KEUSKUPANRUTENG.ORG — Di tengah ketakutan dan trauma yang masih dirasakan umat setelah gempa bumi, Gereja terus bergerak menjangkau mereka yang berada jauh dari pusat kota. Kamis, 20 Agustus 2026, Caritas Keuskupan Ruteng menembus wilayah pedalaman Manus, Manggarai Timur, untuk menyapa dan memberikan bantuan kepada umat yang terdampak bencana.
Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng, RD. Martin Chen, bersama Vikaris Episkopal Borong, RD. Simon Nama, dan tim Caritas Keuskupan Ruteng mengunjungi sejumlah stasi yang berada di tiga paroki pedalaman. Kunjungan tersebut menyasar Stasi Nceang dan Stasi Waling Tok di Paroki Santo Robertus Bellarminus Tilir, Stasi Watu Mundung di Paroki Santo Pius X Mukun, serta Stasi Watu Mingan di Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Mbata.

Vikep Borong, RD. Simon Nama, bersama tim Caritas Keuskupan Ruteng hadir ditengah umat stasi pedalaman Manus. (Foto: KOMSOS KR)
Perjalanan menuju wilayah-wilayah tersebut menjadi wujud nyata perhatian Gereja terhadap umat yang terdampak, terutama mereka yang berada di wilayah pedalaman dan membutuhkan dukungan setelah bencana.
Kedatangan tim Caritas disambut dengan penuh sukacita oleh umat di setiap stasi. Di tengah rasa takut dan trauma yang masih membekas akibat guncangan gempa, kehadiran Gereja menjadi tanda bahwa mereka tidak berjalan sendirian menghadapi masa sulit ini.

Pendistribusian bantuan untuk umat terdampak di stasi-stasi yang ada di tiga Paroki pedalaman Manus. (Foto: KOMSOS KR)
Bersama para pastor dari ketiga paroki, bantuan didistribusikan langsung kepada umat di stasi-stasi yang terdampak. Bagi masyarakat yang kehilangan rumah dan harus bertahan dalam kondisi serba terbatas, bantuan tersebut bukan sekadar kebutuhan material. Lebih dari itu, kunjungan Gereja menjadi tanda cinta dan kepedulian yang menguatkan hati mereka.
Seorang ibu di Stasi Nceang mengungkapkan rasa syukurnya dengan penuh haru. Rumahnya telah runtuh akibat gempa dan keluarganya tidak lagi memiliki tempat tinggal yang layak. Namun, di tengah kehilangan itu, kehadiran Gereja memberinya kekuatan baru.
“Syukur dan terima kasih melalui bapak pastor dan tim yang sudah mengunjungi kami yang menjadi korban bencana gempa. Rumah kami runtuh dan kami tidak punya tempat tinggal lagi. Namun, kami bersyukur dan berterima kasih karena Keuskupan punya cinta buat kami yang jadi korban di desa ini. Kami jadi sedikit lebih kuat dengan kehadiran Keuskupan di tengah kami.”

RD. Martin Chen, Direktur Puspas Keuskupan Ruteng saat menemui umat terdampak bencana di stasi Nceang, Tilir. (Foto: KOMSOS KR)
Ungkapan sederhana itu menggambarkan betapa berarti sebuah kunjungan bagi mereka yang sedang mengalami masa sulit. Ketika rumah-rumah runtuh dan rasa aman seakan hilang, kehadiran sesama dapat menjadi tempat untuk kembali menemukan kekuatan dan harapan.
Melalui kunjungan ke pedalaman Manus, Caritas Keuskupan Ruteng kembali menegaskan bahwa pelayanan Gereja tidak berhenti pada pemberian bantuan. Gereja hadir untuk berjalan bersama umat, mendengarkan luka mereka, menguatkan yang lemah, dan memastikan bahwa tidak seorang pun merasa ditinggalkan dalam menghadapi bencana.
Di tengah reruntuhan dan ketakutan, kehadiran Gereja menjadi pesan sederhana namun mendalam: umat tidak sendirian. Gereja berjalan bersama mereka, membawa cinta, kepedulian, dan harapan untuk bangkit kembali.

Comments are closed.