Press "Enter" to skip to content

Dari Wae Lengkas, Menyalakan Semangat Misi, WASH, dan Perlindungan Anak

Jambore KMKI Keuskupan Ruteng mempertemukan 120 pendamping dan animator remaja dari sembilan Paroki Model Paroki Sayang Anak untuk belajar, berbagi, dan membangun pelayanan anak yang semakin misioner, sehat, aman, dan ramah anak.

Komisi Karya Misioner Keuskupan Indonesia atau KMKI Keuskupan Ruteng menyelenggarakan Jambore WASH, Animasi Misioner, dan Perlindungan Anak bagi sembilan Paroki Model Paroki Sayang Anak di Keuskupan Ruteng. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Ret-Ret Wae Lengkas, 25-27 Juni 2026 tersebut dihadiri oleh 50 pendamping SEKAMI dan 70 animator remaja yang berasal dari 9 Paroki saying Anak model, yakni Paroki Santa Maria Penolong Abadi Lawir, Paroki Santo Paulus Mano, Paroki Santo Klaus Kuwu, Paroki Santo Yakobus Wangkung, Paroki Santo Antonius Padua R’i, Paroki Santo Antonius Abbas Beokina, Paroki Hati Yesus Mahakudus Nanu, Paroki Santo Petrus Tanggar, dan Paroki Kristus Raja Pagal.

Belajar dari Cerita yang Telah Bertumbuh

Hari pertama, 25 Juni 2026, dimulai dengan sesi pembelajaran dari pengalaman kegiatan anak di paroki masing-masing. Para peserta diajak melihat kembali apa yang telah dilakukan, perubahan apa yang mulai tampak, serta tantangan apa yang masih dihadapi.

Dari proses tersebut, muncul gambaran yang menggembirakan. Partisipasi anak dalam berbagai kegiatan paroki semakin meningkat. Kegiatan anak juga tidak lagi hanya berpusat pada bina iman mingguan. Di sejumlah paroki, anak-anak mulai dilibatkan dalam kegiatan belarasa bersama kelompok rentan, aksi sosial, serta gerakan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Learning awal kegiatan bersama Ketua KMKI Keuskupan Ruteng, RD. Beben Gaguk. (Foto: KMKI KR)

Bina iman perlahan-lahan bergerak keluar dari ruang pertemuan. Iman tidak hanya dibicarakan, tetapi diwujudkan melalui tindakan sederhana: berbagi, menjaga kebersihan, merawat alam, menghormati teman, dan memperhatikan mereka yang membutuhkan pertolongan.

Namun, perjalanan tersebut belum tanpa tantangan. Para pendamping menyadari bahwa dukungan orang tua terhadap kegiatan anak masih belum optimal. Jumlah pendamping SEKAMI juga masih terbatas, sementara kebutuhan pelayanan anak terus bertambah.

Dalam suasana yang hangat, para pendamping membagikan alasan mengapa mereka tetap setia mendampingi anak-anak. Kesetiaan itu lahir dari kesadaran bahwa mendampingi anak berarti menanam benih bagi masa depan Gereja. Benih itu mungkin belum langsung terlihat, tetapi perlahan bertumbuh dalam keberanian, kepedulian, tanggung jawab, dan kehidupan iman anak.

Anak-anak dan animator remaja juga membagikan perubahan baik yang mereka rasakan selama mengikuti kegiatan SEKAMI. Ada yang menjadi lebih percaya diri, lebih berani berbicara, lebih mampu bekerja sama, dan lebih terbuka dalam membangun persahabatan.

“Saya semakin percaya diri untuk berbicara dan melakukan kampanye stop bullying”, ungkap Ludgardis salah satu peserta kegiatan.”Hal senada juga disampaikan Wihelmina seorang pendamping sekami yang terlibat kegiatan ini “Saya merasakan sebuah perubahan dalam mendampingi sekami melalui materi baru yang diberikan misalnya materi WASH, batas aman untuk anak dan pendamping, serta bagaimana menjadi pendengar yang baik bagi anak sekami”.

Hari pertama ditutup dengan materi yang dibawakan oleh Rm. Beben Gaguk, Direktur KMKI Keuskupan Ruteng, mengenai profil KMKI, arah Pastoral Anak Keuskupan Ruteng, dan spiritualitas misioner.

