Komsos Ruteng May 20, 2019

Jika berjalan dari Ruteng menuju Borong dan melewati Danau Rana Mese, Anda akan menjumpai rumah-rumah di kiri dan kanan jalan yang menjual sayur mayur dan buah buahan. Itulah sebagian dari wilayah Stasi Maras, Paroki Sita.

Sebagian besar umatnya bekerja sebagai petani. Selain tanaman perdagangan seperti kopi dan cengkeh, mereka mengolah sawah, kebun buah dan sayur mayur.

Ketua Stasi Maras Yohanes Brekmans

“Ada 250 keluarga di stasi ini. Mereka tersebar di 11 KBG,” kata Ketua Stasi Maras Yohanes Brekmans saat mengikuti pembukaan program pendampingan kelompok tani oleh Caritas Keusjupan Ruteng di gereja stasi, Minggu (19/05/2018).

Sekilas pandang sudah terlihat, wilayah ini potensial untuk pertanian. Aliran air dari Danau Rana Mese sangatlah cukup untuk itu. Cuaca yang sedang dan topografi lereng gunung memungkinkan banyak jenis tanaman yang bisa dikembangkan.

Selain itu, panorama alam yang indah dan jalur lalulintas yang ramai memberi peluang bagi warga untuk berbisnis kecil kecilan. Mereka membuka warung-warung kopi dan menjajakan aneka buah serta sayur mayur di kiri-kanan jalan.

“Kebetulan saya sendiri juga membuka usaha cafe di dekat Danau Rana Mese. Selama inj, warga sekitar anthusias menjual hasil usaha mereka seperti sayur, selada dan buah-buahan,” kata Yohanes Brekmans.

Namun hingga kini, umat Stasi Maras belum maksimal memanfaatkan potensi yang ada. Seperti diakui oleh Kepala Desa Golo Loni, Gabriel Gandut. Buah-buahan dan sayur mayur, kata dia, banyak yang dititip oleh petani dari luar wilayah sehingga harganya mahal.

Kepala Desa Golo Loni Gabriel Gandut

“Ini fakta. Karena dibeli, harga buah dan sayur yang tidak bisa ditawar. Akibatnya sampai sore hari dan besoknya juakan itu sudah layu dan jadi makanan babi,” ungkap Gabriel dalam sambutan sebagai tokoh masyarakat pada pembukaan program pendampingan pertanian organik oleh Caritas Ruteng.

Sebagian sayur, lanjut dia, diambil dari hutan tanpa melalui pengolahan.

“Betul, itu pemberian dari alam. Tetapi bagaimana pun kita harus berdaya dengan mebuat usaha sendiri supaya hidup lebih maju,” kata Gabriel.

Gabriel berharap program pendampingan bagi para petani sayur organik akan membawa perubahan bagi umat yang juga warga desa Golo Loni itu. Dengan menjual hasil olahan sendiri, harga bisa lebih bersaing. Apalagi kalau kualitas produk mereka yang organik itu lebih bagus, tentu lebih banyak orang akan membeli.

Harapan yang sama juga disampaikan oleh Ketua Stasi Maras Yohanes Brekmans. Dampingan Caritas Keuskupan kiranya membuat potensi yang ada pada alam lingkungan dapat dimanfaatkan secara lebih baik untuk kesejahteraan umat. Ia sendiri, di tengah kesibukan pekerjaan yang lain, juga bergabung dalam kelompok dampingan itu.









Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*