Press "Enter" to skip to content

Berziarah Bersama dalam Pengharapan: Ribuan Umat Paroki Santo Paulus Mano Ikuti Prosesi Sakramen Mahakudus

KEUSKUPANRUTENG.ORG — Umat Katolik di Paroki Santo Paulus Mano merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dengan penuh iman dan khidmat. Selain merayakan Ekaristi kudus, umat juga melakukan Prosesi Sakramen Mahakudus yang digelar pada Minggu sore, 7 Juni 2026.

​Prosesi yang dimulai tepat pukul 15.00 WITA ini dilangsungkan di lima wilayah stasi, yakni Stasi Pusat/Mano, Stasi Lame, Stasi Bealaing, Stasi Lewe, dan Stasi Watu Kaur. Prosesi di masing-masing stasi tersebut dipimpin langsung oleh seorang imam.

Wujud Nyata Tema Sinode IV Keuskupan Ruteng

Perayaan Pesta Tubuh dan Darah Kristus tahun ini terasa semakin bermakna karena menjadi bagian integral dari gerak bersama Sinode IV Keuskupan Ruteng yang tengah berlangsung sepanjang tahun 2026. Prosesi akbar ini menjadi salah satu perwujudan konkret dari tema besar sinode: “Berziarah Bersama dalam Pengharapan: Beriman, Bersaudara, dan Misioner.”

Arak-arakan Sakramen Mahakudus yang melintasi jalan-jalan di wilayah paroki Mano melambangkan dengan indah eksistensi umat sebagai musafir yang sedang “berziarah bersama” di dunia ini, dengan Kristus sendiri sebagai pemandu dan sumber pengharapan mereka.

Gotong Royong KBG dan Kepedulian Misioner di Stasi Mano

Semangat persaudaraan dan misioner dari program Sinode IV terpancar kuat di Stasi Pusat/Mano. Di stasi ini, umat dari setiap gabungan 2 Komunitas Basis Gerejani (KBG) bergotong-royong mendirikan dan menghias altar pentakhtaan Sakramen Mahakudus. Kolaborasi antar-KBG ini mempererat tali persaudaraan sejati di antara umat.

Lebih dari itu, nuansa misioner yang penuh kasih tampak nyata ketika umat dengan sukarela membawa kerabat dan keluarga mereka yang sedang sakit ke rute prosesi. Tindakan ini membuka ruang bagi mereka yang menderita untuk menerima pemberkatan langsung dari Sakramen Mahakudus—sebuah aksi nyata Gereja yang peduli, merangkul, dan membawa kesembuhan Kristus kepada sesama.

Lautan Cahaya Iman hingga Malam Hari

Kekhusukan umat dalam beriman mencapai puncaknya di Stasi Mano, di mana prosesi terus berlangsung panjang dan khidmat hingga pukul 20.00 WITA.

​Pada malam harinya, suasana berubah menjadi kian syahdu. Di setiap tempat pentahtaan, seluruh umat serentak berlutut dengan khidmat. Sambil memegang lilin yang menyala di tangan, umat melambungkan doa-doa pujian dan bernyanyi bersama. Lautan cahaya lilin di tengah kegelapan malam ini melambangkan iman yang hidup dan pengharapan yang tak kunjung padam.

​Melalui prosesi ini, umat Paroki Santo Paulus Mano tidak hanya sekadar menjalankan tradisi liturgis, tetapi secara nyata telah menghidupi dan menyukseskan program Sinode IV Keuskupan Ruteng, bergerak maju bersama sebagai Gereja yang beriman mendalam, bersaudara erat, dan diutus secara misioner.

Comments are closed.