Press "Enter" to skip to content

Dari Tengah Reruntuhan, Harapan Kembali Dinyalakan

Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat mengunjungi Paroki Santo Mikhael Beanio untuk menyapa umat terdampak gempa bumi.

KEUSKUPANRUTENG.ORG — Di tengah duka dan keprihatinan akibat bencana gempa bumi, kehadiran seorang gembala menjadi sumber kekuatan bagi umat yang sedang menghadapi masa sulit. Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, mengunjungi masyarakat terdampak gempa bumi di Paroki Santo Mikhael Beanio, pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Dalam kunjungan kasih tersebut, Uskup Ruteng bersama Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Ruteng, RP. Sebastianus Hobahana, SVD; Sekretaris Jenderal (Sekjen) Keuskupan Ruteng, RD. Rikardus Moses Jehaut; serta tim Caritas Keuskupan Ruteng. Kehadiran ini menjadi wujud nyata perhatian dan kepedulian Gereja terhadap umat yang sedang mengalami dampak bencana.

Potret Bangunan Gereja Santo Mikhael Beanio yang rusak berat akibat gempa bumi. (Foto: KOMSOS KR)

Gempa bumi turut menyebabkan bangunan Paroki Santo Mikhael Beanio mengalami kerusakan berat. Bangunan yang selama ini menjadi tempat umat berkumpul, berdoa, merayakan Ekaristi, dan membangun persaudaraan kini tidak lagi berdiri seperti sebelumnya. Yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan yang menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana.

Di hadapan reruntuhan tersebut, Uskup Ruteng hadir bukan sekadar untuk melihat kerusakan, tetapi terutama untuk berjumpa dengan umat yang sedang terluka dan menguatkan mereka. Bersama rombongan, Bapak Uskup menyapa masyarakat, mendengarkan pengalaman mereka, serta melihat secara langsung kondisi yang mereka hadapi setelah gempa.

Uskup Ruteng menyapa para umat terdampak bencana gempa bumi di Paroki Santo Mikhael Beanio. (Foto: KOMSOS KR)

Puing-puing bangunan Gereja Santo Mikhael Beanio seakan berbicara tentang sebuah kehilangan besar. Namun, di balik reruntuhan itu juga terlihat sebuah kekuatan lain yang tidak ikut runtuh—iman umat. Bangunan gereja boleh roboh, tetapi Gereja sebagai persekutuan umat tetap hidup. Doa, persaudaraan, dan pengharapan tetap menjadi kekuatan untuk menghadapi hari-hari yang penuh tantangan.

Kunjungan kasih ini menunjukkan bahwa pelayanan Gereja tidak berhenti pada pemberian bantuan material. Gereja hadir dengan hati yang mau mendengarkan, tangan yang siap membantu, dan langkah yang bersedia berjalan bersama mereka yang sedang menderita.

Uskup Ruteng bersama Vikjen Keuskupan Ruteng, Sekjen Keuskupan Ruteng, serta tim Caritas Keuskupan Ruteng, hadir di tengah umat Paroki Santo Mikhael Beanio. (Foto: KOMSOS KR)

Di tempat sebuah bangunan runtuh, kasih justru menemukan ruang untuk berdiri. Di antara puing-puing yang tersisa, persaudaraan kembali diteguhkan. Dan di tengah luka yang belum pulih, kehadiran seorang gembala menjadi tanda bahwa Gereja tidak meninggalkan umatnya.

Gempa mungkin telah meruntuhkan bangunan yang menjadi tempat umat berkumpul. Namun, iman, persaudaraan, dan harapan tidak ikut menjadi puing-puing. Dari tengah reruntuhan itulah, Gereja dipanggil untuk kembali membangun—bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga kehidupan, kekuatan, dan harapan umat.

Comments are closed.