KEUSKUPANRUTENG.ORG — Perayaan Hari Pariwisata Internasional (HPI) tingkat Keuskupan Ruteng digelar di Paroki St. Pius X Mukun, Kevikepan Borong, pada Minggu, 20 September 2026. Berlangsung dalam suasana pascagempa, perayaan HPI tahun ini dilaksanakan secara sederhana dengan sejumlah penyesuaian, namun tetap menghadirkan antusiasme dan semangat kebersamaan umat.
Perayaan HPI tahun ini mengusung tema “Kecerdasan Buatan untuk Mendesain Ulang Pariwisata Berkelanjutan dalam Semangat Sinodal yang Bersaudara dan Misioner.” Tema tersebut menempatkan transformasi digital dan integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari perkembangan pariwisata, terutama dalam meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan.
Namun, situasi bencana gempa yang melanda wilayah Flores membuat rangkaian kegiatan HPI harus disederhanakan. Sejumlah agenda yang telah direncanakan sebelumnya dibatalkan atau dialihkan ke bentuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat pascagempa.

Diskusi Budaya dan Inkulturasi terbatas di Gendang Mokel Manus. (Foto: KOMYAWISTA KR)
Kegiatan religius yang semula direncanakan dalam beberapa bentuk akhirnya dipusatkan pada Misa Inkulturasi. Sementara itu, kegiatan sosial-karitatif diarahkan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak gempa.
Seminar budaya yang sedianya menjadi bagian dari rangkaian HPI juga disesuaikan menjadi diskusi budaya yang dilaksanakan di Gendang Mokel-Mukun dan Mokel-Keo, serta Mokel Manus. Sementara kegiatan ekologis tetap diwujudkan melalui penanaman pohon secara simbolis sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan kehidupan.
Adapun kegiatan seremonial pembukaan, ekonomi kreatif, dan pentas seni budaya lokal dibatalkan sebagai bagian dari penyesuaian terhadap situasi pascagempa.

Penanaman Pohon secara simbolis sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan kehidupan. (Foto: KOMYAWISTA KR)
RD. Inosensius Sutam, Ketua Komisi Budaya dan Pariwisata Keuskupan Ruteng mengatakan, meski berlangsung dalam suasana sederhana, semangat umat tidak surut. Sebaliknya, perayaan HPI di Mukun memperlihatkan antusiasme yang kuat. Kehadiran dan keterlibatan umat menjadi tanda bahwa situasi bencana tidak serta-merta memadamkan semangat kebersamaan dan kehidupan iman.
“Perayaan ini menjadi ruang bagi umat untuk menunjukkan bahwa di tengah pengalaman sulit akibat gempa, perhatian terhadap kebudayaan, lingkungan, pariwisata, serta kehidupan sosial tetap dapat dirawat secara bersama-sama,” lanjutnya.
“Gempa bumi tidak merobohkan iman kami,” menjadi semangat yang tampak dalam keterlibatan umat selama perayaan. Semangat tersebut juga berjalan seiring dengan keinginan kuat untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa.
Perayaan HPI tingkat Keuskupan Ruteng ini berada di bawah koordinasi Puspas Keuskupan Ruteng, Komisi Budaya dan Pariwisata Keuskupan Ruteng, Kevikepan Borong, serta Paroki St. Pius X Mukun, dengan melibatkan berbagai unsur pentahelix/hexahelix. Unsur tersebut mencakup pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, pemerintah kecamatan dan desa, lembaga pendidikan, media, serta komunitas adat. Panitia pelaksana sendiri telah dibentuk sejak Juni 2026 sebagai bagian dari persiapan perayaan.
Sejatinya, rangkaian HPI dirancang dengan beragam kegiatan yang mengintegrasikan dimensi religius, sosial, budaya, ekonomi kreatif, dan ekologis. Selain kegiatan rohani seperti prosesi Kitab Suci, adorasi, kebangkitan rohani Katolik, dan Misa puncak, agenda juga mencakup ekonomi kreatif yang berfokus pada pangan, kuliner, dan kerajinan lokal.

Perayaan Misa Inkulturasi HPI 2026 di Paroki St. Pius X Mukun. (Foto: KOMYAWISTA KR)
Kekayaan seni budaya lokal, khususnya Caci dan Danding Manus, juga direncanakan menjadi bagian dari perayaan. Di bidang ekologis, penanaman pohon dan pengolahan sampah menjadi bagian dari agenda untuk mendorong kepedulian terhadap lingkungan. Seluruh rangkaian tersebut dirancang dalam semangat membangun pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga menghargai budaya, menjaga lingkungan, serta memperkuat kehidupan masyarakat lokal.
Dalam situasi pascagempa, arah perayaan kemudian bergeser menjadi sebuah momentum untuk merawat kehidupan dan memperkuat solidaritas. Pariwisata tidak ditempatkan semata-mata sebagai sektor ekonomi, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan yang dapat mempertemukan iman, budaya, lingkungan, dan kepedulian sosial.
Perayaan HPI di Mukun akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana pariwisata didesain ulang melalui perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. Lebih dari itu, perayaan ini memperlihatkan bagaimana semangat sinodal dapat diwujudkan melalui kebersamaan, kepedulian terhadap sesama, penghargaan terhadap budaya lokal, serta keberpihakan pada masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana.

Momen kebersamaan RD. Inosensius Sutam, Ketua Komisi Budaya dan Pariwisata Keuskupan Ruteng bersama umat Paroki St. Pius X Mukun setelah perayaan Misa Inkulturasi HPI 2026. (Foto: KOMYAWISTA KR)
Di tengah kesederhanaan perayaan, Hari Pariwisata Internasional yang dilaksanakan di Mukun memperlihatkan bahwa semangat kebersamaan tetap dapat tumbuh. Gempa menjadi pengalaman yang mengubah bentuk perayaan, tetapi tidak menghilangkan makna perjumpaan dan solidaritas yang hendak dibangun melalui Hari Pariwisata Internasional.
Dengan demikian, HPI 2026 di Mukun menjadi bagian dari perjalanan bersama untuk membangun pariwisata yang berkelanjutan, berakar pada budaya lokal, peduli terhadap lingkungan, terbuka terhadap perkembangan teknologi, serta tetap menempatkan manusia dan kehidupan bersama sebagai bagian penting dari arah pembangunan.

Comments are closed.