Press "Enter" to skip to content

Gempa Mengguncang Flores, Tetapi Iman dan Kasih Tak Terguncangkan

KEUSKUPANRUTENG.ORG — Gempa bumi dahsyat yang mengguncang Laut Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur yang merupakan bagian dari wilayah Keuskupan Ruteng.

Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo SR tersebut menimbulkan dampak yang sangat besar. Hingga Minggu, 23 Agustus 2026, tercatat 71 korban jiwa, 1.147 orang terluka, serta 24.084 rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 80.775 orang terpaksa mengungsi ke kemah-kemah pengungsian, yang sebagian di antaranya berada dalam kondisi cukup mengenaskan.

Momen Uskup Ruteng saat mengunjungi kemah pengungsian tempat masyarakat bernaung pasca gempa bumi di Reo. (Foto: KOMSOS KR)

Bencana yang mengguncang Pulau Flores ini bukan hanya merusak bangunan dan tempat tinggal. Gempa juga mengguncang kehidupan banyak keluarga yang dalam sekejap harus meninggalkan rumah dan harta benda yang selama bertahun-tahun dibangun dengan keringat dan air mata. Namun, di tengah situasi tersebut, semangat kebersamaan dan bela rasa justru semakin nyata.

Gereja Bergerak Sejak Hari Pertama

Sesaat setelah gempa terjadi, Keuskupan Ruteng melalui lembaga pelayanan sosialnya, Karitas Keuskupan Ruteng, di bawah koordinasi Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng, segera mengambil langkah tanggap darurat secara cepat.

Gerak cepat tim Karitas Keuskupan Ruteng membangun tenda-tenda darurat pasca gempa 7,7 sebagai tempat beristirahat pasien-pasien di halaman RSUD Ben Mboi. (Foto: KOMSOS KR)

Salah satu respons awal dilakukan adalah dengan membantu Rumah Sakit Umum Daerah Ben Mboi Ruteng yang turut terdampak hebat. Dalam situasi darurat, rumah sakit harus merawat pasien-pasien di jalanan. Sebanyak 27 tenda darurat yang merupakan booth Festival Golo Curu Keuskupan Ruteng dimanfaatkan sebagai bantuan yang sangat berharga bagi kebutuhan darurat tersebut. Tenda-tenda itu langsung dibangun setelah gempa terjadi.

Di saat yang sama, Karitas Keuskupan Ruteng segera berkoordinasi dengan 61 paroki di seluruh wilayah Keuskupan Ruteng. Koordinasi ini dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai korban beserta lokasi mereka, kerusakan rumah, serta berbagai kerusakan material lainnya akibat gempa. Data tersebut menjadi dasar penting untuk menentukan langkah pertolongan secara cepat dan sekaligus menjawab kebutuhan nyata masyarakat yang terdampak.

Potret kerusakan rumah warga di wilayah Keuskupan Ruteng akibat gempa bumi. (Foto: KOMSOS KR)

Respons Gereja yang juga telah dimulai sejak hari pertama bencana yaitu, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, mengeluarkan himbauan pastoral yang mengajak seluruh paroki, biara, komunitas, dan lembaga di seluruh wilayah Keuskupan Ruteng untuk segera bergerak membantu dan menolong para korban bencana.

Perayaan misa pascagempa di salah satu Paroki di wilayah Keuskupan Ruteng yaitu Paroki Robek, Kevikepan Reo. (Foto: Umat)

Untuk memastikan keselamatan umat, Uskup Ruteng juga mengatur agar perayaan Misa Minggu, 16 Agustus 2026, dilaksanakan di lapangan terbuka dan tidak dilakukan di dalam gedung Gereja atau kapela yang rawan akibat gempa. Langkah tersebut menjadi sangat penting mengingat gempa telah merusak 67 Gereja dan kapela, yang sebagian di antaranya mengalami kerusakan berat hingga tidak dapat digunakan lagi.

Uskup Ruteng Hadir di Tengah Para Korban

Respons kemanusiaan Keuskupan Ruteng kemudian diperkuat melalui kerja sama dengan Karitas Nasional (Karina) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia. Karitas Keuskupan Ruteng segera menyalurkan berbagai kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak, mulai dari bantuan pangan, kemah-kemah, sanitasi, hingga pelayanan medis. 