Rm Beben mengajak peserta untuk memperkuat spiritualitas misioner para pendamping dan animator. Semangat misi tidak hanya dipahami sebagai kegiatan atau program, tetapi sebagai cara hidup yang berakar pada Kristus—Kristus yang hadir, mendengarkan, menyembuhkan, melindungi, dan berjalan bersama mereka yang kecil dan rentan.

“Seorang misioner bukan hanya orang yang pergi jauh. Seorang anak yang berani menolong temannya, seorang animator yang sabar mendengarkan, serta seorang pendamping yang setia menciptakan ruang aman bagi anak juga sedang menjalankan perutusan Kristus”.

Membangun Pastoral yang Aman bagi Anak

Hari kedua, 26 Juni 2026, dibuka dengan sosialisasi dan animasi Pedoman Perlindungan Anak Keuskupan Ruteng yang dibawakan oleh Rm. Thomas Julivadistanto.

Pedoman tersebut diperkenalkan sebagai dasar penting untuk memastikan bahwa setiap anak aman dan terlindungi dalam kegiatan pastoral. Perlindungan anak bukan sekadar dokumen administratif atau seperangkat aturan. Pedoman itu harus menjadi sikap hidup para pelayan pastoral dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi seluruh kegiatan bersama anak.

Anak-anak menyiapkan bahan kampanye perlindungan anak. (Foto KMKI KR)

Rm. Tanto menjelaskan bahwa setiap kegiatan anak memiliki kemungkinan risiko. Risiko itu dapat muncul dari lokasi kegiatan, pola komunikasi, metode permainan, penggunaan media sosial, perjalanan, penginapan, maupun relasi antara anak dan orang dewasa.

“Niat baik saja tidak cukup. Pelayanan yang baik juga membutuhkan prosedur, kewaspadaan, tanggung jawab, dan keberanian untuk bertindak ketika keselamatan anak terancam”.

Karena itu, peserta dilatih melakukan Analisis Perlindungan Anak. Mereka belajar mengidentifikasi kemungkinan kekerasan, pelecehan, perundungan, diskriminasi, atau situasi tidak aman yang dapat terjadi selama kegiatan. Setelah mengenali risiko, peserta diminta menyusun langkah-langkah mitigasi agar kegiatan tidak hanya menarik, tetapi juga aman bagi semua anak.

Animator Remaja Bersuara Melawan Kekerasan

Selanjutnya, animator remaja dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka diajak menganalisis berbagai persoalan anak di wilayah paroki masing-masing. Beragam persoalan muncul dari diskusi: kekerasan verbal, perundungan, kekerasan dalam keluarga, pelecehan seksual, pernikahan usia anak, ketergantungan terhadap media sosial, tekanan pergaulan, hingga kurangnya ruang aman bagi anak untuk bercerita.

Para animator remaja kemudian dilatih merancang kampanye kreatif Stop Kekerasan terhadap Anak, delam perbagai bentuk alat peraga kreatif. Dengan demikian, animator remaja tidak ditempatkan hanya sebagai peserta. Mereka dipersiapkan sebagai pelaku perubahan. Suara mereka penting karena remaja sering kali lebih dekat dengan pengalaman dan bahasa anak sebaya.

Ketua Komisi KMKI Keuskupan Ruteng, RD. Beben Gaguk bersama perwakilan animator-animatris dan remaja misioner setelah materi perlindungan anak. (Foto: KMKI KR)

Sementara itu, dalam kelas pendamping, peserta mempelajari psikologi perkembangan anak, pengasuhan anak dengan cinta, serta simulasi katekese anti-perundungan dalam kegiatan SEKAMI.

Para pendamping diajak menyadari bahwa anak pada setiap tahap usia memiliki kebutuhan, kemampuan, dan cara berkomunikasi yang berbeda. Pendampingan yang ramah anak tidak dapat dibangun melalui ancaman, rasa takut, hukuman fisik, atau kata-kata yang merendahkan.

Disiplin tetap diperlukan, tetapi disiplin harus mendidik. Teguran tetap dapat diberikan, tetapi tanpa melukai martabat anak.

Aku Aman, Kamu Aman

Isu kesehatan mental menjadi bagian penting dalam jambore ini. Materi disampaikan oleh Ibu Anggie Narwastu, play therapist, yang mengajak peserta memulai pendampingan dari keberanian mengenal diri sendiri.

Pendamping anakperlu mengenali kelebihan, keterbatasan, kelelahan, serta kondisi emosional masing-masing. Seseorang yang tidak menyadari kelelahan dan luka dalam dirinya dapat dengan mudah melampiaskan emosi kepada orang lain, termasuk kepada anak yang sedang didampingi.

