KEUSKUPANRUTENG.ORG — Hari keempat Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2025 berlangsung spektakuler . Sejak pagi, umat dan masyarakat memadati jalur karnaval dan pelataran Gereja Katedral Ruteng untuk menyaksikan rangkaian atraksi yang memanjakan mata — dari karnaval budaya, tarian Ende Pati Mose Nai penyambutan arca Bunda Maria, hingga pesta kopi bertajuk Kofiesta: Mai Ndorik Inung Kopi.
Karnaval Budaya yang Penuh Warna dan Sukacita
Acara dibuka dengan karnaval budaya yang diikuti oleh 48 kelompok paguyuban dari berbagai etnis, agama, dan budaya. Karnaval ini dilepas secara resmi oleh Ketua Umum Festival Golo Curu 2025, Bapak Yosep Nono. Turut hadir dalam acara ini, Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, Vikjen Keuskupan Ruteng RP. Sebastianus Hobahana, Vikep Ruteng, dan pastor paroki se-Keuskupan Ruteng. Bapak Bupati Manggarai Heribertus G.L. Nabit, dan Wakil Bupati Fabianus Abu, beserta jajaran pemerintah daerah bersama Kementerian Agama Kabupaten Manggarai pula hadir dalam acara hari keempat ini.

Peserta karnaval budaya dari Madrasah yang mengenakan busana adat berbagai daerah pada Senin, 06 Oktober pagi (Foto: KOMSOS KR)
Beragam atraksi budaya menghiasi jalanan Ruteng sampai ke pelataran Gereja Katedral. Mulai dari paroki-paroki dari seluruh Keuskupan Ruteng serta utusan Keuskupan Labuan Bajo yang turut ambil bagian dalam parade ini. Pemerintah daerah Kabupaten Manggarai dan juga Kementerian Agama Kabupaten Manggarai ikut berpartisipasi penuh dalam karnaval budaya ini. Sementara itu, sekolah-sekolah dari TK hingga SMA bahkan tingkat Universitas dan sekolah tinggi, UNIKA St. Paulus Ruteng, STIE Karya dan STIPAS tampil dengan kreativitas tinggi yang menambah semarak suasana. Atraksi dari kelompok-kelompok etnis juga menjadikan karnaval budaya penuh warna.

Karnaval Budaya Roko Molas Poco oleh Sanggar Lando Uwa UNIKA St. Paulus Ruteng pada Senin, 06 Oktober pagi (Foto: KOMSOS KR)
Keragaman budaya Manggarai semakin ditunjukkan dengan penampilan Ritus Karong Woja Wolé dan Roko Molas Poco oleh Sanggar Lando Uwa UNIKA St. Paulus Ruteng, Wéla Héndéng (Wagal Kawing) oleh SMAN 1 Langke Rembong, hingga Déndé, Ronda, Sanda, dan Caci oleh SMAN 2 Langke Rembong serta SMK St. Aloysius. Setiap penampilan menggambarkan kekayaan alam dan budaya Manggarai dan semangat persaudaraan antarumat.
Tarian Maria Ratu Rosari Ende Pati Mose Nai dan Arca Maria: Perpaduan Iman dan Budaya

Tarian Maria Ratu Rosari Ende Pati Mose Nai penyambutan arca Bunda Maria Ratu Rosari yang dibawakan oleh Siswa/i SMK Sadar Wisata Ruteng dan Mahasiswa Sanggar Lando Uwa UNIKA St. Paulus Ruteng, Senin 06 Oktober pagi (Foto: KOMSOS KR)
Usai karnaval budaya, suasana berubah khidmat ketika arca Bunda Maria Ratu Rosari diarak menuju Pelataran Gereja Katedral Ruteng. Arca Bunda Maria tersebut disambut dengan tarian Maria Ratu Rosari Ende Pati Mose Nai, penyambutan yang menggambarkan keharmonisan antara iman dan budaya. Perpaduan antara ritme lagu, gerak para penari, dan wajah-wajah umat yang bersukacita menjadikan momen ini simbol pertemuan antara tradisi dan devosi — sebuah ciri khas dari Festival Golo Curu. Kehangatan semakin terasa ketika seluruh tamu undangan dan masyarakat turut bergabung dalam tarian Déndé bersama, menandai semangat kebersamaan dan sukacita iman yang hidup di tengah masyarakat Manggarai.
Kofiesta: Mari Menyeruput Kopi dalam Sukacita

Para tamu undangan dan peserta karnaval dari berbagai etnis turut mengambil bagian dalam Kofiesta, Senin 06 Oktober pagi (Foto: KOMSOS KR)
Sebagai penutup, hari keempat festival ini diakhiri dengan acara unik bertajuk Kofiesta: Mai Ndorik Inung Kopi, yang berarti “Mari bersama menyeruput kopi.” Ada 1000 cangkir kopi khas Manggarai yang disajikan untuk merangkul semua orang pada puncak acara hari keempat ini. Acara ini bukan sekadar pesta kopi, melainkan ungkapan syukur dan spiritualitas khas Manggarai, di mana kopi menjadi simbol devosi dan solidaritas. Kopi telah hadir dalam prosesi Karong Woja Wolé, syukur tahunan Manggarai, dan bahkan menjadi bagian dari untaian Rosario yang dikenakan pada arca Bunda Maria.

Sajian Kopi Manggarai dalam Kofiesta, Senin 06 Oktober pagi (Foto: KOMSOS KR)
Dalam refleksi penutup, tersirat pesan mendalam: Randang bémbang oné wéla kopi: Mari berfestival dalam bunga kopi. Ramé raés oné bengé kopi: Mari beryubelium dalam harum wangi kopi. Lako ndorik inung kopi: Mari berjalan bersama dalam seruput kopi — bersinode dengan sesama dan alam. Demikianlah semarak hari keempat Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2025 — sebuah momentum iman dan budaya yang mempersatukan umat, menggugah semangat kebersamaan, dan menghidupkan kembali kearifan lokal Manggarai dalam aroma harum kopi dan doa Rosario. (Sasha Claudia)

Comments are closed.