Penulis : Sasha Claudia (Reporter keuskupanruteng.org)
EVENT tahunan paling spektakuler, Festival Lembah Sanpio (FLS) 2025 telah berakhir. Digelar selama sepekan, 4 sampai 8 September 2025 di Kisol, Kevikepan Borong, tahun ini FLS memasuki tahun ke-2 pelaksanaannya dengan berbagai penampilan dan acara yang lebih atraktif dan berkesan. Festival ini dikemas dengan apik yang menyatukan antara wisata religi (Katolik), budaya dan ekonomi kreatif.
Menariknya pula, kolaborasi antara Keuskupan Ruteng dan Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur (Matim) membuat FLS menjadi “bintang” yang semakin berkilau, memikat, dan dikagumi banyak orang termasuk wisatawan nusantara dan mancanegara karena nilai-nilai ritual, spiritual, dan kekayaan budaya dalam kesemarakannya yang membangkitkan pesona.
Tahun ini FLS mengusung tema ”Ekaristi Transformatif : Sanpio Bermutu, Berkarakter, dan Berejalan Bersama”. Melalui festival ini, pariwisata Manggarai Timur mendapat ruang untuk semakin populer dan dikenal luas dan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bisa meraup keuntungan ekonomis sembari mempromosikan aneka produk yang dihasilkan baik berbagai kuliner, hasil kerajinan tangan maupun beraneka barang bernilai jual yang dibutuhkan konsumen.

Tari kolosal oleh para pelajar sekolah menengah di Manggarai Timur menyambut arca Maria Bunda Segala Bangsa yang diprosesikan dalam Festival Lembah Sanpio, Sabtu, 6 Septemnber 2025 di lapangan Seminari Menengah Pius XII Kisol. (Foto : SASHA/KEUSKUPANRUTENG.ORG)
Serangkaian acara mewarnai pekan FLS, di antaranya prosesi akbar Maria Bunda Segala Bangsa, Perayaan Ekaristi, pameran UMKM di lapangan sepak bola Seminari Menengah Pius XII Kisol, aksi sosial karitatif untuk kaum rentan, pemeriksaan kesehatan gratis, karnaval budaya yang diikuti oleh lintas agama, etnis dan suku, kegiatan ekologi berupa penanaman pohon di lahan seminari dan pelatihan skill dan keterampilan kreatif.
Pada misa puncak FLS, Senin, 8 September 2025, Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat dalam homilinya, mengatakan, festival ini bukan sekedar perayaan liturgis yang meriah, melainkan sebuah fenomena pneumatoligis, yakni manifestasi nyata dari Roh Kudus yang menggerakkan Gereja unttuk keluar dari zona nyamannya.
“Ia menjadi jawaban konkret atas ajakan paus Fransiskus tentang Gereja yang keluar – Ecclesia in exitu, yang tidak terkungkung dalam ritus dan ibadat semata, tetapi hadir di jalanan berbedu, di kantor-kantor pemerintahan dan sekolah, di pasar yang hiruk-pikuk, di ladang petani yang mengering dan di rumah-rumah sederhana rakyat kecil,” ujar Mgr. Siprianus.
Melalui festival ini, Mgr. Siprianus menuturkan, Gereja mau hadir secara profetis bukan sekadar menjalankan ritus kultis yang indah, melainkan kultus transformatif yang mengubah realitas, ekonomi berbasis nilai yang tidak hanya mengejar keuntungan materi, tetrapi juga memprioritaskan martabat manusia dan kelestarian alam ciptaan.

Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat saat menyampaikan homili dalam misa puncak Festival Lembah Sanpio di Kisol, Senin malam, 8 September 2025. Perayaan Ekaristi ini menjadi puncak dari keseluruhan event religi, pariwisata dan ekonomi-kreatif yang berlangsung sejak tanggal 4 September. (Foto : SASHA/KEUSKUPANRUTENG.ORG)
“Demikian juga pendidikan karakter holistik yang tidak hanya mencetak tenaga kerja terampil, tetapi juga pribadi-pribadi beriman yang mampu menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. Persaudaraan lintas batas yang melampaui sekat-sekat agama, suku, dan golongan mewujudkan visi Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang kita sebut sebagai “Ekaristi yang keluar” dari hostia ke solidaritas, dari altar menuju pasar kehidupan,” kata Mgr. Siprianus.
Dari lanskap FLS 2025 yang telah digelar dan ditutup dengan semarak, ada beribu kesan, cerita dan kenangan menjadi inspirasi, tak hanya bagi pengunjung dan semua orang yang berpartisipasi di dalamnya, namun juga untuk setiap orang yang sedang berziarah dalam “festival kehidupan” di dunia, ada benang merah yang darinya mesti terus dirajut dalam kebersamaan, seperti pesan Mgr. Siprianus di penghujung homilinya, bahwa seperti Maria yang bergegas menemui Elisabet, kita semua pun di utus dengan tergesa-gesa yang penuh kasih : dari altar menuju pasar, dari doa menuju aksi dan dari Ekaristi menuju transformasi.*

Comments are closed.