“Mengenal diri bukanlah tanda kelemahan. Justru dari sanalah seseorang belajar mengelola emosi, menetapkan batas yang sehat, meminta bantuan, serta menjadi lebih peka terhadap keadaan orang lain.”

Peserta belajar menjadi teman yang bersedia hadir dan mendengarkan keluh kesah sesama. Dalam banyak keadaan, seseorang tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Ia membutuhkan telinga yang tidak menghakimi, kehadiran yang tidak tergesa-gesa, dan sahabat yang tidak segera menyuruhnya untuk sekadar “kuat”.

Menjadi Kader WASH dan PHBS

Selain perlindungan anak dan kesehatan mental, peserta juga dipersiapkan menjadi kader WASH dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat bagi anak-anak SEKAMI.

WASH—yang mencakup air bersih, sanitasi, dan kebersihan—bukan sekadar persoalan teknis. Ketersediaan air bersih, toilet yang aman, kebiasaan mencuci tangan, pengelolaan sampah, serta kebersihan lingkungan sangat berkaitan dengan kesehatan, martabat, dan perlindungan anak.

Para pendamping dan animator diharapkan dapat meneruskan pengetahuan tersebut melalui kegiatan sederhana di paroki: kampanye mencuci tangan, pemeriksaan kebersihan lingkungan, gerakan membawa botol minum, pengurangan sampah plastik, pemeliharaan toilet, serta aksi membersihkan lingkungan gereja dan tempat tinggal.

Iman yang hidup juga tampak dari cara manusia memperlakukan tubuh, air, tanah, dan lingkungan. Kesalehan tidak boleh berhenti di altar; ia harus mengalir sampai ke tempat mencuci tangan, halaman gereja, sumber air, dan ruang bermain anak.

Dari Modul Menuju Praktik

Pada hari ketiga, 27 Juni 2026, para pendamping bekerja bersama mengembangkan modul pendampingan Bina Iman Anak Tematik sepanjang tahun.

Modul tersebut memuat beragam metode yang dapat digunakan di paroki, seperti animasi dan permainan Kitab Suci, pengenalan profil orang kudus, refleksi iman, aksi sosial, perlindungan anak, serta kegiatan kepedulian terhadap lingkungan.

Materi tidak berhenti di meja diskusi. Para pendamping langsung mempraktikkan metode yang telah disusun bersama anak-anak SEKAMI dan animator remaja yang hadir.

Praktik ini membantu peserta melihat apakah materi mudah dipahami, sesuai dengan usia anak, menggembirakan, partisipatif, dan aman. Anak tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi ikut terlibat, bergerak, bertanya, bermain, menyampaikan pendapat, serta belajar dari pengalaman.

Di sinilah wajah pastoral anak yang baru mulai terlihat: bukan pelayanan yang seluruhnya dikendalikan oleh orang dewasa, melainkan ruang perjumpaan tempat suara anak dihargai dan partisipasinya mendapat tempat.

Pulang Membawa Perutusan

Jambore di Wae Lengkas akhirnya ditutup, tetapi perutusannya justru dimulai ketika para peserta kembali ke paroki masing-masing. Mereka pulang bukan hanya membawa modul, catatan, atau bahan permainan. Mereka membawa kesadaran bahwa pelayanan anak menuntut lebih dari kreativitas. Pelayanan anak membutuhkan spiritualitas yang kuat, pengetahuan yang memadai, sistem perlindungan yang jelas, kepekaan terhadap kesehatan mental, serta komitmen terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Anak-anak perlu melihat bahwa Gereja bukan hanya tempat mereka diminta diam dan mendengarkan. Gereja harus menjadi rumah tempat mereka dapat berdoa, bermain, berbicara, bertanya, belajar, bertumbuh, dan merasa aman.

Dari Wae Lengkas, semangat itu dinyalakan kembali: menjadi misioner berarti membawa kasih Kristus hingga ke ruang-ruang paling sederhana dalam kehidupan anak—ke dalam permainan mereka, air yang mereka minum, lingkungan yang mereka rawat, cerita yang mereka bagikan, dan perlindungan yang menjadi hak mereka.

“Semoga kegiatan seperti ini dapat dilakukan hingga di tingkat stasi, sehingga semakin banyak peserta stasi yang terlibat”, tutup Antonia salah satu pendamping yang mengikuti kegiatan ini.

Disusun oleh: Tim Pastoral Anak Keuskupan Ruteng

Comments are closed.