhi dulu sebelum menjual hasil ke pasar. Dalam praktiknya, keluarga mulai terbiasa mengonsumsi sayuran segar setiap hari—sebuah perubahan kecil tetapi berdampak jangka panjang bagi kesehatan keluarga.

Kebun anggota di pekarangan rumah. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Hasil panen yang melebihi kebutuhan rumah tangga dijual ke pasar lokal atau kepada tetangga sekitar. Pendapatan dari sayuran tidak selalu besar, tetapi ritme panen yang lebih sering—setiap minggu atau dua minggu sekali—membantu keluarga memiliki arus pendapatan yang lebih stabil. Selain untuk memenuhi kebutuhan harian, beberapa kelompok menggunakan sebagian hasil penjualan untuk kas kelompok dan tabungan bersama.



Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP): Kemudahan Akses Keuangan bagi Keluarga Petani.

RD Beben Gaguk ketua Caritas Keuskupan Ruteng bersama para keluarga petani. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Caritas menyadari bahwa banyak keluarga petani tetap menghadapi persoalan mendasar: akses keuangan yang terbatas. Ketika anak membutuhkan biaya sekolah atau ada kebutuhan mendesak, pintu pinjaman yang paling mudah justru adalah lembaga-lembaga informal dengan bunga tinggi, bahkan rentenir. Untuk memutus mata rantai ini, Penrima manfaat bersepakt membentuk lembaga mikrofinance berbasis kelompok. Tujuannya menyediakan akses pinjaman yang murah, adil, dan mudah diakses oleh anggota kelompok.
Kelompok-kelompok petani mendapat pelatihan tentang dasar-dasar pengelolaan keuangan mikro: bagaimana membentuk struktur pengurus, bagaimana menyusun aturan simpan pinjam, bagaimana mengelola buku kas, serta bagaimana memastikan pinjaman dipakai untuk kebutuhan produktif atau mendesak. Sistem ini dibangun berbasis kepercayaan dan kedisiplinan. Para anggota menyimpan uang secara berkala, biasanya setiap bulan, dan dari tabungan itu mereka memperoleh kesempatan meminjam dana dengan bunga rendah atau tanpa bunga. Mikrofinance juga menjadi ruang pembelajaran tentang kedisiplinan finansial, solidaritas, dan pengelolaan risiko.

Kebun kelompok petani. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Pembentukan lembaga keuangan mikro ini sangat membantu terutama bagi Perempuan Kepala Rumah Tangga. Mereka menjadi lebih mandiri dan tidak lagi terpaksa meminjam uang dari sumber yang tidak aman. Melalui kelompok, mereka juga mendapat dukungan sosial, saling memotivasi, dan saling mengingatkan. Ketika ada anggota yang menghadapi kesulitan, kelompok mencari solusi bersama.
Pertanian Organik dan Laudato Si Paus Fransiskus

RD Beben Gaguk bersama anak-anak petani sedang memetik tomat hasil dari program Harvest. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Seluruh rangkaian kegiatan dalam program Harvest tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi. Program ini membawa misi ekologis yang sejalan dengan ajaran sosial Gereja Katolik. Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si’ menekankan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Pertanian organik menjadi salah satu cara konkret menjaga bumi—tanah tidak rusak oleh bahan kimia, air tidak tercemar oleh limbah pestisida, dan keseimbangan ekosistem lebih terpelihara.
Dalam Laudato Si’ Action Platform, salah satu dari tujuh Action Platform laudati Si adalah ekonomi ekologis. Ekonomi ekologis menekankan bahwa kegiatan ekonomi harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan masyarakat lokal, dan penggunaan sumber daya secara bijaksana. Program Harvest bergerak sepenuhnya dalam jalur itu. Para petani diajak melihat bahwa perubahan ekonomi bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga soal cara baru memandang bumi, tanah, dan sumber daya alam. Mereka belajar bahwa merawat tanah berarti merawat masa depan keluarga dan komunitas.

Kebun kelompok petani. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Selain nilai ekologis, Harvest mengembalikan solidaritas di tingkat lokal. Pertanian organik yang dikerjakan secara kelompok menciptakan pola kerja sama baru di komunitas. Anggota kelompok saling berdiskusi, saling menolong ketika ada kesulitan, dan berbagi hasil pengetahuan. Di beberapa kelompok, kegiatan menanam dilakukan secara gotong royong. Ada yang menyiapkan bedengan, ada yang menyiram tanaman, dan ada yang menjaga kebun bersama.
Kerja sama ini membangun rasa memiliki terhadap kelompok, sekaligus memperkuat identitas komunitas di wilayah masing-masing. Program Harvest secara tidak langsung menghidupkan kembali budaya gotong royong yang selama ini mulai melemah. Para petani merasa bangga karena mereka tidak hanya bekerja untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kelompok dan lingkungan.

Anak-anak petani sedang memetik tomat hasil dari kebun program Harvest. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Sebagai program yang terus berjalan, Harvest masih menghadapi tantangan. Tidak semua anggota memiliki tingkat komitmen yang sama, dan sebagian masih mencari keseimbangan antara pekerjaan harian lain dengan aktivitas kelompok. Namun demikian, hasil-hasil awal menunjukkan perubahan positif yang signifikan. Banyak keluarga kini mengonsumsi sayuran segar setiap hari, memiliki akses pupuk murah, dan mulai terbebas dari ketergantungan pada pinjaman informal. Tanah-tanah yang sebelumnya keras mulai pulih kembali. Komunitas pun lebih terorganisir dan memiliki struktur pembelajaran bersama.
Ke depan, Caritas Keuskupan Ruteng berencana memperkuat program melalui pendampingan berkelanjutan, perluasan pasar bagi sayuran organik, serta peningkatan kapasitas pengurus kelompok dalam manajemen keuangan. Tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa kelompok akan diberi kesempatan membentuk usaha bersama dalam skala kecil, seperti pemasaran bundel sayuran, produksi pupuk organik komersial, atau pengembangan kebun percontohan yang lebih besar.

Ibadat pemberkatan benih oleh RD Beben Gaguk, ketua Caritas Keuskupan Ruteng. (Foto: Caritas Keuskupan Ruteng)
Program Harvest menjadi contoh nyata bahwa perubahan sosial dapat tumbuh dari hal-hal kecil dan sederhana—dari tanah, dari kebun, dari kerja sama warga, dan dari nilai-nilai ekologis yang dijalankan dengan konsisten. Pada akhirnya, pertanian organik bukan hanya teknik bercocok tanam, tetapi juga cara hidup. Ia menghubungkan petani dengan tanahnya, keluarga dengan makanan sehat, dan komunitas dengan lingkungan yang lebih terjaga.
Dengan pendekatan yang holistik, Harvest telah membuka jalan bagi keluarga-keluarga petani untuk meraih kemandirian ekonomi sekaligus berkontribusi pada upaya menjaga bumi. Perjalanan ini masih panjang, tetapi langkah-langkah yang telah diambil menunjukkan bahwa perubahan yang diinginkan bukan sesuatu yang mustahil. Dari Galtob hingga Gejur Organik, dari kebun kecil hingga pasar lokal, Program Harvest perlahan membangun sebuah ekosistem baru: ekosistem yang berakar pada martabat manusia dan kelestarian ciptaan, sebagaimana diharapkan oleh Gereja dan masyarakat luas.

Comments are closed.