Dipimpin langsung oleh Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, pelayanan tersebut menjangkau sejumlah wilayah yang mengalami dampak parah, antara lain Reo, Dampek, Pota, serta Paroki Beanio dan Beamese di wilayah Cibal.

Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat hadir menemui dan menyapa masyarakat korban gempa di salah satu Paroki di wilayah Keuskupan Ruteng, Paroki St. Antonius Padua Ri’i, Bea Mese. (Foto: KOMSOS KR)

Kehadiran Uskup Ruteng di tengah masyarakat terdampak bukan sekadar kunjungan. Bagi para korban, kehadiran gembala tertinggi Keuskupan Ruteng ini menjadi penghiburan dan kekuatan untuk kembali merangkai harapan di tengah penderitaan yang mereka alami. Gereja berusaha memastikan bahwa para korban tidak merasa berjalan sendirian menghadapi situasi sulit ini.

Tidak hanya menyasar wilayah yang mudah dijangkau, Karitas Keuskupan Ruteng juga memberikan perhatian kepada masyarakat di daerah-daerah pedalaman yang memiliki akses lebih sulit. Bantuan dan pelayanan diarahkan ke wilayah seperti Pota bagian pegunungan, Elar, Lamba Leda, dan Manus.

Vikep Borong, RD. Simon Nama bersama tim Karitas Keuskupan Ruteng turun ke tiga Paroki di pedalaman Manus, Manggarai Timur untuk mengunjungi masyarakat terdampak bencana. (Foto: KOMSOS KR)

Kehadiran Karitas di wilayah-wilayah tersebut menjadi penegasan bahwa dalam situasi bencana yang begitu menakutkan, tidak boleh ada seorang pun yang ditinggalkan.

Semangat itu dirangkum dalam prinsip “no one left behind.”

11.907 Jiwa Menerima Manfaat Bantuan

Gerak cepat Karitas Keuskupan Ruteng telah menjangkau ribuan masyarakat terdampak. Hingga Minggu, 23 Agustus 2026, Karitas Keuskupan Ruteng telah menyalurkan 12.011 kilogram beras atau 12,01 ton, 1.081 dos makanan siap saji yang terdiri dari biskuit, mi instan, dan ikan kaleng, 396 dos air, 416 paket hygiene kit, serta 89 paket shelter yang terdiri dari terpal dan tikar, serta bantuan lainnya.

Pendistribusian bantuan sembako dan kebutuhan masyarakat korban gempa bumi oleh Karitas Keuskupan Ruteng. (Foto: KOMSOS KR)

Bantuan tersebut telah diterima oleh 11.907 orang/jiwa yang tersebar di berbagai lokasi bencana di 23 paroki. Jumlah tersebut merupakan bagian dari pelayanan kemanusiaan yang terus dilakukan Gereja untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat terpenuhi di tengah situasi darurat.

Selain melalui Karitas Keuskupan Ruteng, bantuan juga datang melalui berbagai gerakan swadaya di tingkat paroki, komunitas biara, dan Lembaga-lembaga pendidikan. Dengan demikian, jumlah penerima manfaat dari keseluruhan gerakan solidaritas Gereja Keuskupan Ruteng tidak kalah banyaknya.

Tidak Hanya Bantuan Material

Bagi Gereja, membantu korban bencana tidak berhenti pada penyaluran makanan, air, tenda, atau kebutuhan material lainnya. Karena itu, Keuskupan Ruteng bersama Karitas Indonesia juga menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak. Pelayanan medis tersebut dipimpin oleh empat dokter Karitas Indonesia.

Dokter-dokter dari Karitas Indonesia yang berjuang dari pagi hingga sore untuk mengobati dan menangani pasien-pasien korban gempa bumi salah satunya di Gereja Paroki Robek, Keuskupan Ruteng. (Foto: KOMSOS KR)

Pendampingan juga dilakukan dalam aspek psikospiritual. Para imam, suster, dan katekis hadir mengunjungi, mendampingi, serta berdoa bersama para korban. Di tengah situasi bencana yang tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik tetapi juga beban batin, pendampingan psikososial menjadi bagian penting dari respons Gereja.

Tim Psikososial dari Karitas Indonesia bersama dengan Komisi Anak dan Remaja Keuskupan Ruteng saat melakukan Trauma Healing bersama anak-anak terdampak bencana di Reo. (Foto: KOMSOS KR)

Berbagai kegiatan trauma healing dilakukan, terutama bagi anak-anak korban bencana. Melalui kegiatan tersebut, Gereja berusaha memberikan ruang bagi anak-anak untuk bermain, berinteraksi, dan perlahan mendapatkan kembali rasa aman di tengah situasi yang berubah akibat gempa.

Dengan berbagai bentuk pelayanan tersebut, Karitas Keuskupan Ruteng berusaha menghadirkan wajah Gereja yang peduli, berbela rasa, dan sungguh-sungguh “berjalan bersama” dengan para korban bencana.

Solidaritas yang Menenun Kekuatan

Dalam situasi bencana yang masih terus menyisakan berbagai kebutuhan, Karitas Keuskupan Ruteng menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan kemanusiaan, baik secara pribadi maupun melalui lembaga, perusahaan, dan komunitas.

Secara khusus, apresiasi disampaikan kepada Karitas Indonesia (Karina) yang sejak awal telah mendampingi Karitas Keuskupan Ruteng dalam koordinasi bantuan kemanusiaan bagi para korban bencana.

Uskup Ruteng, Vikjen Keuskupan Ruteng bersama dengan Kepolisian dan Camat saat mengunjungi masyarakat korban bencana di kemah pengungsian di wilayah Reo. (Foto: KOMSOS KR)

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah Desa yang telah bekerja sama dengan Karitas Keuskupan Ruteng dalam upaya pertolongan bagi masyarakat terdampak.

Kerja sama tersebut dinilai semakin penting untuk diperkuat ke depan. Sebab, meskipun masa tanggap darurat terus berjalan, kebutuhan masyarakat masih panjang. Kebutuhan sembako dan air minum bersih masih harus diperhatikan. Persoalan sanitasi dan psikososial juga semakin membutuhkan perhatian, di samping berbagai tindakan pascabencana dan rehabilitasi bagi para korban serta sarana material, terutama rumah dan perlengkapannya.

Gempa Menghancurkan, Tetapi Tidak Mematahkan Bela Rasa

Gempa bumi telah mengguncang dahsyat bumi Flores, Nusa Bunga Tercinta. Bencana tersebut telah merenggut banyak nyawa manusia dan meluluhlantakkan berbagai hasil karya yang telah dibangun para korban selama hidup mereka dengan peluh, keringat, dan cucuran air mata.

Potret Gereja Paroki Santa Maria Ratu Rosario Tersuci Reo pascagempa 7,7 melanda. (Foto: KOMSOS KR)

“Namun, satu hal yang tidak berhasil dihancurkan oleh gempa adalah semangat kebersamaan.”

Di tengah puing-puing dan tenda-tenda pengungsian, tumbuh solidaritas. Di tengah kehilangan, hadir tangan-tangan yang mengulurkan bantuan. Di tengah ketakutan dan ketidakpastian, ada mereka yang datang untuk menemani.

Momen kebersamaan Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat bertemu masyarakat muslim di kemah pengungsian, Reo. (Foto: KOMSOS KR)

Umat Allah Keuskupan Ruteng, bersama berbagai pihak dan seluruh penganut agama di wilayah ini, terus menenun kekuatan dalam kasih setia Allah yang tidak berkesudahan.

Bagi Gereja, bencana ini menjadi panggilan untuk terus hadir dan berbelarasa. Bukan hanya pada saat kebutuhan mendesak, tetapi juga dalam perjalanan panjang pemulihan yang masih terbentang di depan. Karena itu, semangat untuk berjalan bersama harus terus dijaga.

Bersama kita bisa. Yes, together we can!

Gempa mengguncang, tetapi Iman dan Kasih tak terguncangkan. Potret kebersamaan Uskup Ruteng, Vikjen Keuskupan Ruteng, Sekjen Keuskupan Ruteng, dan tim Karitas Keuskupan Ruteng bersama umat terdampak bencana di stasi Timbu, Paroki Santo Mikhael Beanio. (Foto: KOMSOS KR)

Kiranya Tuhan senantiasa melindungi, membimbing, dan memberkati setiap karya bela rasa yang terus dihidupi bersama demi mereka yang sedang berjuang bangkit dari luka bencana.

Comments are closed.